Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro bwDi ruangan kantor Residen Magelang pada tanggal 28 Marat 1830 berlangsung perundingan antara Jenderal De Kock, panglima tentara Belanda, dengan Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta. Selama lima tahun memberontak, sang Pangeran telah membikin Belanda amat repot sekali. Sebelum perundingan dimulai sudah disepakati, bahwa apabila perundingan gagal, Pangeran Diponegoro akan kembali ke tempatnya tanpa halangan apa pun dari pihak Belanda. Ada dua hal pokok yang diajukan Pangeran Diponegoro, yakni: Pertama, ia akan mendirikan negara merdeka dibawah perintah seorang sultan; kedua, ia akan menjadi pemimpin agama seluruh Jawa.
De Kock menolak kedua usul itu dan melarang Pangeran Diponegoro kembali ke tempatnya. Pangeran itu bangkit dari kursinya. Sambil memegang hulu kerisnya, ia berkata dengan geram.’Tuan telah menipu orang yang diajak berunding!” Sebenarnya ia dapat saja menikam de Kock yang tidak bersejata, tetapi jiwa ksatrianya melarangnya melakukan perbuatan itu. Pada saat itu pula de Kock memerintahkan anak buahnya menangkap Pangeran Diponegoro.
Pengkhianatan yang dilakukan De Kock dalam perundingan di Magelang itu mengakhiri perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Belanda yang berkobar di Jawa Tengah selama lima tahun.
Pemimpin perlawanan itu, Pangeran Diponegoro, semasa kecilnya bernama Raden Mas Ontowiryo, putera dari Sultan Hamengku Buwono III dari ibu yang bukan permaisuri. Diponegoro lahir tanggal 11 November 1785. Sejak kecil ia diasuh oleh neneknya, yaitu Ratu Ageng, permaisuri Hamengku Buwono I, pendiri kerajaan Yogyakarta. Neneknya itu kemudian menetap di Tegalrejo, sebelah barat Yogyakarta. Berkat asuhan wanita bijaksana ini, Diponegoro tumbuh menjadi seorang yang alim, sederhana dan dekat dengan rakyat.
Sementara Diponegoro tumbuh dewasa, di keraton Yogyakarta terjadi kericuhan-kericuhan yang disebabkan oleh semakin besarnya campur tangan pemerintah Belanda dalam masalah-masalah kerajaan. Pengangkatan dan pemberhentian raja atau patih ditentukan oleh Belanda. Demikian Hamengku Buwono II yang bersikap anti Belanda, diturunkan dari tahtanya, tetapi ia masih diizinkan tinggal dalam keraton. Akibatnya di keraton terdapat dua golongan, yang pro dan yang anti Belanda. Sebagai penggantinya diangkat Hamengku Buwono III, ayah Diponegoro.
Dalam masa kekuasaan Inggris Hamengku Buwono II berkuasa kembali, tetapi karena sikapnya yang menentang Inggris menyebabkan ia dibuang ke-Penang. Oleh pemerintah Belanda tempat pembuangannya kemudian dipindahkan ke Ambon.
Dalam tahun 1812 Hamengku Buwono III kembali naik tahta. Dua tahun kemudian ia meninggal dan digantikan oleh Sultan Jarot, puteranya yang masih berumur 10 tahun. Ia adalah adik Diponegoro dari ibu permaisuri. Ketika Jarot meninggal dunia dalam tahun 1822, ia diganti oleh puteranya R.M. Menol, yang masih bayi. Untuk menjalankan pemerintahan dibentuk Dewan Perwakilan. Diponegoro duduk sebagai anggota dewan, tetapi ia tidak pernah diajak berbicara mengenai urusan pemerintahan, karena itu ia mengundurkan diri dari keanggotaan Dewan Perwakilan. Sejak saat itu urusan pemerintahan lebih banyak dikendalikan oleh Patih Danurejo IV yang sangat pro Belanda.
Bersamaan dengan semakin membesarnya pengaruh Belanda dalam masalah-masalah kerajaan, penindasan terhadap rakyat pun semakin meningkat pula. Pemerintah Belanda menyewakan tanah dalam jumlah yang tidak terbatas kepada pengusaha-pengusaha swasta Belanda untuk dijadikan perkebunan-perkebunan. Akibatnya tanah yang dapat digarap rakyat untuk pertanian bertambah sempit. Bahkan jalan-jalan pun disewakan. Setiap orang yang melewati jalan itu diharuskan membayar pajak (tol).
