Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan ageng tirtayasa

Abdulfath yang lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa adalah Sultan Banten keenam. la dilahirkan tahun 1631 dan tumbuh dewasa dalam suasana memburuknya hubungan antara Kesultanan Banten dengan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie = Persekutuan Dagang Belanda). Pedagang-pedagang Belanda untuk pertama kalinya muncul di Banten tahun 1596. Dari tujuan semula yang semata-mata untuk membeli rempah-rempah, mereka kemudian berusaha menguasai wilayah dan menjajah.
Pada awal abad ke-17 Belanda sudah menguasai beberapa bagian kepulauan Indonesia, antara lain Jakarta dan Maluku. Kedudukan Belanda di Jakarta merupakan ancaman terhadap kedaulatan kesultanan Banten. Dengan terang-terangan mereka menuntut hak monopoli perdagangan, sesuatu yang tidak mungkin diberikan oleh Banten, sebab kesultanan ini juga berhubungan dagang secara bebas dengan bangsa-bangsa lain, misalnya Inggris.
Pada tahun 1645, dalam masa pemerintahan Sultan Abdulmufakar Mahmud Abdulkadir, kakek Abdulfath, sudah ada perjanjian dagang antara Banten dengan Belanda. Tetapi ketika Abdulfath menjadi Sultan ia tidak mau lagi memperpanjang perjanjian itu dengan isi yang sama, bahkan ia menolak untuk memperbaharui. Sebaliknya, ia berusaha menghalang-halangi perdagangan Belanda di Banten.
Tindakan itu menyebabkan timbulnya ketegangan dengan Belanda. Sultan Ageng sudah memperkirakan bahwa bentrokan bersenjata dengan Belanda pasti akan terjadi, karena itulah iamengadakan hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lain, yakni Cirebon, Mataram, dan Demak. Hubungan yang sudah ada dengan Lampung, Selebar, dan Bengkulu semakin diperkokoh. Tujuannya jelas, menggalang persatuan untuk menghadapi Belanda.
Insiden-insiden kecil-kecilan mulai terjadi di beberapa tempat. Beberapa kali sepanjang tahun 1656, pasukan-pasukan Banten menyerang daerah Angke yang sudah dikuasai Belanda. Mereka membakar kebun-kebun tebu milik Belanda dan merusak penggilingannya serta membakar kampung-kampung di sekitamya yang merupakan pos-pos pertahanan Belanda. Selain itu pasukan Banten menyeratig pula kapal-kapal Belanda yang mereka jumpai di-lautan.Belanda pun tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan pasukan dan memperkuat pertahanannya di Pesing, Angke, dan perbatasan Tangerang-Jakarta. Pada akhir tahun 1657 kedua belah pihak mengajukan usul perjanjian damai, namun pertempuran berjalan terus. Belanda mengusulkan agar orang-orang Belanda dari Jakarta termasuk yang sudah di sunat (masuk Islam) yang ditahan di Banten dikembalikan. Banten mengajukan tuntutan pokok agar kapal-kapalnya bebas berlayar ke Ambon, Perak, dan Ujungpandang untuk kepentingan dagangnya.
Pada tanggal 29 April 1658 Belanda mengajukan usul 10 pasal. Kecuali yang tersebut di atas, Belanda menuntut :
1. Banten harus membayar kerugian perang berupa 500 ekor kerbau dan 1.500 ekor lembu;
2. Kapal Belanda yang berlabuh di Banten tidak di periksa;
3. Belanda tidak membayar bea cukai untuk kapalnya yang lewat perairan dan berlabuh di Banten.
Sebaliknya, Sultan Ageng dalam suratnya tanggal 4 Mei 1658 minta agar Banten diperbolehkan setiap tahun sekali datang di Jakarta untuk membeli meriam, peluru, mesiu, dan cengkih.
Permintaan Banten tersebut tidak disetujui dan oleh karena itu perjanjian damai pun tidak tercapai. Pada tanggal 11 Mei 1658 Sultan Ageng mengumumkan perang kepada Belanda. Sebelumnya pernah pula terjadi perahu Belanda diserang oleh orang-orang Banten di bawah pimpinan Lurah Astrasusila. Anak buah kapal itu disergap, perahunya dihancurkan. Kejadian itu mendorong pula ke arah perang besar.
