Nyai Ahmad Dachlan

Nyai Ahmad Dahlan bwSejak berdirinya Muhammadiyah, 18 November 1912, Kyai Haji Achmad Dachlan sudah menyadari betapa pentingnya peranan wanita dalam pengembangan agama dan pembinaan bangsa. Dalam uraian -uraiannya, K.H.A. Dachlan menegaskan bahwa menurut ajaran agama Islam hak-hak wanita dan kewajibannya memang terpisah dari kaum pria. Artinya wanita sendirilah yang harus mempertanggung jawabkan hidupnya dihadapan Allah SWTdan bukan membonceng pada suaminya. Wanita mempunyai hak penuh untuk memperoleh kemajuan dengan cara-cara baik dan mengatur dirinya. Sebaik-baiknya cara mengatur diri ialah dengan mengadakan organisasi kaum wanita.
Uraian itu menggugah semangat Siti Walidah yang lebih dikehal dengan nama Nyai Achmad Dachlan. la dilahirkan tahun 1872 di Yogyakarta, puteri dari K.H. Fadil, Penghulu Kesultanan Yogyakarta. Siti Walidah tidak pernah memasuki sekolah umum, kecuali mengaji Qur’an dan mendapat pelajaran agama berbahasa jawa berhuruf Arab.
Setelah menikah dengan Achmad Dachlan ia pun menyertai perjuangan suaminya dalam suka dan duka. Ia ada di samping K.H.A. Dachlan ketika ia diperintahkan oleh Kyai Penghulu Kamaludiningrat membongkar suraunya sebagai akibat tindakannya membetulkan arah kiblat di masjid besar Yogyakarta. Karena merasa kecewa K.H.A. Dachlan dan istrinya sudah bertekad untuk meninggalkan Yogya, tetapi niat itu dapat dicegah oleh saudaranya yang juga berjanji akan mendirikan surau baru. Siti Walidah pun mendampingi suaminya pada waktu berdakwah di Banyuwangi dan diancam penduduk Banyuwangi akan membunuhnya, apabila dakwahnya diteruskan. Suami istri itu tidak gentar menghadapi ancaman. Dakwah tetap diadakan dan sebagai hasilnya di Banyuwangi berdiri cabang Muhammadiyah.
Sesuai dengan uraian yang diterima dari suaminya, Nyai Achmad Dachlan pun mulai berusaha mendirikan organisasi wanita. Sebagai langkah permulaan, ia mengumpulkan beberapa orang pemudi dari kalangan keluarga sendiri yang kemudian diperluas dengan puteri-puteri tetangganya. Waktu itu sudah ada puteri-puteri Islam yang bersekolah HIS (SD dengan bahasa Belanda) dan Iain-lain di samping mengaji. Mereka itu diberi pelajaran agama oleh K.H.A. Dachlan dan ditanamkannya betapa perlunya kaum wanita menuntut ilmu pengetahuan. agama yang kuat, wanita Islam akan memperoleh kedudukan yang setaraf dengan wanita terpelajar Indonesia pada umumnya. Dengan demikian ternyata, bahwa cita-cita K.H.A. Dachlan dan istrinya sejalan dengan cita-cita R.A. Kartini. Dalam pelajaran-pelajaran itu Nyai Dachlan banyak mengikuti, sehingga ia pun menjadi murid utama dari suaminya. Pelajaran kepada para remaja puteri itu dimaksudkan membina kader untuk pergerakan wanita Islam.
Setetah adanya kesadaran tentang pertunya mengadakan perkumpulan wanita Islam, maka dalam tahun 1914 Nyai Dachlan dengan penuh gairah memprakarsai berdirinya perkumpulan ”Sopo Tresno” untuk wanita Islam. Nama itu artinya ”siapa cinta” atau ”siapa suka atau setuju” boleh masuk menjadi anggota. ”Sopo Tresno” mementingkan 3 bidang, yaitu ; dakwah, pendidikan dan sosial. Dengan berdirinya perkumpulan itu maka terbuktilah bakat, kecerdasan dan keterampilan Nyai Dachlan, khususnya dalam hal berdakwah menjelaskan cita-cita perkumpulannya dikalangan masyarakat luas. Oleh karenanya dalam waktu singkat ”Sopo Tresno” mendapat pengaruh dan pengikut di kalangan kaum wanita.
Setahun kemudian ”Sopo Tresno” dilebur menjadi ”Aisyiah”, bagian wanita dari Muhammadiyah. Aisyiah cepat menjadi besar dengan para istri warga Muhammadiyah. Beberapa waktu kemudian menyusul perkumpulan untuk remaja puteri Islam dengan nama ”Nasyiatul Aisyiah”. Dalam menunaikan tugas sosialnya Aisyiah mendirikan badan-badan yatim piatu, fakir miskin, pemberantasan buta huruf dan sebagainya. Dalam usaha insidental seperti menolong korban bencana alam dan sebagainya Aisyiah menunjukkan kegiatannya.