Tindakan-tindakan pemerintah Belanda itu menimbulkan sikap antipati Pangeran Diponegoro. Sebaliknya Belanda pun menganggap Diponegoro se­bagai lawan yang menghalang-halangi rencana mereka. Karena itulah dicari berbagai cara untuk melenyapkannya, atau untuk memburuk-burukkan nama-nya. Pada waktu Sultan Jarot meninggal dunia, Belanda menuduh, bahwa ia diracun oleh Diponegoro. Residen Yogyakarta Smissaert, merencanakan pula untuk menangkap pangeran ini dengan cara mengundangnya menghadiri pesta yang diadakan di benteng Vredeburg. Diponegoro datang dengan pengawalnya, dan menantang Smissaert untuk berkelahi. Tetapi Residen ini tidak berani menjawab tantangan tersebut.
Pertentangan terbuka akhirnya terjadi juga. Residen Smissaert meren­canakan untuk membuat jalan yang melewati tanah milik Diponegoro. Pancang-pancang sudah ditanam, sedangkan pemilik tanah tidak diberi tahu. Diponegoro menyuruh para pembantunya mencabuti pancang-pancang. Patih Danurejo IV, antek Belanda memerintahkan pancang-pancang ditanam kembali. Peristiwa menanam dan mencabut pancang terjadi beberapa kali.
Sementara itu tersiar desas-desus bahwa Belanda akan menyerang Tegalrejo. Penduduk Tegalrejo yang memang bersimpati terhadap Diponegoro mulai bersiap-siap menghadapi kemungkinan serangan itu.
Tanggal 20 Juni 1825 seorang utusan Belanda mengantarkan surat ke Tegalrejo untuk menanyakan maksud Diponegoro. Pada waktu itu Pangeran Mangkubumi, paman Diponegoro, dan Dewan Perwakilan Kerajaan Yogyakarta sedang ada di Tegalrejo. Diponegoro meminta Mangkubumi menyusun kalimat untuk membalas surat tersebut dan Diponegoro menuliskannya. Baru beberapa baris ia menulis, dari jauh sudah terdengar bunyi senapan dan meriam. Pasukan Belanda sudah menyerang Tegalrejo. Penduduk Tegalrejo memberikan perlawanan, tetapi karena persenjataannya tidak seimbang, mereka terpaksa mengundurkan diri. Hari itu juga Tegalrejo diduduki Belanda. Tempat tinggal Diponegoro, mesjid dan bangunan-bangunan lainnya mereka bakar.
Diponegoro memerintahkan rakyat untuk menyingkir ke Selarong. Ia bersama Pangeran Mangkubumi menuju Kali Saka. Di luar Tegalrejo ia menyaksikan tempat itu sedang terbakar. Sambil menghunus keris ia berkata kepada Pangeran Mangkubumi,”Lihatlah paman, rumah dan masjid sudah terbakar. Saya tidak mempunyai apa-apa lagi di dunia ini”. Setelah tiga hari di Kali Saka, Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi pergi ke Selarong. Di tempat ini sudah berkumpul 23 orang pangeran dan 53 orang bangsawan Yogya. Begitu pula keluarga Diponegoro. Rakyat pun sudah berkumpul di Selarong. Semuanya sudah siap untuk membantu Diponegoro melancarkan perang terhadap Belanda.
Pimpinan perang segera disusun. Diponegoro diangkat sebagai pimpinan tertinggi. Mangkubumi diangkat sebagai penasehat, sedangkan Pangeran Angabei sebagai penasehat khusus bidang siasat perang. Pimpinan ini kemudian dilengkapi dengan munculnya Sentot Prawirodirjo yang berusia 16 tahun dan Kyai Mojo yang memberikan corak Islam kepada perjuangan. Rakyat dilatih menggunakan berbagai jenis senjata, tombak, pedang, parang, panah, bandil (umban pelempar batu) dan sebagainya. Pasukan dibagi atas tujuh kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri atas 150 orang prajurit pilihan dan dipimpin oleh seorang pangeran.
Maklumat perang disebar ke berbagai tempat, diantar oleh para kurir. Mula-mula di daerah Jawa Tengah, tetapi kemudian juga ke Jawa Barat (Banten) dan Jawa Timur seperti Palembang, Tuban, Bojonegoro, Madiun dan Pacitan. Seruan perang itu mendapat sambutan spontan dari rakyat yang memang sudah lama merasa tertindas akibat penjajahan Belanda.
