Tjut Meutia

Tjut Meutia

Perang Aceh-Belanda meletus tahun 1873. Bagi Aceh perang itu adalah perang mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan, sedangkan bagi Belanda adalah perang untuk memperluas wilayah jajahannya. Ekspedisi pertama pasukan Belanda berhasil dihancurkan oleh pihak Aceh, bahkan panglima ekspedisi, Jenderal Mayor Kohler, terbunuh. Tetapi ketika mengirimkan ekspedisi kedua dengan kekuatan yang lebih besar, pasukan Aceh tak dapat berbuat banyak. Istana Sultan jatuh ke tangan Belanda, tetapi beberapa hari sebelumnya sultan sudah menyingkir ke pedalaman. la meninggal dalam perjalanan dan digantikan oleh putranya. Karena sudah sangat terjepit, sultan ini menyerah pada tahun 1903 setelah perang berlangsung selama 30 tahun.
Dengan menyerahnya Sultan Aceh, Belanda menganggap bahwa perang sudah berakhir dan daerah Aceh seluruhnya sudah berada dibawah kekuasaan Belanda. Anggapan itu tidak seluruhnya benar, sebab pertempuran masih berlangsung disana-sini dalam bentuk perang gerilya, penghadangan dan sabotase.
Dalam perang yang berlangsung cukup lama itu Aceh menampilkan pejuang-pejuang yang terkenal, bukan hanya laki-laki tetapi juga wanita. Salah seorang diantara wanita itu ialah Cut Meutia, puteri Ben Daud, ulebalang Perak, daerah Keureutoe. la dilahirkan tahun 1870, tiga tahun sebelum perang Aceh -Belanda meletus. Karena itu masa remajanya dilewati dalam suasana perang dan suasana itu pulalah yang mempengaruhi jiwanya.
Dalam tahun 1874 daerah Keureutoe menyatakan tunduk kepada Belanda dan menandatangani perjanjian pendek. Pada tahun itu yang menjadi ulebalang Keureutoe ialah Teuku Cik Muling Abdulmajid. la digantikan oleh Teuku Muhammad Alibasyah yang setelah meninggal dunia digantikan oleh istrinya, Cut Nyak Aisah. Para pengganti itu dengan sendirinya terikat oleh perjanjian dengan Belanda.
Cut Aisah mengasuh 3 orang kemenakannya, yaitu: 1. Teuku Adit, 2. Teuku Syam Sareh, dan 3. Teuku Cut Muhammad. Anak angkat yang kedua, Syam Sareh, itulah yang mengganti kedudukan ibu angkatnya menjadi ulebalang. la terikat pula perjanjian dengan Belanda. Syam Sareh yang bergelar Teuku Cik Bintara dipertunangkan dengan Cut Meutia sewaktu masih kanak-kanak. Pertunangan itu ditetapkan oleh orang tua kedua belah pihak tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Meskipun kemudian mereka menikah, namun Meutia tidak mau menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Akhirnya mereka bercerai dan Meutia kawin dengan Teuku Cut Muhammad yang kemudian bergelar Teuku Cik Tunong, adik Teuku Syam Sareh.
Berbeda dengan Cik Bintara, Cik Tunong tidak merasa terikat oleh perjanjian dengan Belanda. Malahan beliau berdiri dipihak pejuang Aceh. Bersama istrinya, Cut Meutia ia tinggal didaerah pedalaman Keureutoe yang belum dijamah oleh Belanda. Cik Tunong membentuk pasukan dan melancarkan serangan-serangan gangguan terhadap patroli-patroli Belanda. Sampai tahun 1889 kegiatan-kegiatan pasukan ini cukup memusingkan Belanda. Tetapi kemudian selama hampir dua tahun mereka menghentikan kegiatan. Belanda mengira bahwa Cik Tunong akan menyerah, Tetapi tiba-tiba dalam tahun 1901 pasukan tersebut kembali beraksi. Mereka melakukan sabotase antara lain membongkar rel kereta api dan memotong kawat telepon.
