Teuku Umar

Teuku Umar bwDalam sejarah peperangan di Hindia Belanda maka perang Aceh adalah perang yang amat berat bagi Belanda. Di Aceh Belanda menghadapi para pejuang yang bersemangat gigih dan memiliki kepercayaan diri yang besar.
Perang Aceh yang berkepanjangan hingga 40 tahun menunjukkan ketekunan, ketangkasan, keberanian dan kegigihan baik bagi pasukan Belanda maupun pejuang Aceh. Di pihak Aceh, bermunculan tokoh-tokoh pejuang dan pahlawan yang namanya diabadikan dalam Sejarah Nasional. Salah seorang diantaranya ialah Teuku Umar.
Teuku Umar lahir dalam tahun 1854 di Meulaboh. Ayahnya bernama Teuku Mahmud, dan ibunya seorang adik Raja Meulaboh. Teuku Mahmud adalah saudara Nanta Setia, Ulebalang di VI Mukim, ayah Tjut Nyak Dhien ymg kemudian kawin dengan Teuku Umar. Mereka itu keturunan perantau dari Minangkabau yang datang di Aceh pada akhir abad ke-17.
Di waktu mudanya Umar lebih banyak mengikuti kemauannya sendiri dan tidak mau tunduk kepada siapapun. la suka berkelahi dan berkelana di hutan-hutan Aceh Barat dengan membawa kelewang dan tombak yang panjangnya sama dengan tinggi tubuhnya.
Dalam usianya yang masih muda ia menduduki jabatan kepala kampung Darat. Tiap hari ia dikelilingi oleh orang-orang pemberani, khususnya bekas prajurit. Ia ciptakan suasana kewiraan karena mendambakan menjadi pahlawan yang berani dan tangguh. Kemauannya sepanjang hayatnya pun serba keras pula. Ia hidup hanya sampai umur 45 tahun, dan dari seluruh umurnya itu 19 tahun disumbangkan untuk perjuangan. Mula-mula ia melawan Belanda, namun kemudian berbalik membantu Belanda dan akhirnya kembali ke pangkuan perjuangan rakyat hingga akhir hayatnya. Semasa hidupnya ia kawin tiga kali. Tjut Nyak Dhien, puteri pamannya, Nanta Setia adalah isterinya yang ketiga.
Waktu perang Aceh meletus pada tahun 1873, Umar berusia 19 tahun. Ia segera terjun kedalam perjuangan bersenjata dan menunjukkan keberanian dan ketangkasanny a. Mula-mula ia berjuang di kampungnya sendiri. Ia menjadi kepala kampung, yaitu kampung Darat daerah Meulaboh. Daerah pertempurannya meluas di seluruh Meulaboh sehingga Belanda mengerahkan pasukannya untuk merebut kampung Darat yang merupakan markas besar Teuku Umar. Pertahanan Umar amat kuat dan tidak mudah Belanda menundukkannya. Baru setelah kampung Darat ditembaki meriam dari kapal yang berlabuh dipantai dan sesudah pertempuran sengit ditepi pantai, kampung Darat dapat diduduki Belanda pada bulan Pebruari 1878. Teuku Umar lalu bergerak ke Aceh Barat dan meneruskan perjuangannya di daerah itu.
Pada akhir 1875 Teuku Umar datang di VI Mukim dan bertemu dengan Ulebalangnya, yakni Nanta Setia. Dia adalah paman Teuku Umar waktu itu pamannya telah mundur dari daerahnya yang diduduki Belanda. Dalam perang gerilya di Sela, menantu pamannya Ibrahim Lamnga, gugur. Umar sempat menghadiri upacara pemakamannya. Kemudian ia membantu pamannya dalam merebut kembali VI Mukim dan berhasil pula. Ia tinggal di sana dan pada tahuri 1880 mengawini puteri pamannya, janda Ibrahim Lamnga, yaitu Tjut Nyak Dhien. Selanjutnya Tjut Nyak Dhien ikut giat dalam perang. Dalam tahun 1882 Umar dibantu isterinya melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda yang berada di Krueng.
Dalam menghadapi Belanda rakyat Aceh terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, golongan yang sama sekali tidak mau tunduk ataupun bekerjasama dengan Belanda. Golongan ini disebut golongan Sabilillah. Dasar perjuanganya kecuali memusuhi Belanda yang hendak menjajah Aceh, pun memusuhinya karena Belanda itu golongan kafir. Para pemimpinnya yang Mashur dari golongan ini ialah Teuku Umar, Tjik Di Tiro, Panglima Polim dan Tjut Nyak Dhien, isteri Teuku Umar.
