Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis bwBerdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969, Pemerintah RI menganugerahi Ibu Maria Yosephine Catharina Walanda Maramis gelar Pahlawan Pergerakan Nasional. Maria Yosephine Catharina Maramis dilahirkan pada tanggal 1 Desember 1872 di Kema, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Utara. la adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua orang kakaknya bernama Aantje (baca: Ance) dan Andries Alexander Maramis. Ayahnya seorang pedagang bernama Maramis dan ibunya bernama Sarah Rotinsulu Tidak lama Maria mengenyam kasih sayang kedua orang tuanya. Mereka meninggal secara berturut-turut sebagai akibat penyakit kolera yang melanda daerah Minahasa dan sekitarnya. Waktu itu Maria baru berusia 6 tahun. Setelah orang tuanya meninggai dunia, dan kedua saudaranya diasuh oleh paman dan bibinya Ezam Rotinsulu di Airmadidi. Ketiga anak yatim piatu itu memperoleh pendidikan Sekolah Dasar di kota kecil itu. Pada masa itu anak-anak perempuan tidak diizinkan bersekolah di sekolah yang lebih tinggi dari Sekolah Dasar. Maria dan Ance terpaksa mengalami keadaan demikian, sedangkan Andries melanjutkan pelajarannya ke Hoofden School di Tondano. Perbedaan kesempatan untuk bersekolah antara anak laki-laki dan anak perempuan itu kemudian menimbulkan pelbagai macam pikiran pada Maria. Ia tidak merasa puas hanya memperoleh pendidikan di sekolah dasar itu. Ia sering bertanya-tanya dalam dirinya mengapa pamannya tidak menyekolahkannya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Maria ternyata seorang yang haus akan pengetahuan. Waktu itu di Minahasa masih terikat kebiasaan, bahwa anak perempuan hanya dibenarkan sekolah sampai Sekolah Dasar saja. Dalam hal ini anggap paman dan bibinya telah berlaku tidak adil kepadanya. Ia bertanya dalam hati mengapa tidak di izinkan melanjutkan sekolahnya? Sesungguhnya ingin memasuki Meisjes-school, (Sekolah untuk anak-anak perempuan) di Tondano. Di Meisjes-school anak-anak mendapat pelajaran seperti di Europese Lagere School (ELS), antara lain pelajaran bahasa Belanda. Di Tomohon ada sebuah Meisjes-school swasta milik zending Protestan, tetapi ke sekolah ini pun Maria tidak diizinkan oleh pamannya. Gadis-gadis Minahasa setelah menamatkan Sekolah Dasar, lalu bekerja membantu orang tua mereka, bertani atau mengurus rumah tangga sampai tiba masanya mereka menikah. Demikian pula halnya dengan Maria, dengan patuh belajar mengatur dan mengurus rumah tangga. Adik lelakinya Alexander adalah satu-satunya pria dalam keluarga Maramis. Oleh karenanya terus dibayari sekolahnya dengan harta warisan keluarganya. Rotinsulu, paman Maria, termasuk orang yang terpandang dan mempunyai kenalan yang luas dan banyak, teman-temannya kebanyakan orang terpelajar dan umumnya orang-orang Belanda. Hal itu merupakan kesempatan yang baik bagi Maria. Ia belajar mengurus rumah tangga dan cara-cara menerima tamu-tamu yang berpangkat tinggi. Ia belajar memasak, tidak saja masakan daerah tetapi masakan Belanda dan belajar membuat kue-kue pula, ternyata seorang gadis yang cerdas. Berkat kedudukan pamannya itu Maria pun banyak mempunyai kenalan. Seringkali diundang untuk menghadiri pesta-pesta yang diadakan oleh orang-orang Belanda. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mempelajari cara-cara bergaul dan membawakan diri ditengah-tengah masyarakat dan lingkungan terpelajar. Keluarga yang sangat akrab dengan Maria ialah keluarga pendeta Belanda Ten Hoeven di Maumbi. Pendeta Ten Hoeven adalah seorang yang mempunyai pandangan yang luas dibidang pendidikan. Ia ingin melihat gadis-gadis Minahasa memperoleh pendidikan agar dapat mencapai kemajuan. Hal itu sering dibicarakannya dengan Maria. Malahan mendorong Maria agar berusaha untuk memajukan pendidikan kaum wanita. Buah pikiran pendeta ini mempengaruhi jiwa Maria. Ia sendiri memang tidak sempat mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari Sekolah Dasar. Pada waktu itu Maria sudah menikah, bersama suaminya sering