Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol

Peto Syarif yang kemudian Jebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bondjol dilahirkan tahun 1772 di kampung Tanjung Bunga, daerah Alahan Panjang, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. la mendapat pendidikan agama dari ayahnya. Buya Nudin, dan kemudian dari beberapa orang ulama lain, seperti Tuanku Koto Tuo dan Tuanku Nan Renceh dari daerah Agam. Kabarnya ia pun pernah menuntut ilmu agama di Aceh.
Imam Bondjol tumbuh dewasa pada waktu daerah Sumatra Barat dilanda oleh perang saudara antara golongan paderi dengan golongan Adat. Golongan paderi yang dipengaruhi oleh gerakan Wahabi di Tanah Arab, berusaha membersihkan ajaran agama yang sudah banyak diselewengkan dan mengembalikannya sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Tantangan datang dari golongan adat yang melihat gerakan baru itu sebagai bahaya terhadap kedudukan mereka. Apabila gerakan paderi berhasil, maka golongan ulamalah yang akan berkuasa, padahal pada masa-masa sebelumnya golongan adatlah yang berkuasa.
Golongan adat yang merasa kedudukannya terancam, mencari bantuan pihak lain, yakni Inggris yang ketika itu menguasai pesisir barat Sumatra. Usaha mereka tidak berhasil, bahkan sebalikny a Inggris menjual senjata kepada golongan paderi. Situasi menjadi berubah ketika pesisir barat Sumatra, sesuai dengan Perjanjian London, dikembalikan kepada Belanda. Dalam perjanjian tahun 1821 antara Belanda dan golongan adat, Belanda berjanji akan membantu golongan adat untuk memerangi paderi. Sepasukan tentara Belanda akan ditempatkan di pedalaman Sumatra Barat. Pada waktu sebelumnya, Belanda hanya berkuasa di daerah pesisir. Dengan perjanjian tahun 1821, maka Belanda melancarkan perang kolonial di Sumatra Barat. Pertempuran pertama berkobar di Sulit Air, dekat danau Singkarak, dan kemudian berkobar di tempat-tempat lain dalam waktu yang cukup lama.
Sementara itu Imam Bonjol sudah tumbuh menjadi ulama terkemuka di daerah Alahan Panjang dengan pusatnya Bonjol. Dalam pertentangan antara golongan paderi dengan golongan adat, Imam Bonjol berdiri di pihak paderi. Dalam usahanya mengembangkan faham paderi, ia lebih banyak menjalankan cara persuasi, karena itu pertentangan antara kedua golongan itu di daerah Alahan panjang tidak terjadi sehebat di daerah-daerah lain. Bahkan Imam Bonjol berhasil pula mengembangkan agama Islam ke beberapa daerah di Tapanuli Selatan.
Pertempuran yang terjadi antara paderi dengan Belanda dengan sendirinya melibatkan Imam Bonjol. Bantuan dikirimkannya dari Bonjol ke daerah Agam dan Tanah Datar. Sebagian pasukan diperintahkannya bergerak ke daerah pesisir antara Pariaman dan Air Bangis untuk menguasai wilayah tersebut. Tujuan siasat itu ada dua; pertama, agar perdagangan antara daerah Alahan Panjang dengan pedagang-pedagang Aceh tetap berjalan lancar, dan kedua, agar tetap dapat berhubungan dengan Inggris dalam hal pembelian senjata. Gerakan pasukan Imam Bonjol ke pesisir cukup membahayakan bagi Belanda. Oleh karena itu dalam tahun 1824 Belanda mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol.
Dalam perjanjian yang disebut ”Perjanjian Masang” itu Belanda mengakui Tuanku Imam Bonjol sebagai penguasa daerah Alahan Panjang. Belanda berjanji tidak akan menggunakan kekerasan di daerah-daerah lain di Sumatra Barat dan untuk setiap tindakannya mereka akan membicarakan lebih dahulu dengan Tuanku Imam Bonjol.
Tetapi sebelum tinta tanda tangan perjanjian itu kering, Belanda sudah melancarkan serangan terhadap Pandai Sikat. Menghadapi kecurangan Belanda itu, Imam Bonjol tidak lagi merasa terikat oleh ”Perjanjian Masang”. Maka ia lalu memperkuat pertahanan daerah Alahan Panjang dan mengirimkan pasukan-pasukan untuk membantu daerah-daerah lain yang diserang oleh Belanda dengan semena-mena.
Bersamaan dengan terjadinya Perang paderi itu, di Jawa, Belanda meng­hadapi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Untuk memperkuat barisannya di Jawa Tengah, Belanda menarik pasukannya sebagian yang di Sumatra Barat. Oleh karenanya lalu tidak ada lagi per­tempuran yang berarti. Kedua belah pihak bertahan di dalam posisinya masing-masing.
