Dr. Wahidin Soediro Husodo

Dr. Wahidin Soediro Husodo

Dalam buku Kenang-kenangannya yang diterbitkan tahun 1934, dr. Sutomo menceritakan pertemuannya dengan dr. Wahidin Soedirohoesodo pada suatu hari di akhir tahun 1907, Sutomo mengagumi cita-cita Wahidin dan usahanya untuk memajukan pendidikan bangsa. Berbicara dengan Wahidin, menurut Sutomo, akan menyebabkan orang mempunyai pandangan yang luas dan akan merasa mempunyai kewajiban yang luhur di dunia ini. Dalam bagian lain Sutomo menulis, ”Dokter Wahidin Benar, sungguh benar kalau orang mengatakan bahwa kamulah yang menjadi pelopor pergerakan kita umumnya”.
Siapakah Wahidin dan mengapa Sutomo, pendiri Budi Utomo itu mengaguminya? la dilahirkan di desa Mlati, kabupaten Sleman, kurang lebih 8 kilometer di sebelah utara kota Yogyakarta. Ayahnya bernama Hardjosoediro, seorang pegawai kesultanan Yogyakarta. Konon ia keturunan bangsawan Bugis yang meninggalkan daerahnya setelah perlawanan Sultan Hasanuddin dipatahkan Belanda dalam abad ke-12
Wahidin dibesarkan pada saat rakyat sangat tertindas sebagai akibat sistem tanam paksa yang dijalankan pemerintah Belanda sejak tahun 1830. Selain itu jumlah sekolah sangat sedikit, pemerintah Belanda menjalankan pula diskriminasi di bidang pendidikan. Tidak semua sekolah terbuka untuk anak-anak Indonesia. Selain itu kesulitan ekonomi menjadi hambatan pula. Banyak anak-anak Indonesia yang memiliki otak yang cerdas, tidak mampu membiayai sekolahnya.
Wahidin sendiri beruntung memasuki ELS (Europeesche Lagere school) berkat bantuan kakak iparnya Frits Kohle, seorang Belanda. Tamat dari ELS ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dokter Jawa di Jakarta. Lama pelajaran di sekolah ini hanya tiga tahun. Lulusan Sekolah Dokter Jawa belum dapat dianggap sebagai Dokter dalam arti yang sesungguhnya, mungkin hanya sebagai pembantu dokter, Sekolah Dokter Jawa inilah yang kelak berkembang menjadi STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Arisen).
Setelah menamatkan Sekolah Dokter Jawa dalam waktu hanya 22 bulan, wahidin diangkat sebagai pembantu pengajar yang disebut assistent leeraar. Ia tetap tinggal di Jakarta dan berhak memakai gelar dokter Jawa. Selain itu ia bertugas masuk kampung keluar kampung memberikan penerangan kepada penduduk tentang kesehatan dan sekaligus memberikan pengobatan seperlunya. Dalam menjalankan tugas tersebut, Wahidin dapat mengenal secara lebih banyak dan lebih mendalam keadaan rakyat yang sesungguhnya, kesengsaraan dan penderitaan mereka. Hal itu meningkatkan rasa perikemanusiaannya, karena ia sendiri juga berasal dari rakyat kecil. Sejak bertugas sebagai dokter ia banyak menolong rakyat. Wahidin tidak mau menerima pembayaran dari rakyat kecil yang berobat padanya.
Keadaan rakyat yang bodoh, miskin dan terbelakang menarik perhatian Wahidin. Ia ingin sekali membantu mereka dengan jalan memberikan pendidikan dan pengajaran. Hanya dengan pendidikan dan pengajaran, demikian menurut Wahidin, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan itu akan dapat dihilangkan. Dengan cara demikian rakyat akan maju dan dengan tercapainya kemajuan maka rakyat akan merasakan diri mereka sebagai manusia yang wajar, bukan lagi sebagai manusia yang terjajah.
Dari Jakarta Wahidin pindah ke Yogya dan bekerja sebagai dokter Pakualaman. Dari Pakualaman ia memperoleh gelar Mas Ngabei hingga nama lengkapnya menjadi Mas Ngabei Wahidin Soedirohoesodo. Disamping itu pula ia tetap menjalankan praktek untuk umum. Selama bertugas di Yogya ini. Wahidin mengembangkan pergaulannya dengan lingkungan yang lebih luas. Ia bersahabat bukan saja dengan orang-orang Indonesia, tetapi juga dengan orang-orang asing. Dengan golongan muda pun ia menjalin hubungan yang akrab. Para pemuda dianjurkannya agar rela berkorban untuk kemajuan bangsa. Betul ia tidak mengobarkan semangat untuk merebut kemerdekaan. Tetapi dari ucapannya, ”Apabila kita sama-sama meludah, pasti Belanda akan tenggelam didalam lautan ludah kita”, dapat diketahui bahwa Wahidin pun mengharapkan berakhirnya penjajahan Belanda.