berkunjung ke rumah pendeta Ten Hoeven. Dalam kesempatan-kesempatan serupa itu Maria banyak memperoleh pelajaran yang berguna. Bahasa Belandanya juga dapat disempurnakan. Maria juga memperoleh pengetahuan dari pendeta Ten Hoeven tentang keadaan masyarakatnya sendiri. Adat istiadat di daerahnya waktu itu masih merupakan kungkungan bagi kaum wanita. Karena kurang pendidikan, maka kaum wanita Minahasa waktu itu amat terbelakang. Mereka kurang mengerti soal-soal kesehatan, urusan rumah tangga dan mengasuh anak bila dibandingkan dengan wanita-wanita Belanda. keadaan itu membuat Maria bertekad untuk membantu wanita di daerahnya. Ia sendiri, walaupun hanya mengalami pendidikan Sekolah Dasar, masih beruntung mengetahui banyak hal mengenai kewanitaan berkat hubungannya dengan golongan terpelajar, tetapi ribuan gadis lain tidak mendapat kesempatan seperti itu. Pada tahun 1890 Maria menikah dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda. Laki-laki itu adalah putera seorang guru sekolah Dasar Penolong Injil (semacam Sekolah Agama), berasal dari desa Tenggiri. Dari perkawinan itu mereka memperoleh tiga orang anak, semuanya wanita, yakni Wilhelmina Frederika, Anna Paulina dan Albertine. Maria mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya sebaik-baiknya. la ingin agar mereka kelak memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi. la berpendapat, bahwa seorang gadis, sebelum memasuki masa berumah tangga, harus memiliki dasar pendidikan yang luas. Sesudah menyelesaikan Sekolah Dasar mereka harus melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Hal itu akan mempengaruhi sekaligus meningkatkan pendidikan anak-anak mereka kelak. Menurut Maria Walanda, seorang ibu adalah inti dari suatu rumah tangga yang juga menjadi inti masyarakat. Pada sang ibulah sebenarnya tergantung kebesaran rumah tangga. Masalah makanan, pakaian, kebersihan serta kerapihan rumah dan halaman, semuanya tergantung pada ibu. Lebih penting dari itu, ibu adalah pengasuh dan pendidik anak. Tentu diperlukan kesabaran dan kepandaian, yang biasanya tidak dimiliki oleh gadis-gadis tertentu. Apabila hal ini dilalaikan, keadaan masyarakat akan menjadi timpang. Oleh karena itu perlu dilakukan sesuatu bagi anak-anak gadis, yang kelak akan menjadi ibu.

 

Maria Walanda rupanya mengetahui keadaan masyarakatnya. la mengetahui dimana sumber-sumber kelemahan dan kesalahannya. Maria Walanda dapat menunjukkan jalan kearah perbaikannya. Pada awal abad ke-20 jumlah sekolah di Minahasa masih sangat terbatas. Bila anak-anak ingin melanjutkan pelajaran, mereka harus pergi ke Pulau Jawa. Tetapi tidak banyak orang-orang luar yang mampu memikul biaya sekolah di tempat yang jauh itu. Hal itu menjadi pikiran Maria, bagaimana caranya mengatasi kesulitan agar anak-anak gadis Minahasa mendapat pendidikan yang layak. Pikiran Maria pun tertumpah kepada ketiga orang anaknya yang semuanya wanita. la ingin agar mereka mendapat pendidikan tinggi. Mula-mula anak-anaknya dimasukkan ke Christelijke Meisjesschool (Sekolah Kristen untuk anak-anak perempuan) di Tomohon. Hanya satu tahun mereka bersekolah disini, kemudian Anna dan Albertine di usahakan masuk Lagere School (SD Belanda) di Manado. Waktu itu tidak mudah bagi orang biasa seperti Walanda, suami Walanda, untuk memasukkan anaknya ke Lagere School, namun karena berulang kali mengirimkan permohonan kepada pemerintah agar anak-anaknya diterima di sekolah tersebut, maka akhirnya permintaan itu dikabulkan, setelah kedua orang anaknya di uji terlebih dahulu dalam kemahiran berbahasa Belanda. Setelah anak-anak itu berhasil menyelesaikan pendidikan di Lagere School dan menempuh Kleinambtenaar Examen. (Ujian untuk calon pegawai rendah), Maria berniat mengirimkan anak-anaknya ke Pulau Jawa, tetapi suaminya kurang setuju. Maria berusaha menyakinkan suaminya agar memberi kesempatan kepada anak-anaknya tersebut. Ia sendiri sudah mengalami bagaimana rasanya tidak mendapat kesempatan belajar di sekolah yang lebih tinggi dan ia ingin agar hal itu tidak terulang