Kyai Haji Hasyim Asj’arie

KH Hasyim Asy'ari bwTanggal 31 Januari 1926 beberapa orang ulama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mengadakan pertemuan di Surabaya. Mereka memilih wakil-wakil yang akan dikirim ke Mekah untuk menghadiri Kongres Islam yang akan diadakan di kota itu. Pertemuan yang di sponsori oleh K. Wahab Hasbullah itu sebenarnya merupakan reaksi terhadap keputusan yang telah diambil oleh Kongres Islam se-Indonesia yang diadakan beberapa bulan sebelumnya. Kongres itu memutuskan untuk mengirim Cokroaminoto, K.H Mas Mansur dan H. Sujak ke Mekah sebagai utusan ke Kongres Islam sedunia. Beberapa ulama lain tidak setuju, karena ketiga tokoh itu dianggap hanya mewakili golongan intelektual Islam yang hidup dikota-kota, sedangkan kaum Islam yang hidup di pedesaan dan jumlahnya jauh lebih banyak, tidak terwakili. Untuk membahas masalah itulah mereka mengadakan pertemuan tanggal 31 Januari itu.
Pertemuan Surabaya itu ternyata menghasilkan sesuatu yang lebih penting daripada hanya soal keputusan ke Mekah. Seorang ulama menyarankan agar dibentuk sebuah organisasi sebagai wadah umat Islam membicarakan masalah-masalah yang menyangkut keagamaan, hukum Islam dan sebagainya. Saran itu mendapat sambutan spontan dan dalam pertemuan itu dibentuk organisasi yang diberi nama ”Nahdhatul Ulama” (NU).

 
Tokoh yang menyarankan pembentukan organisasi itu adalah Kyai Haji Hasyim Asy’ari, pemimpin pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Beliau dilahirkan pada tanggal 30 April 1875, putra dari Kyai Asy’ari dari istrinya Winih (Halimah). Baik ayah maupun kakeknya dari pihak ibu adalah pemimpin-pemimpin pesantren yang cukup terkenal. Dari lingkungan yang demikian dapat diduga bahwa Hasyim, sejak masa kecilnya, sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang bersifat keagamaan.
Umur tiga belas tahun Hasyim sudah dapat mengajarkan beberapa buku agama kepada teman-temannya. la tidak puas belajar ilmu agama hanya dari ayahnya. Karena itu Ia belajar di pesantren lain, seperti pesantren Wonokoyo di Jombang, pesantren Palangitan dan kemudian ke pesantren Trenggalis. Ia pun pernah belajar disebuah pesantren di Madura dan pada akhirnya ke pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo yang dipimpin oleh Kyai Yakub.
Dua kali Hasyim menunaikan ibadah haji ke Mekah, pertama dalam tahun 1896 dan kedua kalinya dalam tahun berikutnya. Sesudah itu untuk beberapa waktu lamanya mengajar di pesantren kakeknya dan di desa Gedang. Dari sini pindah ke Kemuring, Kediri, dan mengajar sampai tahun 1906. Dalam masa inilah timbul niatnya untuk mendirikan pesantren sendiri agar beliau dapat mengajarkan ilmu agama menurut caranya sendiri. Tempat yang dipilihnya ialah Tebuireng di desa Cukir. Kecamatan Diwok. Kabupaten Jombang. Daerah itu terkenal sebagai sarang penjahat dan tempat perbuatan maksiat merajalela. Karena itu beberapa temannya berusaha mencegah niat H. Hasyim mendirikan pesantren di sana, tetapi justru keadaan itulah yang bagi Hasyim menarik perhatiannya. Di tempat seperti itulah agama harus ditegakkan, seperti dikatakannya, ”Menyiarkan agama Islam berarti memperbaiki manusia. Pelaksanaannya harus dengan berjihad, yakni sanggup menempuh kesukaran dan bersedia berkorban”.
Pesantrennya tentu saja harus aman dari gangguan para penjahat dan daerah sekitarnya harus bersih dari perbuatan maksiat. Untuk itu Hasyim mempunyai cara sendiri. Beberapa orang kyai dari Cirebon dimintanya untuk membantunya. Jagoan Tebuireng, Astro, ditaklukkannya dengan cara lebih dulu mempelajari kelemahan jagoan ini. Astro tidak mempunyai anak. Hasyim memberikan salah seorang anaknya kepada Astro. Sejak saat itu pesantren Tebuireng menjadi aman dan mempunyai pelindung. Penjahat-penjahat lain tidak berani mengganggu, karena takut menghadapi Astro.