Sejalan dengan keinginannya untuk memajukan pendidikan, maka perhatian Wahidin tertuju kepada anak-anak yang cerdas. Kepada anak-anak yang demikian, tak segan-segan ia memberikan bantuan uang untuk biaya sekolah. Salah seorang anak yang dibiayai dan kemudian menjadi anak angkatnya ialah Mulyotaruno yang kemudian berhasil menyelesaikan pendidikan di GHS (Geneeskundige Hoge School – Sekolah Tinggi Kedokteran) dan karena itu memakai titel dokter.
Gagasan Wahidin mengenai pendidikan mula-mula diutarakan melalui tulisan-tulisan dalam majalah dan koran. Kemudian pada tahun 1894 ia menerbitkan dan memimpin sendiri majalah berbahasa Jawa Retno Dumilah. (Ratna cemerlang sebagai dian penerang) yang memuat tulisan-tulisan mengenai kebudayaan, filsafat dan sebagainya. Penulis utamanya adalah dr. Rajiman Widyodiningrat dan Wahidin sendiri. Majalah itu mendapat sambutan dan perhatian cukup besar diantara kaum terpelajar. Majalah Retno Dumilah disusul dengan terbitnya majalah Guru Desa; juga berbahasa Jawa. Majalah ini memuat berbagai pelajaran praktis dan pengetahuan populer Guru Desa, bukanlah majalah yang memuat berita-berita mengenai guru, tetapi memuat pengetahuan yang berguna untuk rakyat desa. Sasaran yang ingin dicapai Wahidin dengan majalah ini ialah untuk mencerdaskan rakyat desa yang jumlahnya sangat banyak dan masih terbelakang.
Penerbitan majalah itu merupakan tahap pertama dari perjuangan Wahidin. Pada tahap berikutnya ia berusaha mendirikan sebuah badan yang akan memberikan bea siswa bagi anak-anak Indonesia yang cerdas, tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya. Untuk keperluan mendirikan badan itu, pada tahun 1906 – 1907 Wahidin mengadakan perjalanan keliling tanah Jawa.
Diberbagai tempat ia mengadakan pertemuan dengan para pembesar dan pegawai negeri dengan izin asisten residen sebagai kepala daerah setempat. Tidak semua asisten residen menyetujui maksud Wahidin. Ada yang mempersulit, ada yang menolak sama sekali, bahkan ada yang menghina Wahidin. Sekali peristiwa, dokter tua itu harus duduk bersila dihadapan asisten residen dan berbicara bahasa Jawa halus (kromo) untuk memperoleh ijin mengadakan pertemuan dengan para pembesar dan pegawai negeri. Hal itu dilakukannya dengan ikhlas demi cita-citanya. Akhirnya asisten residen menyetujui maksudnya, bahkan memberi kesempatan Wahidin berbicara didalam konperensi pamong praja. Usahanya ada yang berhasil, dan adapula yang kurang berhasil. Bupati Serang, Akhmad Jayadiningrat yang terkenal berani dan maju, menyetujui dan menyanggupi bantuan kepada dr. Wahidin. Di Bogor usahanya yang dibantu oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang waktu itu tinggal di sana kurang berhasil. Yang berkunjung pada pertemuannya tidak banyak, yang banyak hadir adalah para siswa sekolah pertanian.
Dr. Wahidin berkeliling pulau Jawa untuk kepentingan masyarakat dan hari depan bangsa. Semua ongkosnya ditanggungnya sendiri. Ia naik kereta api kelas tiga, menggunakan pula kendaraan kereta berkuda, dan selebihnya berjalan kaki. la bermaksud mengunjungi semua keresidenan di pulau Jawa yang berjumlah 23, namun baru sampai 17 keresidenan ia kehabisan bekal. Oleh karenanya ia terpaksa kembali ke Yogyakarta. Ia gadaikan rumah dan pekarangannya untuk bekal meneruskan usahanya.