Setelah perang di Jawa berakhir (1830), dengan ditipunya Pangeran Diponegoro dalam suatu perundingan, maka Belanda kembali memusatkan perhatian dan kekuatannya di Sumatra Barat. Pertempuran berkobar lagi, bahkan lebih sengit dari yang terdahulu. Daerah-daerah yang antara tahun 1821-1825 tidak berhasil direbut Belanda, sekarang jatuh di tangan mereka dengan korban di kedua belah pihak yang cukup besar. Dalam tahun 1832 kedudukan kaum paderi makin terdesak. Hampir seluruh daerah Tanah Datar, Again, dan Limapuluh Kota jatuh ke tangan Belanda. Dalam bulan September pada tahun yang sama, Bonjol pun diduduki pula oleh Belanda. Imam Bonjol menyingkir ke Lubuk Sikaping, tetapi kemudian kembali ke Bonjol dan hidup sebagai rakyat biasa.
Setelah Belanda berkuasa, maka pasukannya berbuat hal-hal yang me-ngecewakan rakyat, bahkan menyakitkan hati mereka. Rumah penduduk ditempati dengan cara paksa oleh Pasukan Belanda, sedangkan mesjid digunakannya sebagai tangsi militer. Tindakan demikian itu makin hari makin menjadi-jadi dan kekecewaan serta sakit hati rakyat pun makin meningkat. Maka diadakan pertemuan di antara pemuka untuk berkumpul di Tandikat dan memutuskan akan memberontak kepada Belanda. Kesepakatan memberontak ini secara cepat disampaikan pula ke Iain-lain daerah. Lalu disusunlah rencana untuk melancarkan pembcrontakan di seluruh Sumatra Barat.
Pemberontakan itu akan direncanakan pada tanggal 11 Januari 1833, tetapi di daerah-daerah lain rencana itu keburu tercium oleh Belanda. Dengan cepat Belanda berhasil mencegah timbulnya pembcrontakan dibeberapa daerah. Beberapa orang pemuka, antara lain Sultan Bagagarsah yang sudah diangkat oleh Belanda menjadi Regent (Bupati) Tanah Datar, ditangkap lalu dibuang ke Jakarta.
Dini hari tanggal 11 Januari 1833 penduduk menyerang dan membunuh tentara Belanda yang berada di masjid Bonjol. Kemudian serangan dilancarkan kepada pos-pos tentara Belanda di daerah Alahan Panjang.
Serangan-serangan rakyat itu amat mencemaskan Belanda. Mereka lalu memusatkan perhatian untuk merebut Bonjol kembali dan sekaligus menundukkan Tuanku Imam Bondjol. Gubernur Jcnderal Van Den Bosch datang di Sumatra Barat. la mengatur sendiri siasat untuk menyerang Bonjol dari tiga jurusan, yaitu dari arah Bukit Tinggi. dan arah Pariaman, dan dari arah Tapanuli Selatan.
Serangan dari Bukit Tinggi dipimpin Van Den Bosch, tetapi pasukannya tidak berhasil menembus pertahanan rakyat di Pantar dan Matur. Pasukan Belanda dari arah Pariaman pun hampir-hampir tidak dapat bergerak. Pasukan yang menyerang dari arahTapanuli Selatan berhasil menduduki Bonjol, tetapi posisi mereka terjepit. Mereka dipukul oleh pasukan paderi.
Karena gagal di bidang militer, Belanda menempuh cara lain. Pada tanggal 25 Oktober 1833 mereka mengumumkan maklumat yang dikenal dengan nama ”Palakat Panjang”. Isinya mengajak berdamai dan untuk itu penduduk harus menghancurkan benteng pertahanan mereka. Entah karena apa, maklumat itu diterima oleh sementara penduduk Sumatera Barat. Akibatnya rakyat menjadi lengah dan lemah karena pertahanan diabaikannya
Dalam pada itu Imam Bonjol sendiri tetap waspada. la tidak mau percaya lagi pada Belanda setelah pengalamannya dengan ”Perjanjian Masang” yang dikhianati oleh Belanda dengan seenaknya sendiri. Oleh karena itu beliau justru memperkuat pertahanan di Bonjol, khususnya bentengnya, Bukit Tajadi dijadikan benteng kedua yang melindungi Bonjol. beberapa puncuk meriam ditempatkan disana dengan pasukan yang dipimpin oleh puteranya sendiri. Pintu-pintu masuk ke daerah Alahan Panjang dikawal dengan ketat.