Persiapan dan pertahanan Banten cukup kuat. Sebagian pasukannya dikirim ke Caringin, sebelah selatan Banten, di bawah pimpinan Ngabei Wirasaba dan Purwakarti. Istana Banten yang disebut Surosowan dijaga ketat. Meriam-meriam ditempatkan secara strategis, masing-masing dijaga oleh perwira yang ahli dan tangguh. Medan perang terdepan dipimpin oleh R. Senapati-ing-ngalaga dibantu oleh Ratu Bagus Singandaru. Di bagian selatan, Pelabuhan Ratu dijaga oleh armada di bawah pimpinan Saranubaya. Tentara Banten sudah siap tempur di Angke-Tangerang, sedang Belanda pun siap pula menghadapinya.
Pertempuran terjadi dengan hebat pada tanggal 11 Mei 1658, dimulai pagi-pagi hingga petang, tanpa dapat diketahui siapa yang menang atau yang kalah. Malam hari perang berhenti, dan setelah berhenti beberapa hari, panglima Banten memerintahkan ”perang dadali”, yaitu menyerang sekaligus menyapu bersih musuh. Belanda melakukan ”perang papak”, yaitu cara pengepungan dari belakang.*
Pertempuran meningkat menjadi perang tanding seorang lawan seorang. Kegiatan terjadi di segala front. Beberapa perwira Belanda dapat ditewaskan. Khusus untuk daerah Angke-Tangerang, Sultan menjanjikan, siapa yang dapat membunuh opsir Belanda akan diberi hadiah satu kampung, lampit dan tikar (kedudukan) serta petinya (uang). Pengumuman itu mendorong para prajurit lebih berani dan pantang mundur.
Di perairan Selat Pulau Pamujan sebuah kapal Belanda membuang sauh dan segera diserbu oleh tentara Banten yang bersembunyi di Pulau Duwa. Kapal itu di hancurkan. Demikian pula di Tanjung Balukbuk, kapal Belanda dan awaknya dihancurkan oleh tentara Belanda di bawah pimpinan Sarantaka. Kapal Belanda yang datang dari Malaka dihancurkan oleh pasukan Banten yang dipimpin oleh R. Singandaru. Kapal perang Banten lainnya di bawah pimpinan Ki Haji Abbas menghancurkan kapal Belanda di perairan dekat Gosong Bugang. Barang-barang rampasan dalam pertempuran-pertempuran tersebut dipersembahkan kepada sultan. Di Pelabuhan Ratu, armada yang dipimpin oleh Saranubaya berhasil menghancurkan kapal Belanda dan membunuh kaptennya, namun Saranubaya terluka dan meninggal pada lima hari kemudian.
Tembakan-tembakan meriam Belanda kepada pertahanan-pertahanan Banten dibalas dengan tembakan meriam gencar sehingga Belanda menghentikan tembakannya. Di front Angke-Tangerang terjadi penggantian tentara. Senapati-ing-ngalaga dengan pasukannya ditarik mundur dan diganti oleh tentara yang dipimpin oleh Mangunjaya. Dengan demikian, maka orang pergi perang tidak terlalu lama dan diganti dengan tenaga dan semangat yang masih segar.
Dengan perantaraan Sultan Jambi, Belanda menawarkan perjanjian damai. Akhirnya tercapailah perjanjian damai 10 Juli 1659 yang memuat 12 pasal, antara lain yang pokok-pokok ialah:

 

1. Banten akan mengembalikan sapi dan kerbau yang dirampasnya di daerah Belanda;
2. Kapal-kapal Belanda yang menduduki pelabuhan Banten akan ditarik kembali dan perdamaian di darat dan di laut dipeiihara bersama;
3. Belanda menempatkan perwakilannya di Banten yang disediakan tanah dan rumah serta penjagaan oleh Sultan Banten;
4. Banten mengembalikan warga Jakarta yang menggabungkan diri kepada Banten dan sebaliknya Belanda pun berbuat demikian;
5. Kapal-kapal yang singgah mengganti air tidak dipungut bea-cukai
6. Batas pemisah daerah antara Banten dan Jakarta ialah Sungai Untung Jawa dari pantai laut hingga di darat melalui pegunungan.