pada anak-anaknya. Dengan bantuan dan dorongan Kepala Sekolah, akhirnya Calusung Walanda menyetujui permintaan isterinya. Anak-anaknya di kirim ke Jawa dengan syarat, dalam waktu tiga tahun harus kembali ke Manado dengan membawa ijazah Europese Lager Onderwijs (Pendidikan Guru Rendah Belanda). Kemudian terbukti kedua anak itu berhasil memenuhi syarat yang diberikan ayah mereka. Maria meningkatkan gerakannya dengan mengumpulkan beberapa or­ang temannya untuk mendirikan sebuah organisasi yang akan berusaha memajukan pendidikan kaum wanita. Maksudnya terlaksana, berdirilah sebuah organisasi yang diberi nama ”Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya”. Disingkat PIKAT. Pada tanggal 8 Juli 1917 diselenggarakan rapat terbuka yang dihadiri oleh masyarakat Manado. Dalam rapat itulah PIKAT diperkenalkan kepada masyarakat luas. Dengan panjang lebar Maria menguraikan tujuan PIKAT. Masyarakat menyambutnya dengan gembira dan persetujuan Maria Walanda berkata, bahwa waktu itu di Masyarakat Minahasa terdapat gejala yang kurang menyenangkan. Tetapi juga melihat adanya perkembangan yang positif. Banyak anak gadis yang telah berkesempatan ke sekolah serta banyak pula yang telah rnemiliki keahlian seperti menjadi juru rawat dan bidan. Tetapi, kebanyakan anak gadis akan menjadi ibu rumah tangga biasa. Untuk mereka itu perlu dipikirkan sesuatu. Mereka perlu dipersiapkan mengelola rumah tangga yang baik dan cukup modern. Maria Walanda terkesan akan perjuangan R.A. Kartini dalam hal kemajuan wanita. Kartini telah berhasil meningkatkan martabat kaum wanita terutama di pulau Jawa. Bagi masyarakat Minahasa, Maria Walanda mengatakan, bahwa yang sangat diperlukan ialah memperkokoh kehidupan keluarga. Dalam pengertian ini Maria setuju dengan Kartini, bahwa ”Perempuan itu adalah ibu dan guru yang pertama bagi anak-anaknya”. Pada sang ibulah tergantung masa depan anak-anak. Apabila sang ibu mempersiapkan mereka dengan baik, maka pengalaman mereka di sekolah akan sangat bermanfaat. Anak adalah bagaikan tanah atau lahan. Apabila sang ibu mengerjakan lahannya itu dengan baik, maka bibit yang ditabur sang guru di sekolah akan tumbuh subur. Peranan wanita itu, adalah sebagai isteri dari suaminya. sebagai ibu dari anak-anaknya dan sebagai makhluk yang paling besar daya perasaanya. ”Percintaan ibu kepada anak-anak adalah seumpama mata air yang mengalir pada sungai yang tiada dengan keputusan”. Dengan berdirinya organisasi itu Maria mulai bekerja sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-citanya. Dikirimkannya surat kepada wanita-wanita terkemuka di beberapa tempat di Minahasa. Dalam surat itu dianjurkannya agar ibu-ibu mendirikan cabang PIKAT di beberapa tempat seperti di Sangirtalaud, Gorontalo, Poso dan lain-lain, bahkan kemudian cabang PIKAT berdiri pula di Ujungpandang dan di luar Sulawesi seperti di Jakarta, Bogor, Malang, Surabaya, Bandung, Cimahi dan Magelang. Di mana saja terdapat sekurang-kurangnya sepuluh keluarga Minahasa. Di situ didirikan cabang PIKAT, di Kalimantan pun terdapat cabang PIKAT, yakni di Balikpapan, Sangu-sangu dan Kotaraja. Ny. Maria Walanda yang serba sederhana pengetahuannya mampu pula menggunakan surat kabar, untuk mempropaganda cita-cita PIKAT. Tulisan Maria yang polos didalam surat-surat kabar menarik perhatian orang banyak. Orang-orang Belanda golongan ”ETIS” (hendak memajukan Indonesia) pun tertarik. Mereka ini memberi bantuan baik berupa uang maupun tenaga. Or­ang-orang Minahasa di Iain-lain tempat mengirimkan bantuan uang dan bersedia menjadi donatur PIKAT. Sebagai langkah pertama untuk merealisasikan cita-cita PIKAT. Pada tanggal 2 Juli 1918 di Manado didirikan sekolah rumah tangga untuk gadis-gadis, yaitu Huishoud School PIKAT. Untuk gedung sekolah, PIKAT meyewa rumah seorang pedagang Belanda yang bersimpati kepada PIKAT. Untuk kepentingan pelajaran yang berupa berbagai alat-alat dapur dan sebagainya didapat dari anggota-anggota PIKAT yang rela meminjamkannya, dengan demikian sekolah itu merupakan hasil gotong royong murni.