Dan apa yang diduga oleh Imam Bondjol kemudian benar dan sungguh terjadi. Dalam tahun 1834 pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer menyerang Pantar dan Matur, sedangkan pertahanannya yang semula kuat sudah diabaikan oleh rakyat. Belanda berhasil menebus kekalahan Van Den Bosch. Dari sana pasukan Belanda lalu bergerak ke Sungai Puar. Perjalanan itu memakan waktu beberapa bulan dengan mengalami perlawanan kaum paderi yang hebat hingga jatuh banyak korban, sebelum mereka mencapai Sipisang dan berhasil merebutnya. Dengan menguasai Sipisang itu, terbukalah pintu ke Bonjol, namun menaklukkan Bonjol bukanlah pekerjaan yang mudah.
Tuanku Imam Bonjol menyadari posisinya yang makin sulit. la harus bertahan di daerah yang sempit itu, sementara perlawanan di daerah lain sudah lumpuh. Keadaannya cukup berat, karena ia harus bertahan dengan pasukan yang sudah letih dan dengan senjata yang seadanya saja. Meskipun demikian Imam Bonjol teguh pendiriannya. Ia tidak mau menyerah, walaupun Belanda beberapa kali menyampaikan keinginannya untuk merundingkan perdamaian.
Untuk mengurangi tekanan Belanda terhadap Bonjol, Imam Bonjol mengirim utusan ke beberapa daerah untuk menyalakan api pemberontakan. Pemberontakan yang kecil-kecil di daerah-daerah itu tidak seberapa artinya, namun berhasil memecah perhatian dan kekuatan Belanda.
Dalam tahun 1836 Bonjol makin terkurung. Beberapa negeri kecil di sekitarnya sudah jatuh di tangan Belanda. Bantuan dari daerah-daerah hampir tidak dapat lagi diharapkan. Imam Bondjol sekarang harus berjuang seorang diri dalam daerahnya yang makin bertambah sempit. Bahan makanan sudah menipis, dan pasukannya sudah terlalu letih.
Walaupun demikian, Tuanku Imam Bonjol tidak mau menyerah. Tuanku Imam Bondjol tetap mengobarkan semangat rakyat. Dikatakan bahwa Belanda datang untuk menjajah rakyat Minangkabau. Agama Islam akan dihapuskan oleh pemerintahan Belanda, karena itu rakyat harus mempertahankannya dengan penuh semangat. Akibat pengobaran semangat ini, maka tidak jarang di daerah pendudukan Belanda sekali pun pecah perlawanan.
Sementara itu pasukan Belanda tetap mencurahkan perhatian untuk merebut benteng Bonjol. Meriam-meriam Belanda mulai ditembakkan ke dinding benteng Bonjol dan menimbulkan kerusakan di sana sini. Sekarang kedudukan Belanda hanya beberapa ratus meter lagi dari benteng Bonjol. Meskipun demikian masih belum mudah mereka merebut benteng, karena pasukan paderi yang di dalam benteng gigih melawan dan bertahan. Sementara itu dari benteng Bukit Tajadi meriam-meriam paderi memuntahkan pelurunya menuju sasarannya, yaitu pasukan Belanda yang sudah dekat dengan benteng Bonjol.
Usaha Belanda ditingkatkan, namun gagal pula. Akhirnya dinihari tanggal 4 Desember 1836 pasukan Belanda berhasil menyusup ke dalam benteng Bonjol melalui dinding benteng yang sudah jebol karena tembakan meriam mereka. Pada waktu itu pasukan gerilya paderi sedang beroperasi menyerang pos-pos Belanda yang terpencil. Maka di dalam benteng tidak ada pertahanan yang cukup tangguh. Penyusupan pasukan Belanda mencapai sebuah rumah yang didiami oleh beberapa orang wanita termasuk isteri Tuanku Imam Bonjol. Segera wanita-wanita itu membangunkan Imam Bondjol yang sedang tidur di rumah lain.
Dengan disertai puteranya, Umar AH, pemimpin kaum padri itu berlari-lari akan menghadapi lawannya. Kedatangannya segera disambut dengan tembakan. Puteranya, Umar Ali, terluka pada pahanya dan terpaksa mundur. Tuanku Imam Bondjol yang waktu itu sudah berusia 64 tahun tinggal seorang diri menghadapi lawannya yang banyak dan masih berusia muda. Orang tua ini mengayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Dengan kekuatannya yang ada dan kemahirannya berpencak-silat ia berusaha mendesak lawannya hingga pada suatu saat ia terluka dan rebah.
Seorang serdadu Belanda sudah siap menghujamkan tombaknya kepada Imam Bonjol, tetapi orang tua ini mendadak bangkit kembali dan berhasil mengelakkan tusukan tombak musuh, bahkan akhirnya ia masih mampu mendesak lawannya sampai keluar benteng hingga akhirnya mereka mundur. Kemenangan Imam Bondjol itu harus ditebusnya dengan sebanyak tiga belas luka pada tubuhnya yang sudah rapuh.