Meskipun sudah ditandatangani perjanjian tersebut, namun Sultan Ageng senantiasa waspada. la telah memperhitungkan kemungkinan Belanda menyerang kembali. Oleh karena itu ia mendirikan istana baru : “Tirtayasa” yang tangguh terhadap terangan Belanda dan sekaligus mampu mengadakan serangan. Istana Tirtayasa yang dibangunnya ini pada hakekatnya adalah cadangan untuk melawan Belanda. Sejak itulah ia terkenal sebagai “Sultan Ageng Tirtayasa”.
Dalam perjanjian tanggal 10 Juli 1659 itu tidak ada pasal yang memuat ketentuan bahwa Banten bebas berdagang dengan Ambon, meskipun hal itu sejak semula sudah menjadi pendirian mutlak Sultan Ageng. Karena itu ia kurang puas, sedangkan pasal-pasal lainnya terasa sangat memberatkan. Disamping itu, perwakilan Belanda di Banten dan Gubernur Jenderal Maet-Suyker menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan. Dari perwakilan Inggris yang ada di Banten, Sultan Ageng dapat pula mengetahui maksud-maksud Belanda yang sesungguhnya. Karena itu ia mengadakan persiapan-persiapan untuk menghadapi Belanda selanjutnya. Belanda pun melakukan hal yang sama. Mereka berusaha menghancurkan Banten dari dalam dengan cara adu domba.
Kebetulan Sultan Ageng sudah mengangkat puteranya, Pangeran- Gusti yang juga bergelar Pangeran Anom menjadi putera mahkota. Ia, yang kelak akan dikenal dengan nama Sultan Haji, ternyata seorang yang berwatak kurang terpuji, lemah dan mudah dihasut. Tokoh inilah yang dijadikan oleh Belanda sebagai alat untuk menjatuhkan Sultan Ageng.
Usaha Belanda ternyata membuahkan hasil. Pangeran Gusti berkeinginan untuk merebut kekuasaan. Keinginan itu semakin besar setelah ia pulang dari Mekah menunaikan ibadah Haji. la mendesak ayahnya, agar pimpinan kesultanan diserahkan kepadanya. Dengan perasaan kesal, sekitar bulan Maret 1671. Sultan Ageng menyerahkan urusan sehari-hari kesultanan Banten kepada Pangeran Gusti, yang sejak saat*itu bernama Sultan Abdulkahar dan kelak disebut Sultan Haji. Sejak saat itu pula Banten mempunyai dua orang Sultan. Sultan Ageng (Sultan Sepuh) dan Sultan Abdulkahar (Sultan Muda). Sultan Ageng menetap di Istana Tirtayasa yang baru dibangunnya, sedangkan Sultan Haji di Istana lama Surosowan.
Sultan Ageng mempererat hubungannya dengan Lampung, Selebar, Bengkulu, Cirebon dan Mataram, bahkan dengan Tranojoyo, bangsawan Madura, yang memberontak kepada Mataram yang dibantu VOC.
Semakin lama Sultan Ageng semakin menyadari, bahwa pengaruh Belanda sudah berakar didalam diri Sultan Haji. Dalam menentukan kebijaksanaan pemerintah, sering timbul perbedaan pendapat antara Sultan Ageng dan puteranya. Kerena itu ia bersiap-siap untuk menghadapi lawan yang cukup berat, yaitu persekutuan Belanda dengan Sultan Haji. Hubungan persahabatan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan kerajaan-kerajaan lain semakin ditingkatkan. Sementara itu ia membuka pula hubungan baru-dengan Sumedang dan Karawang. Kebijaksanaan lain pun di jalankan. Diusahakannya agar Sultan Haji berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji sekali lagi. Usaha itu berhasil. Waktu Sultan Haji sedang di Mekah, adiknya pangeran Purbaya, diserahi tugas menjalankan pemerintahan sehari-hari. Dalam tahun 1676 Sultan Haji sudah kembali. Ternyata sampai saat itu Pangeran Purbaya belum dapat berbuat banyak. Pemerintahan harus diserahkan kembali kepada kakandanya.
Hubungan Sultan Haji dengan Belanda semakin akrab. Ia mengirim utusan, tanpa persetujuan Sultan Ageng, untuk mengucapkan selamat kepada Rijklof van Goens, yang diangkat menjadi Gubernur Jenderal menggantikan Jovan Maetsuyker yang meninggal dunia pada 4 Januari 1678.