 

Di sekolah ini ditampung gadis-gadis yang telah menamatkan pelajaran mereka di Sekolah Dasar. Mereka diberi pelajaran dan bimbingan dalam cara-cara mengatur rumah tangga seperti memasak, menjahit, pekerjaan tangan, membuat kue-kue, memelihara kebersihan rumah, menghias rumah dan pekarangan, menanam bunga-bunga, bahkan merawat bayi dan memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan pun diajarkan. Semua matapelajaran ditujukan agar para gadis itu kelak menjadi ibu rumah tangga yang baik. Dalam memberikan pelajaran itu Maria dibantu oleh anak-anaknya, antara lain pelajaran bahasa Belanda oleh anak Maria sendiri, yakni Anna Paulina. Guru-guru yang memberi pelajaran tidak digaji, kecuali Kepala Sekolah dan ibu pemimpin asrama. Mereka bekerja dengan sukarela demi kemajuan gadis-gadis Minahasa dan untuk membuktikan simpati mereka kepada cita-cita Maria. Uang sekolah yang diterima hanya berjumlah lima belas gul­den sebulan, termasuk uang pondokan. Sudah tentu jumlah itu tidak mencukupi, namun tetap berusaha agar semua gadis Minahasa bisa memperoleh pendidikan di sekolahnya. Untuk menambah pemasukan uang, maka Maria menjual hasil masakan, kue-kue dan hasil pekerjaan tangan murid-murid sekolah PIKAT kepada para anggota dan para donatur, dengan cara demikian kesulitan biaya dapat diatasi. Inisiatif Maria mendapat perhatian penduduk Minahasa, bahkan Residen Kroon dan istrinya pun tertarik kepada usaha itu. Hampir seluruh orang terkemuka di Manado memberikan sumbangan untuk Huishoudschool PIKAT. Disamping hasil-hasil yang dicapai itu banyak pula tantangan dan celaan yang harus dihadapi, tetapi Maria tidak menghiraukannya. la tetap bekerja untuk mewujudkan cita-citanya. Sasaran selanjutnya ialah membeli sebidang tanah untuk mendirikan sebuah gedung sekolah, tetapi uang yang diperlukan tidak cukup walaupun cabang-cabang PIKAT sudah mengirimkan sumbangan. Maria tidak kehabisan akal. la menyusun sebuah daftar orang-orang yang diminta kesediaanya memberi pinjaman uang dengan bunga yang tidak terlalu tinggi. Usaha itu berhasil dan akhirnya dapatlah mendirikan sebuah gedung yag menyerupai asrama dan sekaligus dapat dipakai sebagai sekolah. Bentuknya masih sederhana, tetapi Maria merasa gembira sebab bagaimana pun gedung itu sudah milik PIKAT sendiri. Kegembiraannya memuncak ketika dalam tahun 1920 Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum beserta istrinya berkunjung ke sekolah PIKAT. Isteri Gubernur Jenderal itu sangat terkesan dengan apa yang dilihat dan yang didengarnya dari Maria. Sebelum kembali, meninggalkan uang sebanyak empat puluh ribu gulden sebagai sumbangan, dengan bantuan itu dapat melunasi hutangnya dan menambah peralatan sekolahnya. Usaha lain yang dilakukan Maria untuk mencari dana bagi biaya sekolahnya ialah mengadakan pertunjukkan sandiwara ”Pingkan Mogogumoy”, sebuah cerita klasik Minahasa. Pertunjukan itu adalah yang pertama kali diadakan di Minahasa dan hasilnya cukup memuaskan. Sesudah itu pertunjukan serupa diadakan di beberapa tempat lainnya. Selama itu telah bekerja dengan keras, hampir-hampir tanpa mengenal letih. Tak heran kalau suaminya sering kali mengingatkan