Untuk menghadapi perlawanan Diponegoro, pasukan Belanda didatangkan dari Jakarta melalui Semarang. Bahkan kemudian sebagian pasukan Belan­da yang sedang menghadapi Perang Paderi di Sumatera Barat ditarik ke Jawa Tengah. Sepasukan tentara Belanda di bawah pimpinan Kumsius berangkat dari Semarang membawa empat pucuk meriam, uang dan pakaian serta perbekalan lainnya. Di dekat Pisang, Tempel, sebelah barat laut Yogyakarta pasukan ini disergap oleh pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mulyosentiko. Sebanyak 27 orang tentara Belanda terbunuh. Senjata, pakaian seragam dan uang sebanyak 50.000 gulden jatuh ke tangan pasukan Diponegoro.
Sergapan yang berhasil itu menimbulkan suasana panik di keraton Yogya. Sultan Menol yang masih bayi diungsikan ke dalam benteng Belanda. Orang-orang Belanda banyak pula yang mengungsi ke sana sehingga benteng itu penuh sesak. Sementara itu pasukan Diponegoro mengepung kota dari berbagai penjuru. Bahan makanan diblokir, tidak boleh masuk ke dalam kota.
Kolonel Van Jett segera mengirim pasukannya untuk menyerang Selarong. Tiga kali serangan dilancarkan, namun pasukan Belanda selalu menemui Selarong dalam keadaan kosong, sebab rakyat sudah mengetahui bahwa Belanda akan menyerang. Diponegoro pun tidak ada disana, sebab ia berada di gua Secang yang indah, tak jauh dari Selarong.
Tiga bulan kemudian Diponegoro memindahkan markas besarnya ke Dekso agar lebih mudah berhubungan dengan sektor-sektor lain. Di tempat ini ia dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Ngabdulkamid Herucokro Amirul Mukminin Panatogomo Jowo.
Dalam bulan-bulan pertama pasukan Belanda terpukul mundur di berbagai medan tempur. Karena itu Belanda mencoba taktik lain. Hamengku Buwono dikembalikan dari pembuangannya di Ambon dan diangkat menjadi Sultan. Maksudnya ialah agar sultan ini membujuk cucunya, Diponegoro, supaya mau menyerah. Tetapi usaha ini gagal sama sekali.
Atas usul Kyai Mojo pasukan Diponegoro menyerang Surakarta. Bulan Oktober 1826 terjadi pertempuran di Gawok, kurang lebih 12 kilometer dari Sala. Belanda mendatangkan bantuan dari Semarang di bawah pimpinan Co-chius. Dalam pertempuran ini Diponegoro mengalami luka-luka di tumit, tangan kanan, dan dada sebelah kiri. la dibawa ke lereng gunung Merapi untuk dirawat.
Selama tahun 1825 dan 1826 pasukan Diponegoro banyak memperoleh kemenangan. Dua kali pasukan Belanda menyerang Plered, namun pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Kerto Pengalasan, tak dapat mereka hancurkan. Dalam bulan Agustus 1826 dengan taktik gerilya pasukan Sentot berhasil menyergap pasukan Belanda yang sedang dalam perjalanan kembali ke Yogya setelah melakukan operasi. Semua serdadu Belanda tewas, kecuali komandannya Van Geen yang berhasil menyelamatkan diri. Dalam pertempuran di Lengkong, pasukan Diponegoro berhasil mengungguli pasukan lawannya, dan menewaskan seorang letnan serta Pangeran Murdaningrat dan Pangeran Panular. Kedua pangeran itu adalah pengganti Diponegoro dan Mangkubumi dalam Dewan Perwakilan. Kemenangan-kemenangan lain di peroleh pula dalam per­tempuran di Tangkilan, Bantul dan.Kejiwan. Pasukan yang lain bergerak untuk menduduki Magelang. Mereka sudah tiba di kaki gunung Tidar. Kota Magelang dikelilingi dengan api. Namun usaha merebut kota ini mengalami kegagalan. Pasukan kemudian digerakkan ke Menoreh. Dalam pertempuran di Sadegan beberapa orang perwira Belanda dan seorang bupati mati terbunuh.
Pacitan dan Purwodadi sudah dikuasai pasukan Diponegoro. Pangeran Serang yang memimpin perlawanan di daerah ini diburu-buru oleh Belanda, tetapi ia berhasil meloloskan diri dan kemudian bergabung ke Madiun. Barulah dalam pertempuran sengit tanggal 21 Juni 1827 Pangeran Serang bersama Pangeran Notoprojo bersama 850 orang pengikutnya terpaksa menyerah kepada Belanda.