Golongan ke dua ialah yang mau tunduk dan mau bekerja sama dengan Belanda, tetapi kemudian berbalik memihak lagi kepada rakyat. Dalam hal ini dapat disebut Teuku Umar yang bahkan hingga dua kali berbolak-balik tunduk kepada Belanda Kemudia memusuhinya. Adapun Teuku Umar tunduk kepada Belanda dengan perhitungannya yang khas, yaitu untuk dapat merebut senjata dan peralatan perang. Manakala maksud itu sudah dapat dilakukannya, ia lari dengan pasukannya dan kembali berjuang di pihak rakyat.
Golongan yang ke tiga ialah yang mau tunduk kepada Belanda. Kebanyakan karena kelemahannya dan merasa kewalahan menghadapi musuh yang persenjataannya lengkap dan lebih unggul dari persenjataan rakyat. perhi­tungannya, mustahil Belanda dapat dikalahkan oleh persenjataan rakyat yang serba kurang.
Tingkah laku Teuku Umar dalam perjuangan amat sulit diterka. Tjut Nyak Dien, isterinya, menjadi kebingungan, malu dan marah waktu Umar memihak kepada Belanda. Demikianlah, karena ia terkenal sebagai wanita pejuang yang tidak mengenal damai dengan musuh. Untuk pertama kalinya Umar berbalik kepada Belanda justru waktu ia pada tahun 1883 tinggal di rumah isteri bersama ayahnya. Tjut Nyak Dhien amat sedih menghadapi perbuatan suaminya itu.
Belanda banyak sekali salah perhitungan, karena mengira Aceh sudah dikuasainya waktu istana sultan didudukinya pada tahun 1874, padahal rakyat di luar istana melawan terus dan sultan pun mengungsi untuk mengatur perlawanan. Belanda menempatkan Aceh Besar langsung dibawah pemerintahan sipil Belanda, padahal situasi seluruh Aceh Besar sama sekali tidak menggambarkan keamanan. Perlawanan di Aceh besar tetap berkobar. Bahan makanan dan perlengkapan senjata yang didatangkan dari luar Aceh Besar banyak yang jatuh di tangan pejuang. Oleh karenanya Belanda memperkeras pengamanannya, terutama di bandar pantai Aceh Utara, Ulehleh, Sigli dan Samalanga.
Pada bulan November 1884 kapal Inggris Nisero terdampar di pantai Tcunom, Aceh Barat. Raja Teunom, Teuku Imam Muda melawan semua awak kapal dan menyita muatannya. Inggris dan Belanda tidak dapat menyelesaikannya, meskipun mengirim kapal perang Inggris ”Pegagus” untuk mengancam Raja Teunom. Akhirnya hanya dapat diselesaikan dengan mem-bay ar tebusan 100.000 dolar. Itu pun dengan bantuan Teuku Umar yang diminta oieb Gubernur Laging Tobias. Waktu itu Umar memang sedang memihak kepada Belanda, sejak tahun 1883 seperti tersebut di atas. Belanda mengirim Umar dengan 32 orang anak buah Teunom untuk membereskan soal tersebut. Di tengah jalan, pendayung sampan yang membawa Teuku Umar dibunuhnya semua. Semua senjata dan amunisi disita dan Teuku Umar lari untuk kembali kepada perjuangan rakyat.
Setelah melarikan diri dari Belanda, pada tanggal 14 Juni 1886 Teuku Umar menyerang kapal Hok Canton milik Belanda dengan nakhoda Hans, orang Denmark. Umar menyerang kapal itu, karena ia menduga bahwa nahkodanya akan menangkap dirinya. Dalam pertempuran itu nakhoda tersebut tewas, kemudian kapal diserahkan kepada Belanda dengan uang tebusan sebesar 25.000 ringgit.
Uang tebusan itu segera dibagi-bagikan oleh Teuku Umar kepada anak buahnya yang berjasa menolong dia dalam melaksanakan penyerangan di kapal asing itu. Keberanian Teuku Umar menyergap kapal asing yang dipersenjatai, dipuji dan dikagumi oleh rakyat Aceh.