Cik Tunong berhasil mempengaruhi ulebalang lain didaerah Keureutoe yang tidak terikat oleh perjanjian dengan Belanda. Dengan demikian kekuatannya bertambah besar. Sultan Aceh mengakuinya sebagai ulebalang Keureutoe.
Antara tahun 1901-1903 pasukan Cik Tunong melakukan aksi-aksi penghadangan dan sabotase di Aceh Utara bagian timur. Mereka berhasil merebut senjata. Suatu kali Cik Tunong berhasil menangkap dua orang mata-mata Belanda, yakni Pang Gadeng dan Mubin. Cik Tunong bersedia mengampuni mereka, tetapi dengan syarat mereka harus menebusnya dengan 100 pucuk senjata. Kedua orang mata-mata itu setuju. Pada suatu malam mereka memancing pasukan Belanda untuk menyerang Paya Ciciem dengan menumpang dua buah perahu yang telah mereka siapkan. Kedua perahu itu sudah dilubangi dan lubang-lubang itu ditutupi agar tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Sementara itu pasukan Cik Tunong sudah siap ditepi Paya (pantai). Setelah perahu mendekat, tutup-tutup lubang dibuka oleh Pang Gede dan Mubin, sehingga air masuk kedalam perahu. Serdadu Belanda terjun ke air untuk menyelamatkan diri. Pada waktu mereka berusaha naik kepantai, pasukan Cik Tunong sudah menunggu dengan rencong dan pedang terhunus. Dalam sergapan itu berhasil diperoleh 57 pucuk senjata. Semua serdadu Belanda tewas, kecuali Komandannya yang berhasil melarikan diri. Mubin tewas pada malam itu, sedang Pang Gadang dibunuh oleh pasukan Belanda. Dengan setia Cut Meutia mendampingi suaminya. la banyak belajar dari cara-cara yang dilakukan oleh pasukan Cik Tunong.
Dengan menyerahnya Sultan Aceh kepada Belanda (20 Januari 1903), Cik Tunong menghadapi posisi yang sulit. la diangkat sebagai ulebalang oleh sultan, padahal sultan itu tidak berkuasa lagi. Kesulitan lain yang harus dihadapi ialah semakin intensifnya tekanan-tekanan yang dilancarkan Belanda terhadap pejuang Aceh yang belum tunduk. Cik Tunong mengadakan pertemuan dengan teman-temannya untuk menentukan sikap. Akhirnya diambil keputusan untuk keluar dari hutan, dan kembali kekampung masing-masing. Pada tanggal 5 Oktober 1903 Cik Tunong dan pasukannya melaporkan diri kepada komandan pasukan Belanda di Lhokseumawe.
Sesudah itu Cik Tunong bersama istri dan anaknya, Teuku Raja Sabi, berangkat ke Jrat Mayang dan bergabung dengan saudaranya, Teuku Cik Bintara (Syam Sareh), tetapi Ia tidak merasa serasi dengan tempat ini. Karena itu Ia bermaksud mencari tempat kediaman baru. Walaupun dicegah oleh Cik Bintara dengan alasan keamanan belum pulih betul, namun Cik Tunong dan Meutia tetap pada pendirian mereka. Awal tahun 1904 suami istri itu bersama anak berangkat ke Teupin Gajah, daerah Panton Labu.
Apa yang sejak semula dikhawatirkan oleh Cik Bintara terjadi juga pada akhirnya. Tanggal 25 Januari 1905 terjadi serangan terhadap pasukan Belanda di Meunasah Paya. Dalam serangan itu hanya seorang serdadu Belanda yang berhasil menyelamatkan diri dan melapor kepada komandannya di Lhok Sukon. Serangan itu dilakukan oleh Peutua Dulah dan anak buahnya. Ia merasa dendam terhadap Cut Negeri Buwah karena dibuat malu didepan orang ramai. Untuk membalaskan rasa dendam dan menghilangkan malu, memilih mati syahid dan caranya ialah dengan menyerang pasukan Belanda.