Komandan tentara Belanda, Mayor Jenderal Cleerens menjadi penasaran. Pagi hari itu ia memerintahkan pasukannya untuk menyerang benteng. Mereka disambut oleh pasukan paderi yang sudah berpakaian serba putih dengan tembakan gencar. Kemudian pasukan Belanda berhasil mencapai dinding benteng. Ketika itu terjadilah kekacauan di kalangan tentara Belanda, sebab sebelum ada perintah, pasukan belakang melepaskan tembakan dan mengenai teman-temannya sendiri yang di barisan depan. Dalam keadaan demikian pasukan paderi pun terus menghujani mereka dengan tembakan. Dalam puncak kekacauan tentera Belanda, Cleerens memerintahkan pasukannya mundur.
Kegagalan Belanda menundukkan sebuah negeri kecil yang berbenteng dari tanah liat itu telah menyebabkan pimpinan Angkatan Perang Belanda malu dan sekaligus marah. Ia lalu datang ke Sumatera Barat dan terlebih dahulu mempelajari situasinya. Oleh karena kegagalannya, maka Cleerens di ganti oleh Letnan Kolonel Michiels. Pasukan barupun didatangkan pula.
Sementara itu Imam Bonjol tidak tinggal diam. Dengan pasukannya yang kecil jumlahnya ia tetap bertahan. Ia memerintahkan membuat parit di sekeliling benteng dan dialiri air. Pekerjaan itu mengandung resiko, orang-orang yang menggali parit mungkin akan ditembaki oleh pasukan Belanda, namun usaha itu berhasil.
Michiels, komandan tentara Belanda yang baru, setelah mempelajari situasi sampai kepada kesimpulan, bahwa untuk merebut benteng Bonjol, harus dikuasai lebih dahulu benteng di Bukit Tajadi. Oleh karenanya ia segera mengubah siasat. Pasukan yang cukup besar jumlahnya ditempatkan di muka benteng Bonjol untuk memberi kesan seolah-olah Bonjol akan diserang dengan besar-besaran. Pada waktu yang sama pasukan Belanda menyusup ke Benteng Bukit Tajadi melewati hutan-hutan di belakang bukit itu. Pasukan paderi di benteng Bukit Tajadi bertahan pula, namun akhirnya benteng jatuh di tangan musuh.
Pagi hari tanggal 1 Agustus 1837 dari benteng Bukit Tajadi dilepaskan tembakan meriam, tetapi tidak kepada pasukan Belanda melainkan langsung ke benteng Bonjol. Itulah tembakan Belanda dari benteng Bukit Tajadi yang sudah didudukinya.
Akhirnya Imam Bonjol manyadari bahwa benteng Bonjol makin terancam, Maka tidak ada pilihan lain lagi baginya kecuali meninggalkan Bonjol untuk menyingkir ke lain tempat dan mengatur siasat lebih lanjut. Imam Bonjol menyingkir ke Marapak dan di sini ia mencoba menyusun kekuatan pula, namun tak mencapai seperti yang diharapkan. Pasukan paderi makin mengecil jumlahnya dan lemah dengan persenjataan yang tidak pula memadai. Beberapa pimpinan paderi terjepit dan menyerah kepada musuh, termasuk seorang putera Imam Bonjol. Beberapa waktu lamanya Imam Bondjol bertahan di daerah yang berbukit-bukit hingga akhirnya ia memenuhi undangan Residen Francis untuk berunding di Palupuh.
Dengan dikawal oleh beberapa orang yang setia, pada tanggal 28 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol berangkat ke Palupuh untuk melakukan perundingan dengan Residen Francis. Namun di Palupuh ia tidak bertemu sang Residen, melainkan disambut oleh pasukan tentara Belanda yang telah lebih dahulu siap untuk menangkapnya.
Tuanku Imam Bonjol tertipu oleh musuh seperti halnya Pangeran Diponegoro. Baik Tuanku Imam Bonjol maupun Pangeran Diponegoro tidak pernah terkalahkan oleh Belanda dan tidak pernah pula menyerah. Mereka terjebak oleh pengkhianatan berselubung perundingan.
Setelah ditangkap Tuanku Imam Bonjol dibawa ke Bukittinggi, kemudian ke Padang. Selanjutnya dibuang ke Cianjur Jawa Barat. Rakyat setempat menghormatinya hingga Belanda khawatir akan pengaruh pemimpin paderi itu di Jawa Barat. Maka ia lalu dipindahkan pengasingannya ke Ambon, kemudian dipindahkan lagi ke kampung Lota,dekat Manado. Di tempat inilah ia wafat pada tanggal 8 November 1864 sampai mencapai usia 92 tahun. Jenazahnya dimakamkan dikampung tersebut.
Pemerintah RI menghargai jasa yang telah disumbangkan Tuanku Imam Bonjol untuk kemerdekaan bangsanya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973, Tuanku Imam Bonjol dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.