Nyai Achmad Dachlan bekerja dengan tekun. Ia memprakarsai berdirinya asrama yang waktu itu disebut internaat untuk pelajar-pelajar puteri. Saat itu yang ada baru asrama untuk santri-santri pria. Asrama puteri Islam itu diselenggarakan dirumahnya sendiri, khususnya untuk yang belajar di Mu’alimat, sekolah calon guru agama. Makin lama makin besar perhatian kepada asrama puteri Islam sehingga diperluas dengan Iain-Iain asrama atau pondokan di rumah ibu-ibu warga Aisyiah.
Di dalam asrama puteri itu Nyai Dachlan memberikan pendidikan keimanan dengan praktek ibadah, shalat berjamaah, sunat rawatib sampai kepada latihan berpidato untuk dakwah. Ia mempunyai kebiasaan berjalan-jalan sehabis shalat Subuh dan pada kesempatan itu sering dibawa serta beberapa orang puteri untuk mengenal masyarakat lebih mendalam di samping memelihara kesehatan. Dalam menjalankan dakwah ke lain tempat hingga ke luar tidak jarang ia membawa beberapa orang puteri dari asrama yang sedang mendapat pelajaran ringan di sekolahnya. Semua itu menunjukkan cara-cara licik tetapi bermanfaat yang dirintis oleh Nyai Dachlan dan berkembang hingga sekarang.
Nyai Dachlan amat giat berdakwah baik di Yogyakarta maupun di kota-kota lain sampai ke desa-desa, hingga ke Banyumas, Pekalongan, Tegal, Semarang, Kudus, Ponorogo, Surabaya, Malang, dan lain-lainnya, bahkan sampai puncak gunung. Waktu berdakwah di desa Batur, 17 km dari kota pegunungan Dieng ia tidak segan-segan menunggang kuda.
Sebagai mubalighat Nyai Dachlan berbicara jelas dan fasih, bahkan sering mengetengahkan secara spontan hal-hal yang menakjubkan. Di Wates, Yogyakarta, ia memberikan tafsir Surat Wal’Asri dengan tepat dan menarik sekali. Kemudian dengan tidak diduga-duga ia memalingkan mukanya kepada wakil pemerintah kolonial yang hadir di sana, yaitu PID (Politieke Inlichtingen Dienst = Polisi Dinas Politik), dan berkata, ”Saudara-saudara harap mengerti dan tulislah untuk dilaporkan kepada yang mengutus saudara, bahwa Surat Wal’Asri yang saya jelaskan itu adalah firman Allah SWT, bukan karangan saya. Karenanya setiap orang yang mengaku mukmin, harus mengamalkan firman Allah SWT itu. Kalau Muhammadiyah dipandang kurang baik, janganlah hanya dicela. Dan kalau dipandang baik, janganlah hanya dipuji, tetapi bantulah dan suburkanlah Muhammadiyah dan Aisyiah. Namun demikian, kalau diteliti dan dipelajari dengan seksama, maka tiadalah hal-hal yang diragukan, maka Muhammadiyah dan Aisyiah di Wates ini saya titipkan kepada saudara-saudara. Jagalah dan berilah lapangan supaya dapat berjalan terus”. Di dalam kongres-kongres Aisyiah Nyai Dachlan pada mulanya selalu memimpin sidang-sidang terbuka. Sidang-sidang tertutup ia serahkan pimpinannya kepada yang muda-muda dengan maksud mendidik kader dalam organisasi. Sampai dengan kongres Muhammadiyah yang ke-23 pada tahun 1934 Nyai Dachlan masih memimpin kongres Aisyiah. Sesudah itu pimpinan Aisyiah diserahkan kepada yang muda-muda. Dalam kongres ke-24 di Banjarmasin, kongres seperempat abad di Jakarta tahun 1936, ke-27 tahun 1938 di Malang dan ke-29 di Yogyakarta, Nyai Dachlan masih sempat menghadirinya. Setelah itu ia tidak hadir lagi dalam kongres karena usia yang semakin tua dan mulai uzur.
Setelah K.H. Achmad Dachlan meninggal dunia dalam tahun 1923, selama sembilan tahun berikutnya Nyai Dahlan masih aktif dan giat memimpin Aisyiah, dan selama delapan tahun sesudah itu sampai tahun 1940 ia masih sempat menghadiri kongres. Sesudah itu ia sering mendapat serangan rheumatik (encok) sehingga kegiatannya terganggu. Dalam keadaan demikian ia hanya dapat memberikan bimbingan dan nasehat-nasehat kepada pemimpin-pemimpin yang masih muda. Dalam pada itu perhatiannya terhadap perjuangan Islam dan perjuangan bangsa tetap besar.