Sebelum melancarkan serangan, Peutua Dulah mendatangi Cik Tunong untuk meminta pertimbangan. Cik Tunong melarangnya, tetapi ternyata Peutua Dulah tetap melaksanakan niatnya. Dalam penyelidikan yang dilakukan Belanda kemudian diketahui, bahwa Peutua Dulah datang kerumah Cik Tunong. Alasan itu dipakai Belanda untuk menangkap Cik Tunong, juga Cut Negeri Buwah. Mereka dipenjarakan di Lhokseumawe. Setelah diadili, keduanya dijatuhi hukuman tembak. Cik Tunong menjalani hukuman tembak pada bulan Maret 1905.
Sebelum menjalani hukuman tembak, Cik Tunong sempat ditemui oleh Pang Nangroe, orang kepercayaan dan tangan kanannya dalam perjuangan. Pang Nangroe dimintanya supaya memelihara anaknya. Selain itu dianjurkannya pula agar Pang Nangroe telah mengawini Cut Meutia. Dengan pcrkawinan itu Cik Tunong mengharapkan perjuangan akan tetap diteruskan dan nasib Meutia tidak akan terlunta-lunta. Pang Nangroe berunding dengan teman-temannya, bekas pengikut Cik Tunong. Mereka sepakat untuk segera kembali ke hutan guna meneruskan perjuangan. Mula-mula mereka berangkat ketempat kediaman Cut Meutia didesa Pirak, daerah Seleumak. Pada waktu itu Meutia sedang hamil tua dan dalam keadaan sakit parah, bahkan lumpuh. la kekurangan makanan, kurang perawatan dan kurang pengobatan. Dalam keadaan demikian, tak lama kemudian Ia melahirkan anak kembar. Kedua anak itu meninggal dunia setelah lahir. Sejak Cik Tunong ditangkap dan kemudian dihukum tembak, Meutia tidak pernah lagi bertemu dengannya.
Pang Nangroe menyampaikan pesan Cik Tunong kepada Cut Meutia dan menyatakan bahwa para pengikut Cik Tunong akan menuntut balas dan kembali berjuang melawan Belanda.
Maka mulailah babak baru dalam kehidupan Cut Meutia, babak yang penuh penderitaan. Perlawanan berkobar kembali meskipun tidak sehebat masa-masa yang lalu.
Cut Meutia berobat pada dukun-dukun kampung sehingga penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Sementara itu Belanda terus menerus melancarkan operasi pengejaran untuk menghancurkan para pejuang. Berkali-kali Pang Nangroe harus memindahkan Cut Meutia ke pedalaman. Disuatu tempat mereka bertemu dengan pejuang lain dibawah pimpinan Pang Adit. Pasukan Pang Adit bermarkas dibukit Masjid, sebab ditempat itulah Pang Adit mendirikan Mesjid yang dijadikan sebagai markas dan sekaligus tempat untuk mengajarkan agama Islam dan menempa semangat jihad. Pang Nangroe giat mengumpulkan tenaga pejuang dan senjata. Sesudah itu ia dan pasukannya serta Cut Meutia dan Raja Sabi pindah ke Bukit Bruek Ja. Disana mereka bertemu dengan pejuang yang lebih besar jumlahnya. Bukit Bruek Ja telah berubah menjadi kota kecil yang ramai dengan para pejuang. Ditempat inilah Pang Nangroe menikah dengan Cut Meutia, sesuai dengan pesan Cik Tunong.
Barisan pejuang makin menjadi besar, terdiri dari pasukan Pang Nangroe/Cut Meutia, barisan Teungku di Barat, barisan Pang Amin dan pasukan Muda Kari. Pasukan Pang Amin dan Muda Kari mengadakan penyerangan dibagian negeri Krueng Pasei dekat Madan daerah Geudong. Mereka sering kali berhasil merebut senjata dari tangan musuh. Sementara itu Belanda lebih memperkuat pasukannya dengan mendatangkan barisan marsose yang terkenal kejam sekali dibawah pimpinan Christoffel. Pasukan Christoffel terus mendesak dan menekan barisan pejuang sekeras-kerasnya. Oleh karena itu pasukan Teungku di Barat dan Teungku Mata le mundur ke daerah Gayo, namun pasukan Pang Nangroe tetap digaris depan. Barisan marsose terus maju, membujuk-bujuk rakyat dan menghantamnya sekali. Siapa saja ditemuinya dihutan langsung mereka tembak.