supaya juga memperhatikan kesehatan badannya. Suaminya juga turut aktif membantu, seringkali hadir dalam rapat-rapat PIKAT untuk mencatat masalah-masalah yang dibicarakan. Tiap bulan Maria berkunjung ke cabang-cabang PIKAT dan mengadakan rapat dengan pengurus-pengurus cabang setempat. Ia mengunjungi daerah-daerah seperti Tondano, Tomohon, Amurang, Airmadidi, Bolang, Mongondow dan tempat tempat lainnya. Tentu saja kegiatan itu cukup meletihkan, namun tetap bersemangat, sebab dengan jalan demikian dapat mengemukakan gagasan-gagasannya tentang kemajuan kaum wanita. Dalam rapat-rapat itu dibahas kesulitan-kesulitan yang dihadapi kaum wanita sehari-hari, sehingga PIKAT merupakan organisasi yang menyerupai sumber kekayaan rohani bagi wanita Minahasa. Ia pun tidak lupa menanamkan rasa kebangsaan dihati kaum wanita. Ia sendiri selalu memakai daerah, kain dan kebaya putih sebagai wujud dari perasaan kebangsaan itu. Teman-temannya dianjurkan agara berpakaian serupa itu pula, dan sedapat-dapatnya mereka memakai bahasa Melayu (baca: Indo­nesia). Kedua puterinya yang sudah mendapat ijazah Europese Lagere Onderwijs, dilarangnya meminta persamaan (derajat = gelijkstelling) dengan bangsa Belanda untuk mendapat hak melihat Eropa atau biaya pemerintah, kepada puteri-puterinya sering dikatakannya ”Pertahankanlah bangsamu”. Dalam tahun 1932 PIKAT mendirikan Opleiding school voor Vak Onderwijs zeressen (Sekolah Guru Puteri Kejuruan), sekolah ini merupakan lanjutan dari Huishoudschool. Meskipun dapat dikatakan sudah banyak yang berhasil dicapai oleh PIKAT, namun Maria masih selalu berusaha meningkatkan cita-citanya. la menuntut supaya kaum wanita mendapat hak yang sama dengan laki-laki, antara lain hak untuk belajar ke Pulau Jawa. la yakin bahwa kaum wanita mampu mengikuti pelajaran yang lebih tinggi seperti halnya kaum laki-laki. la juga menginginkan agar kaum wanita diberi tempat dalam urusan politik, seperti duduk dalam Dewan Kota dan Volksraad (dewan Rakyat). Sementara itu kesehatannya mulai menurun, sehingga kegiatan-kegiatannya sering terganggu, sudah jarang mengunjungi rapat-rapat PIKAT, tetapi selalu rajin menulis surat kepada cabang-cabang PIKAT memberikan petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehat. la mengajukan permohonan kepada pemerintah agar PIKAT mendapat bagian dari undian pemerintah (loterij) untuk kepentingan sekolahnya. Konsep permohonan itu ditulisnya ketika dirawat di rumah sakit dan diserahkannya kepada Nona H. Sumolang. Kepala Sekolah PIKAT dengan pesan, ”Jangan lupakan PIKAT, anakku yang bungsu”. Kata-kata itu adalah pesannya terakhir untuk kepentingan PIKAT, setelah menderita sakit beberapa waktu, maka dalam bulan Maret 1924 dalam usia 52 tahun, Maria dipanggil menghadap Tuhannya. Jenazahnya dibaringkan di Sekolah PIKAT untuk memberikan kesempatan kepada utusan-utusan cabang, dan anggota-anggota PIKAT, masyarakat terutama kaum ibu dan handai taulan memberikan penghormatan terakhir kepada ibu yang selalu mencintai dan dicintai mereka. Sesudah itu jenazahnya di berangkatkan ke Maumbi, sembilan kilometer dari Manado dan dimakamkan di pemakaman keluarga.

Posted in Pahlawan Nasional.