Terhadap perjuangan bangsa ia bersikap tegas seperti dipesankannya kepada para Konsul Muhammadiyah yang dalam tahun 1946 berkunjung ke padanya setelah selesai dengan sidang Tanwir di Yogyakarta. Pesan Nyai Dachlan, ”Saya titipkan Muhammadiyah dan Aisyiah kepadamu sebagai almarhum K.H.A. Dachlan telah menitipkannya. Saya menguatkan menitipkan Muhammadiyah dan Aisyiah kepadamu”. Kemudian dengan perlahan-lahan agak terputus-putus karena dalam keadaan sakit, ia menyambung pesannya, ”Alhamdulillah, pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia telah terusir dari Indonesia, akan tetapi lebih berbahaya lagi adalah balatentara Dai Nippon yang menduduki Indonesia karena terbukti pemimpinnya telah menarik kepada kemusyrikan dan penindasan dengan caranya minta bantuan guna kemakmuran Asia Timur Raya. Tindakannya makin menyengsarakan, lebih-lebih yang beragama Islam. Syukurlah dengan rakhmat dan hidayat taufik dari Allah Yang Maha Esa, bangsa Indonesia telah merdeka setelah sekaligus melawan Jepang yang lalu kukut (angkat kaki) dari negara kita dan menolak Sekutu yang diboncengi Belanda untuk menjajah kembali. Maka harus banyak-banyak Alhamdulillah, Indonesia telah merdeka bangsanya, dan tinggallah (yang belum merdeka) agama Islamnya. Maka wajiblah umat Islam berjuang terus mencapai ”Baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur” (artinya, ”Negara yang baik dan mendapat ampunan Tuhan Yang Maha Rakhmat” atau ”Negara makmur subur”). Marilah kita hidup suburkan Muhammadiyah yang akan mengisi wadah negara kita yang telah merdeka itu, yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Itulah pesan terakhir Nyai Achmad Dachlan kepada para Konsul Muhammadiyah yang ia percayai akan meneruskan perjuangan suaminya. Pesan pendek itu padat sekali isinya, terutama akhir katanya, bahwa Muhammadiyah berkewajiban mengisi kemerdekaan kita hingga mendatangkan kebahagiaan dunia akhirat bagi rakyatnya.
Sekalipun sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan pada waktu menghadapi perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan kita, ia selalu memberi bimbingan tegas kepada anak didiknya, terutama yang pernah berasrama di rumahnya. Nyai Dachlan dengan tegas menganjurkan kepada mereka itu, ”Segeralah berangkat dan supaya kamu berikan contoh teladan. Sebagai kaum wanita yang di garis belakang, kamu harus menyiapkan segala yang dapat di bantukan kepada garis depan, seperti penyelenggaraan dapur umum, pemeliharaan kesehatan, pengobatan yang sakit, pengawaspadaan orang banyak, menyabartenangkan masyarakat dan sebagainya dan berpantang kalut. Berjuanglah dengan amar ma’ruf nahi mungkar, dengan sept ing pamrih, yaitu iklas kepada Allah S WT serta memohon hidayat taufikNya untuk kemenangan yang gilang-gemilang.
Nyai Achmad Dachlan yang berpendidikan sederhana, alim dan tekun dalam membina generasi muda, ternyata mempunyai saham yang besar dalam perjuangan bangsa, negara dan agama. Jasa pahalanya mengantarkannya ke alam akhir. Setelah menderita sakit-sakitan agak lama, terutama rheumatik, Nyai Siti Walidah Achmad Dachlan pulang ke rakhmatullah pada tanggal 31 Mei 1946 di Kauman, Yogyakarta. Jenazahnya dikebumikan di belakang masjid besar Yogyakarta.
Dengan wafatnya Nyai Achmad Dachlan itu bukan saja Muhammadiyah dan Aisyiah kehilangan pemimpinnya, namun seluruh bangsa Indonesia kehilangan seorang wanita perintis pergerakan wanita dan pejuang yang tekun serta gigih sepanjang hayatnya. Pada waktu jenazahnya diberangkatkan dari rumah kediamannya di Kauman ke makam peristirahatannya terakhir, pemerintah RI mengirimkan utusan Mr. A.G. Pringgodigdo, Sekretaris Negara, untuk menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Nyai Achmad Dachlan dan memberikan penghormatan yang terakhir kepada almarhumah.
Kemudian pemerintah RI dengan surat keputusan Presiden RI No. 042/ TK/Tahun 1971 tanggal 22 September 1971 menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Nyai Siti Walidah Achmad Dachlan.

Posted in Pahlawan Nasional.