Tanggal 26 September 1910 pasukan Pang Nangroe, laki-laki dan wanita, sedang beristirahat disebuah pondok. Mereka dalam keadaan letih. Tiba-tiba pasukan Belanda datang menyerang. Kaum Wanita dibawah pimpinan Cut Meutia mundur kepedalaman. Sedangkan Raja Sabi mendampingi Pang Nangroe yang tidak mau mundur. Pang Nangroe terus bertahan dan mengadakan perlawanan dengan maksud melindungi kaum wanita jangan sampai menjadi perhatian dan serangan musuh. Pasukan marsose semakin mendekat, namun Pang Nangroe tidak beranjak dari tempatnya bertahan. Dari jarak yang amat dekat seorang serdadu marsose melepaskan tembakan yang tepat mengenai dada Pang Nangroe. Dalam keadaan berlumuran darah ia memanggil Raja Sabi dan menyerahkan rencongnya. Raja Sabi disuruhnya segera menyusul ibunya, Cut Meutia, Pang Nangroe tewas dan kemudian diketahui bahwa jenazahnya dimakamkan di samping mesjid Lhok Sukon.
Sepeninggal Pang Nangroe pimpinan pasukan diserahkan kepada Cut Meutia. Waktu itu kekuatan pasukan tinggal 45 orang dengan 13 pucuk senjata. Mulailah wanita yang sudah berumur 40 tahun itu memikul tugas berat. Selama ini ia berjuang dengan didampingi oleh suaminya, mula-mula Cik Tunong dan kemudian Pang Nangroe. Keduanya tewas oleh tangan alat kekuasaan kolonial. Ia sendiri sudah cukup banyak menderita. Pihak keluarga sudah beberapa kali menghubunginya supaya ia menyerah, tetapi ia bertekad untuk tetap melanjutkan perjuangan. Bersama-sama para pejuang lain, Cut Meutia termasuk golongan yang pantang tunduk. Baginya haram berhubungan dengan orang kafir.
Kini tugasnya semakin berat. Kekuatan pasukan sudah semakin kecil. Pengejaran yang dilakukan Belanda semakin intensif. Pasukan marsose yang dikerahkan Belanda dalam usaha pegejaran ini terkenal sebagai pasukan yang terlatih dalam perang rimba dan terkenal pula kekejamannya.
Cut Meutia memindahkan kedudukan pasukannya ke Gayo untuk menggabungkan diri dengan pasukan lain yang masih ada di daerah itu. Dengan demikian ia bermaksud menghimpun kekuatan yang lebih besar. Dalam perjalanan, di Paya Beuranang mereka bertemu dengan pasukan Teungku Seupot Mata bersama dengan pasukan ini Cut Meutia meneruskan perjalanan ke Gayo menempuh jalan hutan yang sulit. Dipersimpangan Kreung Peutu, yakni di Alue Kurieng, rombongan itu berhenti untuk memasak nasi. Ditempat itulah secara mendadak mereka diserang oleh pasukan marsose dibawah pimpinan Christoffel. Pasukan Cut Meutia mengadakan perlawanan. Pertempuran pun terjadi. Sebutir peluru musuh mengenai kaki Cut Meutia. la terduduk ditanah. Serdadu Belanda memerintahkan agar ia menyerah. Tetapi dengan cepat Cut Meutia bangkit dan dengan pedang terhunus meyerang musuh dan membawa korban. Ia siap menghadapi lawannya, tetapi sebelum sempat bertindak lebih lanjut, beberapa butir peluru kembali mengenai tubuhnya. Cut Meutia jatuh dan Ia gugur pada saat itu juga. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, masih sempat berpesan kepada Syekh Buwah yang ada didekatnya supaya anaknya, Raja Sabi diselamatkan.
Pemerintah Republik Indonesia menghargai perjuangan yang dilakukan Cut Meutia. Berdasarkan keputusan Presiden RI No.107/Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964 Cut Meutia dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.