Hasyim memimpin pesantrennya dengan tekun. Ia bekerja sesuai dengan jadwal yang selalu padat. Bila pesantren-pesantren lain sepi dalam bulan Ramadhan karena para santrinya pulang, tidak demikian halnya dengan pesantren Tebuireng. Pesantren ini tetap ramai. Selama bulan Puasa di pesantren Tebuireng diadakan pelajaran khusus, yaitu uraian Kyai Hasyim mengenai Hadis Muslim Bukhari, cabang ilmu yang sangat dikuasainya. Banyak pula santri-santri dari lain daerah mengikuti pelajaran khusus itu.
Kemajuan pesat yang dicapai Hasyim menarik perhatian pemerintah sehingga pesantren ini segera pula memperoleh pengakuan resmi. Cara-cara baru pun dimasukkan dalam pendidikan para santri, yang diajarkan bukan semata-mata pelajaran agama, tetapi juga pelajaran umum. Usaha modernisasi berjalan lancar berkat datangnya tenaga muda, yaitu Kyai Ilyas dan Kyai Maksum. Tetapi sebelum itu, Hasyim mendapat tantangan dari orang tua para santri. Mereka mengancam akan menarik anak-anak mereka dari pesantren Tebuireng. Pelajaran umum dianggap bid’ah, tetapi Hasyim yang keras hati itu, tidak dapat di gertak. Kyai Hasyim meneruskan rencananya dan kemudian para santrinya merasakan faedah cara baru itu. Surat-surat kabar dan majalah dimasukkan ke pesantren. Para santri diharuskan pula belajar bahasa asing selain bahasa Arab. Usaha modernisasi itu kelak didukung pula oleh Wahid Hasyim, putera Hasyim Asy’ari.
Pada awal tulisan ini sudah diceritakan bahwa NU dibentuk dalam pertemuan para ulama di Surabaya tanggal 31 Januari 1926. Gagasan pembentukannya datang dari Hasyirn Asy’ari. Kepengurusan NU terdiri atas dua bagian, yakni Suriyah (Pengurus Besar) dan Tanfidziah (Badan Pelaksana) K.H. Hasyim Asy’ari dipilih sebagai pimpinan Pengurus Besar dengan gelar Raisul Akbar. la dibantu oleh K.H. Dahlan dari Surabaya, K.H. Wahab Hasballah diangkat menjadi Sekretaris I dan K.H. Abdul Halim sebagai Sekretaris II. Anggaran dasar dirancang oleh Muhammad Sidik, kemudian disempurnakan oleh K.H. Hasyim Asy’ari.
Karena kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi NU, nama Hasyim Asy’ari semakin dikenal oleh kalangan yang lebih luas. la mulai masuk ke dalam percaturan politik dalam ruang lingkup nasional. Walaupun demikian Hasyim tetap bersikap toleran terhadap pikiran-pikiran baru, dari manapun datangnya, demi kemajuan umat Islam Indonesia, yang paling dibencinya ialah perpecahan diantara sesama umat dan sesuai dengan prinsip itu, dalam Kongres NU di Bandung tahun 1935, meyerukan antara lain :
”Tinggalkan ta’sub (fanatik) itu dan lepaskanlah diri dari hawa nafsu yang merusak. Belalah Islam, berijtihad-lah menolak orang-orang yang menghina Al Qur’an dan sifat-sifat Tuhan. Berjuanglah menolak orang-orang yang mendakwahkan ilmu yang sesat dan kepercayaan yang merusak dan berijtihad menghadapi orang-orang yang demikian adalah wajib. Alangkah baiknya jika tenagamu engkau sediakan untuk itu”.
Ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh pendiri dan pemimpin pesantren Tebuireng ini, mulai menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda. Kekhawatiran timbul, kalau-kalau Hasyim Asy’ari, melalui pengaruhnya yang besar itu, menggerakkan massa untuk menentang pemerintah. Karena itulah dalam tahun 1935 pemerintah mengirim dua orang utusan ke Tebuireng. Kepada K.H. Hasyim diberitahukan niat Pemerintah Hindia Belanda untuk memberikan penghargaan berupa sebuah bintang jasa. K.H. Hasyim yang menyadari apa yang tersirat dibalik penghargaan itu, menolaknya dengan halus. Ia pun menolak ketika Pemerintah Hindia Belanda menawarkan suatu jabatan dalam pemerintahan.
Dalam membina NU, beliau bersikap ”tut wuri handayani”. Masalah organisasi seluruhnya diserahkan kepada tenaga-tenaga muda. Dengan cara demikian, beliau menyiapkan kader-kader yang kelak akan menjadi pimpinan NU dan melanjutkan usaha meningkatkan siar Islam.

 
Perhatian Hasyim tidak terbatas hanya pada kemajuan Islam. Sebagai seorang yang cukup mengerti keburukan penjajahan, beliau ikut membantu dan membawa NU ke dalam gelanggang pergerakan nasional menghadapi tindakan-tindakan keras pemerintah kolonial. Periode tahun 1930-an merupakan periode yang berat bagi pergerakan nasional. Beberapa orang pemimpin politik ditangkap dan dibuang. Partai-partai yang berhaluan non-kooperasi ditindak keras. Pada tahun 1932 pemerintah mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar yang sangat membatasi ruang gerak pendidikan swasta. Perguruan Nasional Taman Siswa paling terkena peraturan itu dan karenanya beliau beraksi menentang keras.
Bersama dengan Taman Siswa, organisasi-organisasi massa dan partai-partai politik termasuk NU menuntut Pemerintah Hindia Belanda agar Ordonansi tersebut dicabut. Ketika GAPI (Gabungan Partai-partai politik Indonesia) melancarkan aksi ”Indonesia Berparlemen”, NU pun ikut mengambil bagian di dalamnya.
Dalam bulan Maret 1942 terjadi perubahan politik di Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Dengan demikian berakhirlah masa penjajahan Belanda, tetapi sebuah kekuatan kolonial baru muncul di Indonesia, yakni Jepang. Pemerintah yang baru itu melarang kegiatan politik. Sebuah peraturan yang menyinggung rasa keagamaan umat Islam pun dikeluarkan, yakni keharusan melakukan seikeirei (membungkukkan badan kearah ”matahari terbit” sebagai lambang menyembah Kaisar Jepang, Tenno Heika). Islam mengajarkan bahwa yang wajib disembah hanyalah Tuhan bukan selainnya. Masalah itu menjadi pembicaraan di kalangan para ulama. Tentu saja K.H.Hasyim Asy’ari turut membicarakannya dan beliau tidak menyetujui peraturan yang melanggar prinsip agama itu. Mungkin karena antipatinya terhadap seikeirei, atau juga disebabkan oleh hal yang lain sebagai anti Jepang beliau ditangkap oleh Pemerintah Pendudukan Jepang.
Pesantren Tebuireng terpaksa ditutup sementara waktu. Wahid Hasyim, putra K.H. Hasyim Asy’ari yang ketika itu telah menjadi seorang tokoh agama dan politik yang cukup berpengaruh, berangkat ke Jakarta. Melalui kenalannya yang cukup banyak, berusaha membebaskan ayahnya. Usaha itu berhasil dan pada tanggal 18 Agustus 1942 K.H. Hasyim Asy’ari dibebaskan kembali setelah ditahan selama kurang lebih empat bulan. Sesudah itu Jepang berusaha memanfaatkan pengaruhnya. la diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa dengan tujuan untuk menyelamatkan umat Islam. Dalam hati kecilnya menolak seperti pernah menolak tawaran Pemerintah-Hindia Belanda untuk suatu kedudukan tinggi.
Dalam prakteknya ia tak pernah melakukan tugas Kepala Urusan Agama yang diberikan oleh Pemerintah Jepang itu. Ia cukup mengetahui, bahwa Islam bertolak belakang dengan Shintoisme, kepercayaan yang dianut oleh Bangsa Jepang. Ia tetap tinggal di Tebuireng, mengasuh dan mendidik para santri, tugas utama yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun.