Sementara itu di sektor timur pasukan Diponegoro menyerang Rembang, Padangan, Ngawi dan Tuban. Serangan dilancarkan dari markas besar di Rajegwesi
Dalam tahun 1827 itu kekuatan pasukan Belanda dilipatgandakan. Tekanan-tekanan terhadap pasukan Diponegoro semakin diintensifkan. Untuk memperkecil ruang gerak Diponegoro, Belanda melakukan sistem benteng. Di tempat-tempat yang berhasil mereka rebut, Belanda mendirikan benteng untuk bertahan dan sebagai basis untuk melancarkan serangan selanjutnya. Sistem seperti itu disebut ”benteng stelsel”. Dengan cara demikian berperanlah benteng-benteng Belanda di sekitar Magelang, Borobudur dan Kali-joigking. Di sektor timur terdapat benteng di Tuban, Blora dan Pamotan dan tcmpat-tempat lain. Antara Banyumas dan Madiun, Belanda mendirikan 165 benteng. Walaupun demikian, sampai triwulan pertama tahun 1828 Belanda masih belum berhasil mematahkan perlawanan Diponegoro.
Bersamaan dengan taktik perbentengan dilakukan pula usaha-usaha untuk berunding baik dengan Diponegoro sendiri maupun dengan para pembantunya secara terpisah-pisah. Perundingan pertama diadakan di Sambiroto. Diponegoro diwakili oleh Kyai Mojo. Dalam perundingan berikutnya, 25 November 1828 di Malang, Kyai Mojo bertindak atas namanya sendiri. la berhadapan dengan Kolonel Wironagoro yang mewakili Belanda. Perundingan ini gagal. Waktu Kyai Mojo kembali bersama 600 prajurit ”Bulkiyo” ke markas Pengasih, ia diikuti oleh mata-mata Belanda. Beberapa hari kemudian ia ditangkap dan kemudian diasingkan ke Manado hingga wafatnya pada tanggal 21 Desember 1849, dan dimakamkan di Tonsea.
Perundingan dengan Sentot mula-mula gagal pula dan Sentot kembali ke medan perang. Dalam pertempuran di Naggulan ia berhasil menewaskan Kapten Van Ingen dan Pangeran Prangwadono. Belanda menggunakan Bupati Madiun, Prawirodiningrat yang masih kerabat Sentot untuk membujuk agar ia mau menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot menyerah dengan syarat, ia tetap diizinkan memeluk agama Islam dan siap memimpin pasukannya. Pemerintah Belanda mengirimnya ke Sumatera Barat untuk bertempur melawan pasukan Paderi. Pada mulanya Sentot memang dimenangi kaum Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol, tetapi kemudian ia berbalik membantu, karena itu ia ditangkap Belanda dan dibuang ke Cianjur Jawa Barat, kemudian ke Bengkulu hingga wafatnya pada tahun 1855 dan dimakamkan di sana.
Setelah Kyai Mojo ditangkap dan Sentot menyerah, musibah datang susul-menyusul. Dalam pertempuran di Geger, Prawirokusumo yang tangguh dan berani menderita luka berat. Isteri Pangeran Mangkubumi dan tiga orang anaknya menyerah, disusul oleh Tumenggung Wonodirjo dan pengikutnya menyerah di Karangwuni. Sesudah itu Pangeran Angabei, ahli siasat, gugur dalam pertempuran, sedangkan Pengeran Mangkubumi dan Pangeran Nataningrat meletakkan senjata.
Semua itu merupakan pukulan yang berat bagi Diponegoro. Para pernbantu terdekat sudah meninggalkannya. Tetapi ia tidak tenggelam dalam kesedihan. Sebaliknya ia semakin giat mengatur pasukan yang masih tersisa. Ia berkeliling ke berbagai daerah menempuh jalan-jalan yang sulit, ladang dan hutan belukar. Waktu ia meninggalkan Menoreh menuju ke selatan, tiba-tiba di dekat sebuah jurang yang curam ia dikepung musuh. Dalam keadaan terdesak ia terjun ke dalam jurang dengan dua ekor kudanya. Tembakan senapan dan pistol menyusul bertubi-tubi. Tapi Tuhan masih menyelamatkan nyawa Diponegoro, walaupun kedua ekor kudanya hilang. Sesudah itu ia meneruskan pengembaraan perangnya diiringi oleh Roto dan Bantengwareng, dua orang abdi yang setia sampai ke tempat pembuangannya kelak.