Penyair Aceh kenamaan Dokarim mempersembahkan suatu syair untuk Teuku Umar, dan syarat itu merupakan santapan rohani yang berharga sekali. Karena ulama juga ikut membacakan doa selamat untuk Umar, karena keberaniannya itu.
Teuku Umar kemudian mengirimkan utusannya kepada Sultan Daud, dan kepada Sultan Aceh itu Teuku Umar mempersembahkan uang sebanyak 300 dollar. Begitupun kepada Teuku Tjik Di Tiro ia pun mengirimkan uang sebanyak itu sebagai modal perjuangan.
Teuku Tjik Di Tiro yang dahulu tidak menyetujui kebijaksanaan Teuku Umar, mengagumi keberanian panglima ini, dan itulah sebabnya beliau mengajak Teuku Umar untuk memimpin barisan Aceh melawan Belanda. Sultan Daud kemudian mengangkat Teuku Umar menjadi Syahbandar di kerajaan Aceh bagian Barat, yang menyebabkan Teuku Umar tambah terkenal. Ia sering melawan Ulebalang yang merugikan rakyat dan sebaliknya Teuku Umar melakukan kewajibannya sebagai penguasa laut.
Setelah lebih dari 10 tahun berperang di Aceh, Belanda meyakini, bahwa Aceh tidak dapat ditundukan oleh kekuatan senjata. Pertempuran terus menerus terjadi di mana-mana. Di daerah XXVI Mukim rakyat dipimpin oleh Teuku Asan; di Aceh Timur, Langkat dan Tamiang di bawah pimpinan Nyak Makam. Belanda berusaha mendekati Teuku Tjik Di Tiro, tetapi sama sekali gagal karena pemimpin pejuang Aceh ini berpendirian Sabilillah.
Sementara itu di Aceh telah datang Dr. Snouck Hurgronje yang menyamar dengan nama Abdul Gafur, bertempat tinggal di tengah-tengah rakyat, yaitu Peuken Aceh. Kehadirannya mula-mula tidak disetujui oleh Gubernur Aceh, tetapi didukung oleh pemerintah Hindia Belanda. Snouck Hurgronje dapat mengadakan hubungan dengan pemimpin-pemimpin perjuangan Aceh, karena ia faham bahasa Arab dan pernah bermukim di Mekah. Pemukimannya di Mekah adalah terutama untuk mendekati orang-orang Aceh yang bermukim di sana dan yang sedang menunaikan ibadah haji. Maksudnya ialah untuk mengetahui sikap rakyat Aceh terhadap Belanda yang sedang memeranginya. Seberapa dapat untuk melemahkan pendiriannya sekaligus membujuk agar mau tunduk kepada Belanda.
Berdasar surat-menyurat dengan Teuku Tjik Di Tiro, Snouck dapat menerangkan, bahwa sultan tidak mempunyai peran apa-apa. Yang berkuasa ialah para bawahannya. Pengaruh kaum ulama digambarkannya sebagai sangat besar. Laporan Snouck Hurgronfe itu disimpulkan oleh pemerintah Hindia Belanda, bahwa cara menundukkan Aceh haruslah dengan memecah belah kekuatan yang ada dalam masyarakat, Golongan ulama akan dihadapi dengan kekuatan senjata dan golongan bangsawan akan dibujuk masuk pangrehpraja. Semen tara itu pertahanan militernyadiperkuat dengan mengadakan garis-garis pcautup (afsluitingslinie) kurang lebih seperti sistem berbenteng-benteng yang Aserapkan dalam menghadapi Pangeran Diponegoro di masa lampau (1825 –I830). Daerah yang sudah direbutnya ditutup untuk rakyat Aceh yang membangkang. Di sanalah didirikan benteng yang kuat. Dengan demikian pejuang-pejuang digiring mundur.
Dalam usahanya merebut Aceh, Gubernur van Teijn memerlukan bantuan Teuku Umar yang diketahuinya berpengaruh besar, mempunyai jumlah anak buah yang banyak dan kuat, lagi pula dikenal cakap menjalankan tugas-tugas militer. Oleh karena itu pada bulan Januari 1888 van Teijn mengusulkan kepada Gubemur Jenderal untuk mengampuni Teuku Umar. Gubernur Jenderal menolak usul itu hingga dua kali. Kemudian atas saran Snouck Hurgronje sikap Pemerintah Hindia Belanda berobah dan terlaksanalah rencana Gubernur Aceh van Teijn untuk merangkul Teuku Umar.