Dengan tidak memperhitungkan susah payah dan biaya yang di luar kemampuannya, dr. Wahidin melanjutkan maksudnya mendirikan Badan Bea-siswa. Akhimya berhasil pula dan Badan Beasiswa yang diberi nama ”Darmo-woro” dapat didirikan pada tanggal 25 Oktober 1913 dengan teman-temannya yang duduk di dalam pengurus, yakni, Pangeran Notodirojo dari Pakualaman, R.Ng. Dwidjosewoyo, R. Sosrosugondo, keduanya dari Sekolah Guru Yogyakarta, dan R.M. Budiardjo. Pada mula berdirinya ”Darmoworo” sudah harus membantu pembiayaan sekolah siswa-siswa yang dianggapnya cerdas, padahal uang belum ada. Oleh karena itu sebagai modal permulaan, dr. Wahidin menjual 4 bendi (kereta kuda)-nya dan 18 ekor kudanya. Semuanya itu ia lakukan dengan penuh keikhlasan, bahkan dengan rasa kepuasan hati. Karena cita-citanya mendirikan Badan Beasiswa sudah tercapai, ia berkata, ”Hati saya ikhlas kalau sekarang, sewaku-waktu saya dipanggil menghadap Tuhan”.
Benih yang disebar Wahidin ternyata mendapat tempat yang subur dikalangan para pelajar STOVIA. Pada akhir tahun 1907 Wahidin mengadakan propaganda di Jakarta. Dua orang pelajar STOVIA Sutomo dan Suraji datang menemuinya. Kedua pelajar yang masing-masing masih berumur di sekitar 20 tahun itu sangat tertarik dengan cita-cita Wahidin. Rasa kagum Sutomo itu diutarakannya secara langsung kepada Wahidin dalam pertemuan tersebut sebagai berikut, ”Punika satunggaling padamekm ingkang sae sarta nelakakan budi utami”. (Itu adalah perbuatan baik dan menunjukkan budi yang utama).
Sutomo dan Suraji menghubungi teman-teman mereka para pelajar STOVIA. Mereka membicarakan cara-cara mewujudkan cita-cita Wahidin. Mereka sependapat bahwa cita-cita itu harus didukung oleh masyarakat luas. Caranya ialah dengan mendirikan organisasi sebagai ikatan cita-cita. Pada tanggal 20 Mei 1908 para pelajar STOVIA mengadakan pertemuan di sebuah ruangan sekolah tersebut. Pertemuan dipimpin oleh Sutomo. Dalam pertemuan yang bersejarah itulah didirikan organisasi yang diberi nama ”Budi Utomo” (BU). Hari lahir Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Had Kebangkitan Nasional. Budi Utomo adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia.
Bila dilihat dari tujuannya, maka Budi Utomo melebihi dari apa yang mungkin terpikirkan oleh Wahidin. BU tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, tetapi juga di bidang ekonomi dan kebudayaan. BU kemudian di akui sebagai pelopor lahirnya organisasi lain, bahkan partai-partai politik di kemudian hari. Pada hakekatnya kelahiran BU itu diilhami oleh gagasan Wahidin, karena itulah Sutomo mengatakan bahwa Wahidin adalah pelopor Pergerakan Nasional Indonesia.
Budi Utomo mendapat sambutan yang cukup luas di kalangan masyarakat. Sutomo menghubungi kawan-kawannya para pelajar di sekolah-sekolah lain di berbagai kota. Dengan demikian berdirilah cabang-cabang Budi Utomo antara lain di Bogor, Bandung dan Yogyakarta, cabang Yogyakarta berdiri tanggal 29 Agustus 1908 dan diketuai oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo. Pada waktu diselenggarakan kongres I Budi Utomo bulan Oktober 1908 di Yogyakarta, Wahidin di tunjuk menjadi ketua panitia kongres. Kongres memilih pengurus baru dan Wahidin terpilih sebagai wakil ketua.
Di hari tuanya Wahidin dapat merasa puas dan bahagia karena cita-citanya tercapai. Benih yang ditaburnya ternyata tumbuh dengan subur.
Dalam hidupnya dr. wahidin menikah dengan wanita Betawi (Jakarta) yang bernama Anna. Perkawinannya membuahkan dua orang putera, yaitu, 1. Abdullah Subroto, pelukis terkenal; dan 2. Suleman Mangunhusodo dokter kasunan Surakarta. Cucu dr. Wahidin berjumlah 9 orang, 2 orang pria dan 7 orang wanita. Dua orang pelukis kenamaan Sujono Abdullah dan Basuki Abdullah adalah putera Abdullah Subroto, cucu dr. Wahidin demikian pula seniwati-pematung Trijotho adalah adik 2 orang pelukis tersebut. Dokter Suleman Mangunhusodo, putera kedua dr. Wahidin menurunkan 3 orang puteri, semuanya bersuamikan dokter.
Wahidin Soedirohoesodo, dokter Jawa yang sebagian besar usianya dihabiskannya untuk membantu rakyat kecil guna meningkatkan kecerdasan mereka, meninggal dunia tanggal 26 Mei 1917 di Yogyakarta. Jenazahnya di kebumikan di desa Melati, tempat kelahirannya. Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya yang telah disumbangkannya. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 088/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973 dr. Wahidin Soedirohoesodo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.