Ketegangan di kesultanan Banten semakin memuncak. Dasar yang sejak semula dipertahankan oieh Sultan Ageng, yakni menolak menempatkan Banten dibawah kekuasaan Belanda, sudah digoyahkan oleh puteranya sendiri. Tiada piliban lain selain perang, dan perang itu tidak semata-mata ditujukan kepada Sultan Haji, tetapi terutama kepada Belanda. Malam hari tanggal 26 Februari 1682, pasukan Sultan Ageng menyerang istana Surosowan. Pasukan Sultan Haji dengan dukungan yang kuat dari pasukan Belanda mencoba menahan serangan itu. Pertempuran berkobar di alun-alun dan disekitar istana. Sultan Haji melarikan diri dan mencari perlindungan pada Jacob de Roy, pimpinan tentara Belanda.
Karena kewalahan, Belanda meminta bantuan ke Jakarta. Pasukan bantuan dibawah pimpinan Saint Martin, diberangkatkan dari Jakarta tanggal 6 Maret 1682 dengan dua buah kapal. Sesudah itu datang lagi pasukan yang lebih besar dibawah pimpinan Kapten Tack. Ke daerah Tangerang dikirim pula bantuan kurang lebih 1000 orang di bawah pimpinan Hartsinck.
Di daratan, pasukan Belanda menghadapi serangan gerilya dari pasukan Banten yang dipimpin oleh Pangeran Dipati. Pasukan yang datang dari arah timur laut disambut>dengan tembakan meriam. Pos-pos tentara Belanda di mana-mana mengalami serangan.
Pertahanan Sultan Ageng yang terkuat terletak di Kademangan. Di sini terjadi pertempuran sengit. Menghadapi pasukan gabungan yang jauh lebih besar itu, pasukan Sultan Ageng tidak dapat bertahan. Tanggal 2 Desember 1682 mereka terdesak mundur. Sementara itu daerah Angke-Tangerang sudah dikuasai Belanda sepenuhnya. Sesudah merebut Kademangan, pasukan Belanda ditarik ke Tanara sebelah timur, berarti semakin dekat ke Istana Tirtayasa. Serangan itu dibantu oleh pasukan yang digerakan dari pulau Cangkir, tak jauh dari Tanara. Pasukan Sultan Haji bergerak dari Surosowan. Dengan demikian kedudukan Sultan Ageng terjepit dari dua arah, yaitu dari darat dan dari laut.
Pasukan Sultan Ageng mencoba bertahan sekuat tenaga, tetapi kekuatan mereka tidak sebanding dengan lawan yang dihadapinya. Istana Tirtayasa ditembaki dengan meriam. Dalam keadaan kritis itu, tak ada jalan lain bagi Sultan Ageng selain meninggalkan istana. la tidak mau ditangkap oleh Belanda. Sebelum berangkat, ia memerintahkan agar Istana Tirtayasa dibumi hanggskan hingga rata dengan tanah.
Sultan Ageng menyingkir ke hutan Keranggan. Istana Tirtayasa yang berupa puing-puing jatuh ke tangan Belanda, sedang perlawanan dimana-mana tidak menjadi surut. Dari Keranggan Sultan Ageng meneruskan perjalanan ke Lebak, kemudian ke Parijan di pedalaman Tangerang, akhirnya ke Sajira di perbatasan Bogor.
Sultan Haji melaporkan kepada Belanda di mana ayahnya dan pengawalnya berada. Atas petunjuk tipu muslihat Belanda, Sultan Haji mohon kepada ayahnya agar kembali ke Istana Surosowan, tanpa curiga sedikitpun Sultan yang sudah lanjut usia itfl kembali ke Banten dan sampai di Istana Surosowan tanggal 14 Maret 1683 tengah malam. Beberapa saat kemudian ia di tangkap Belanda, lalu dipenjarakan di Jakarta. Pangeran Purbaya dan penasehat ayahnya, yaitu Syekh Yusuf asal Makasar, sisa tentara Sultan Hasanuddin yang tidak mau menyerah, meneruskan perjuangan hingga kemudian mereka tertangkap.
Sultan Ageng Tirtayasa wafat dalam penjara pada tahun 1683. Jenazahnya dikebumikan di makam sultan-sultan Banten di sebelah utara Mesjid Agung. Namanya tetap harum sebagai pahlawan yang gigih mempertanhakan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan negerinya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 045/TK/Tahun 1970 tertanggal 1 Agustus 1970, Sultan Ageng Tirtayasa dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.