Umar tidak pula menolak pemerintah Belanda agar dia masuk kembali ke dinas militer. Pada bulan Agustus 1893 di Banda Aceh diadakan upacara “Teuku Umar masuk dinas militer Belanda. la bersumpah setia di hadapan Gubernur merangkap Panglima Aceh. Teuku Umar diterima masuk dinas militer Belanda dan diberi gelar Teuku Johan Pahlawan. la diijinkan membentuk legiun (pasukan) sendiri yang beranggotakan 250 orang dengan persyaratan lengkap dan diberi tugas mengamankan daerah Aceh Besar dan Kfcitarnya.
Teuku Umar berhasil. Banyak pos-pos pertahanan rakyat Aceh yang dapat ditaklukan, yaitu yang termasuk daerah XXV Mukim dan XXVI Mukim. Dikalangan para pejuang Aceh timbul tanda tanya tentang sikap dan pendirian Teuku Umar. Tjut Nyak Dhien, isteri Umar yang tidak mau damai dengan Belanda, amat sedih dan malu serta marah sekali. la mendesak Umar agar secepatnya berbalik kepada rakyat, tetapi rupanya ia merencanakan sesuatu yang lebih menguntungkan baginya dan bagi perjuangan Aceh. la belum segera bertindak meninggalkan kedudukannya sebagai Teuku Johan Pahlawan.
Sementara itu Gubernur van Teijn digantikan oleh Deykerhoff, seorang yang tidak berpendirian keras seperti van Teijn. Gubernur baru ini tidak suka pada kekerasan. Tjut Nyak Dhien, isteri Teuku Umar makin lama semakin tidak tahan melihat sikap suaminya yang masih berada dipihak Belanda itu. Berkali-kali ia mendesak agar Teuku Umar segera mengubah pendiriannya, tetapi Teuku Umar tidak secepat diharapkan isterinya berbalik kepada rakyatnya. Ia justru menyatakan kepada Gubernur Deykerhoff, bahwa ia akan menjalankan tugasnya dengan baik. Ia sanggup mengamankan daerah VI Mukim, IX Mukim sampai Sagi XXVI, semuanya daerah-daerah pejuang Aceh dengan kekuatan yang besar. Untuk tugas yang berat itu Umar minta tambahan kekuatan manusia dan persenjataan. Dengan kepercayaan penuh dari Gubernur, Umar mendapat bantuan 17 orang panglima perang dari Aceh Barat dan 120 orang prajurit yang dulu termasuk anak buah Teuku Umar. Di antara 17 orang panglima itu terdapat Pang Leot yang amat berani dan ditakuti pasukan Belanda. Pang Leot adalah tangan kanan Umar.
Pertempuran terjadi di sana-sini. Tekanan dari pihak pejuang cukup berat sehingga Umar minta agar Belanda keluar dari lini pertahanannya, hal itu dapat dimaklumi dan permintaan Umar pun dikabulkan. Dengan demikian lini pertahanan Belanda agak diperlonggar dan dibentuklah lini kedua yang tidak terlalu kuat seperti lini yang pertama. Sementara itu rakyat Aceh makin memperkuat dirinya. Penjuang-pejuang Sabilillah bertambah tinggi semangatnya, terutama ulama Kutakarang yang tampil dengan pasukannyayang tangguh.
Pada saat yang serba memuncak itu Teuku Umar mulai memainkan sandiwaranya. Pertempurannya melawan pasukan Aceh merupakan per­tempuran sandiwara. Serbuan pasukan Umar sebentar dihadapi oleh kaum pejuang yang kemudian melarikan diri sambil melepaskan tembakan, namun tidak mengenai sasaran, melainkan menembak ke udara kosong.
Kemudian datanglah saat Teuku Umar mengakhiri sandiwaranya. Pada tanggal 30 Maret 1896 dengan resmi Teuku Umar mengundurkan diri dari dinas militer Belanda. Ia keluar dengan segenap pasukannya dan membawa 800 pucuk senjata, 23.000 butir peluru, 500 kg amunisi dan uang 18.000 dollar. Segera ia bersatu dengan pasukan pejuang Aceh, panglima Polim, ulama-ulama para Ulebalang yang juga telah menghentikan kerjasamanya dengan Belanda. Semua kekuatan dikerahkan untuk menghadapi Belanda.