Bagi Kyai Hasyim Asy’ari hidup dalam zaman jepang penuh dengan tekanan batin. Ia menyaksikan bagaimana bangsanya jatuh melarat dan disamping itu kemaksiatan merajalela. Namun Ia masih sempat mengusulkan kepada Pemerintah Militer Jepang agar dibentuk Tentara Sukarela Muslimin di Jawa. Usul itu disampaikannya setelah Jepang membentuk Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Dalam hal ini ada maksud yang tersirat dalam usul Hasyim Asy’ari, yakni tentara ini kelak dapat digunakan untuk merebut kemerdekaan, seperti juga halnya dengan Peta. Usul itu ternyata disetujui dan dengan demikian terbentuklah ”Hizbullah”, yang kelak dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia memberikan sahamnya yang tidak kecil.
Sekalipun kemerdekaan telah tercapai, tetapi perjuangan belum berhenti, juga buat K.H. Hasyim Asy’ ari. Negara yang baru berdiri itu mendapat rongrongan dari kekuatan asing, terutama Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonialnya. Sebagai seorang tokoh agama, K.H. Hasyim Asy’ari tidak mungkin berpangku tangan. Tanggal 22 Oktober 1945, dari Tebuireng mengumandangkan Resolusi Jihad. Ia memanggil seluruh lapisan masyarakat agar bersatu mempertahankan kemerdekaan. Demikian antara lain isi fatwa seruannya.
”Allah tidak akan pernah memberikan keuntungan dan kemuliaan kepada siapa pun melalui perpecahan, sebab hanya dengan persatuan bangsalah kemerdekaan dapat dicapai dan dipertahankan”.
Pada masa itu, pesantren Tebuireng menjadi markas pejuang-pejuang Islam. Mereka yang akan berangkat ke medan tempur, terlebih dahulu memohon doa restu dari Kyai Hasyim. Tidak jarang pula beliau memberi mereka bekal berupa uang. Beliau sendiri pun melakukan persiapan fisik, jika sewaktu-waktu terpaksa berhadapan dengan musuh. Anaknya, Yusuf Hasyim, mengajarinya cara menggunakan pistol.
Situasi semakin lama semakin buruk. Hubungan RI dengan Belanda mencapai klimaknya, ketika pada tanggal 21 Juni 1947 pasukan Belanda melancarkan Agresi Milker ke-I, yaitu serangan serentak terhadap wilayah RI.
Empat hari sesudah itu, yakni tanggal 25 Juli 1947 kurang lebih pukul 21.00 dua orang tamu tiba di pesantren Tebuireng, yang seorang adalah utusan Bung Tomo, tokoh pejuang Surabaya yang terkenal, yang seorang lagi ialah Kyai Gufron, pemimpin Hizbullah Surabaya, utusan Bung Tomo memohon agar Kyai Hasyim Asy’ari ”mengumumkan jihad” kepada umat Islam. Gufron menyampaikan berita yang tidak menyenangkan, bahwa pasukan Belanda sudah menduduki kota Malang dan pasukan Hizbullah terpaksa mengundurkan diri setelah bertahan sekuat tenaga.

 
Berita itu cukup mengejutkan K.H. Hasyim Asy’ari. Beliau jatuh pingsan diatas kursinya. Para tamunya semula tidak mengetahuinya. Beberapa saat kemudian barulah mereka tahu bahwa K.H. Hasyim pingsan, setelah agak lama tiada tanggapan apa pun dari sang Kyai atas laporan Kyai Gufron. Dokter segera didatangkan. Menurut pemeriksaan dokter, Kyai Hasyim mengalami pendarahan otak. Akhirnya malam itu juga K.H. Hasyim Asy’ari meninggal dunia. Berita duka itu cepat tersiar dan sholat gaib diselenggarakan dimana-mana, memohon kepada Tuhan agar arwah K.H. Hasyim Asy’ari diterima disisi-Nya, di ampuni dosanya dan diberi ganjaran sesuai dengan amal baktinya.
Indonesia kehilangan seorang tokoh yang telah mengabdikan sebagian besar dari usianya untuk kemajuan agama dan pelopor persatuan umat. Sejarah mencatat K.H. Hasyim Asy’ari sebagai tokoh modernisasi pesantren.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dan pengabdiannya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964, Pemerintah RI menganugerahi Kyai Hasyim Asy’ari gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.