Walaupun ruang gerak sudah semakin sempit dan kekuatannya sudah jauh berkurang, namun Diponegoro tetap tidak mau menyerah. Usaha Belanda untuk menangkapnya tidak pula berhasil. Belanda mengumumkan, siapa saja yang berhasil menangkap Diponegoro hidup atau mati akan diberi hadiah uang sebanyak 50.000 gulden ditambah dengan tanah dan kedudukan. Hadiah yang cukup besar-itu tidak membuat rakyat tergiur. Mereka tidak mau mengkhianati pemimpin yang mereka cintai itu.
Belanda melakukan usaha-usaha untuk membuka perundingan kembali. Bagi Belanda perang yang berlama-lama itu terasa berat, terutama dari segi biaya. Barulah pada tanggal 16 Februari 1830 Diponegoro bersedia menerima utusan Belanda, yakni Kolonel Cleerens. Perundingan diadakan di Romo Ken­dal, daerah Bagelen. Cleerens mendesak agar Diponegoro menyatakan keinginan baik secara lisan maupun tertulis untuk disampaikan kepada Jenderal de Kock. Diponegoro menolak. Waktu itu menjelang bulan puasa. Diponegoro tidak bersedia berunding di bulan suci. Ia hanya menyetujui usul Cleerens untuk mendekati Magelang, agar sesudah bulan puasa perundingan dapat di­adakan. Dengan diikuti pengiringnya, Diponegoro pindah ke Menoreh, kemudian ke kampung Matesih, dekat Magelang.
Sesuai dengan janjinya kepada Cleerens, maka pada tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal De Kock di kantor Residen Magelang. Sepanjang jalan rakyat berkerumun memberikan penghormatan kepadanya. Belanda melarang rakyat membawa senjata, tetapi Belanda sendiri sudah menempatkan pasukannya untuk melakukan penjagaan ketat di sekeliling kota.
Dalam perundingan dengan Jenderal De Kock ini Diponegoro di dampingi oleh Basah Martonagoro, Kyai Badaruddin, dan puteranya, Diponegoro Anom. Seperti sudah diuraikan pada awal tulisan ini, De Kock melakukan tindakan khianat. Diponegoro ditangkap. la dibawa ke utara Magelang dengan joli dan kemudian dipindahkan ke kereta dengan pengawasan kuat. Diponegoro meminta agar ia dapat bertemu dengan Gubernur Jenderal, tetapi permintaan itu di tolak.
Dari Magelang Diponegoro dibawa ke Semarang, sesudah itu ke Jakarta. Selanjutnya ia menjadi tawanan pemerintah Belanda. Pada tanggal 3 Mei 1830 dengan kapal Pollux Diponegoro dibawa ke tempat pembuangannya di Manado. Mula-mula ia ditempatkan di rumah Residen dalam benteng Manado. Dalam tahun 1834 ia dipindahkan ke benteng Rotterdam di Ujung Pandang.
Selama 25 tahun Pangeran Diponegoro dikurung sebagai orang buangan. Ia menghabiskan waktunya dengan menulis kisah perjuangannya berupa ”Babad Diponegoro” dalam bahasa Jawa setebal kurang lebih 700 halaman.
Perlawanan yang dipimpin Pangeran Diponegoro dikenal dengan nama Perang Diponegoro” atau ”Perang Jawa” dari tahun 1825-1830. Untuk Memadamkan perang ini Belanda telah mengeluarkan uang sebanyak 20 Juta rolden. Korban yang jatuh di pihak Belanda tercatat 8.000 orang serdadu Eropa dan 7.000 orang serdadu bumiputera. Kerugian itu harus ditambah lagi dengan banyaknya perkebunan yang rusak. Di pihak rakyat ribuan yang menjadi korban. Sebagai imbalan untuk memadamkan perlawanan ini, kerajaan Yogyakarta terpaksa menyerahkan beberapa daerah kepada Belanda.
Diponegoro meninggal dunia tanggal 8 Januari 1855. Jenazahnya dimakamkan di kampung Melayu, Ujung Pandang. Ia mengakhiri perjuangannya tidak dengan menyerah, tetapi ditipu oleh musuhnya.
Pemerintah Republik Indonesia menghargai jasa-jasa yang telah diberikan Dtponegoro bagi bangsa dan tanah airnya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/Tahun 1973 tanggal 7 November 1973 Diponegoro dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.