Sudah tentu Belanda marah sekali, terutama Gubernur Deykerhoff yang ditolak mentah-mentah oleh Teuku Umar. Pimpinan Pemerintah Hindia Belanda di Jakarta segera bertindak. Dikirimnya van Heutsz yang datang di Aceh pada bulan Mei 1898 menggantikan Van Vliet. la merencanakan dengan matang tindakan keras terhadap pejuang-pejuang Aceh, khususnya Teuku Umar tidak diampuninya. Panglima Angkatan Darat Hindia Belanda datang di Aceh. Kepada Umar ditulisi surat untuk mengembalikan segala peralatan perang yang dibawanya. Tentu saja tidak ada jawaban hingga usaha Belanda itu gagal sama sekali. Umar dipecat dari dinas militer sebagai Panglima Besar dan Ulebalang Leupong dengan gelarnya Teuku Johan Pahlawan. Semua kedudukan dan gelar itu tidak perlu lagi bagi Umar. Yang perlu sekarang, ia menyerahkan jiwa raganya untuk Aceh dan agama Islam. Untuk itu ia tidak pernah kehilangan nyawanya. Pendiriannya mendapat penghargaan tinggi dari rakyat Aceh terutama dari Tjut Nyak Dhien, isterinya.
Perlawanan pejuang Aceh tetap berkobar, tetapi pasukan Belanda pun makin memperbesar serangannya. Barisan Aceh makin terdesak, tapi jiwa dan cita-cita perlawanan masih tetap utuh. Dalam pada itu Belanda terus menciptakan perangkap untuk menangkap Teuku Umar, tetapi harapan Belanda itu ternyata sia-sia belaka. Teuku Umar kembali ke Leupong membangkitkan kembali semangat perlawanan. Melihat kelicinan dan kehebatan Teuku Umar, Gubernur Belanda di Aceh melaporkan kepada pemerintahnya sebagai berikut:
“Meskipun Belanda bertindak terus menerus pihak Aceh tetap memberikan perlawanan Belanda belum dapat menguasai pemberontakan ini, malah api pemberontakan tetap berkobar-kobar, belum satupun keluarga bangsawan dan pejuang Aceh menyerah apalagi keluarga Teuku Umar. Teuku Umar terus memberikan perlawanan yang sengit dari Leupong, dan usaha untuk menangkap Teuku Umar hidup atau mati gagal sama sekali”.
Teuku Umar menyerang pos-pos Belanda dan merencanakan akan menyerang Meulaboh. Awal bulan Pebruari 1899 ia sudah di daerah Meulaboh dengan pengawalan yang tidak begitu kuat seperti biasanya seorang panglima perang di daerah bergolak. Hal itu diketahuinya oleh van Heutsz yang segera mengerahkan pasukannya untuk menangkap Teuku Umar, hidup atau mati.
Umar mengatur siasat dan bergerak maju, hendak cepat-cepat menguasai daerah Meulaboh. Hal itu pun tercium oleh van Heutsz sehingga pasukannya mengadakan pencegatan. Tanggal 10 Pebruari 1899 malam pasukan Teu­ku Umar sudah sampai di pinggiran Meulaboh. Dengan tidak terduga dan amat tiba-tiba pasukan van Heutsz menyerangnya dengan gencar. Teuku Umar tidak mundur setapak pun. la sendiri maju sambil memberi aba-aba pasukannya. Rupanya van Heutsz telah mendapat bala bantuan pula sehingga serangannya dahsyat sekali.
Dalam pertempuran yang sengit Teuku Umar tertembak. Dua buah peluru menembus dadanya. la gugur dalam pertempuran dengan sikap gagah berani. Pang Leot, pembantu Umar yang setia, segera menyelamatkan jenazah panglimanya, jangan sampai jatuh ke tangan musuh. Pasukannya melindungi usaha menyelamatkan jenazah Umar itu dengan bertahan dan terus bertempur. Akhirnya jenazah Teuku Umar dapat diselamatkan sampai ke pedalaman daerah Meulaboh dan dikebumikan di dekat mesjid Kampung Mugo.
Pada akhir sejarah Teuku Umar tetap bersama dengan rakyat mempertahankan Aceh dari keangkaramurkaan Belanda. Pemerintah RI dengan SK Presiden RI No. 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973 menganugerahi Teuku Umar gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.