Tjut Nyak Dien

Tjut Nyak Dien

Sumedang adalah sebuah kota kabupaten di Jawa Barat, letaknya di tepi pegunungan dan udaranya sejuk. Di kota itu terdapat makam srikandi dan Pahlawan Nasional yang cukup terkenal dari daerah Aceh, yakni Cut Nyak Din. Beliau meninggal dunia di Sumedang pada tanggal 6 November 1908 sebagai tawanan Pemerintah Hindia-Belanda setelah bertahun-tahun lamanya berjuang menentang penjajahan Belanda khususya di daerah Aceh.
Cut Nyak Din dilahirkan kurang lebih tahun 1850, tidak banyak yang diketahui tentang masa kanak-kanaknya. Ayahnya bernama Nanta Setia, Ulebalang VI Mukim, seorang putra Aceh keturunan perantau Minangkabau yang datang ke Aceh Besar pada akhir abad ke-17. Nanta Setia mempunyai seorang saudara laki-laki bernama Teuku Muhammad yang kawin dengan adik raja Meulaboh. Dari perkawinan ini lahir Teuku Umar yang kelak akan menjadi suami kedua dari Cut Nyak Din, setelah suami pertamanya gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda.
Perang Aceh-Belanda meletus tahun 1873. Bagi Aceh, perang itu adalah perang mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan; sedangkan bagi Belanda adalah perang untuk memperluas wilayah jajahannya. Pada waktu perang meletus, Cut Nyak Din sudah mempunyai seorang anak dari perkawinannya dengan Ibrahim Lamnga. Baik ayah maupun suaminya sejak semula sudah berjuang di pihak Aceh. Dua tahun Setelah perang meletus, yakni bulan Desember 1875, daerah VI Mukim diserang pasukan Belanda. Nanta Setia dan Ibrahim Lamnga berusaha mempertahankan daerah kekuasaan mereka, namun akhirnya terpaksa mengundurkan diri untuk menyusun kekuatan guna melanjutkan perjuangan di daerah lain. Kaum wanita, termasuk Cut Nyak Din, dan anak-anak, mengungsi ke daerah Blang Kala. Sampai di tempat itu Ibrahim masih mengantarkan isterinya. Waktu Blang Kala jatuh ke tangan Belanda, Cut Nyak Din dan rombongannya mengungsi ke tempat lain. Semula mereka bermaksud pergi ke IV Mukim, tetapi ternyata daerah itu sudah dikuasai Belanda pula. Karena itu Cut Nyak Din berangkat ke Montasik, daerah kekuasaan Panglima Polem. Di sini Ia bergabung dengan pejuang-pejuang Aceh lainnya.
Sesudah berpisah di Blang Kala, Cut Nyak Din tak pernah lagi bertemu dengan suaminya. Sementara itu Ibrahim dan Nanta Setia melanjutkan perjuangan di sekitar Gunung Paran. Dalam pertempuran di Gle Tarum tanggal 29 Juni 1878, Ibrahim Lamnga gugur. Mayatnya dibawa ke Leupong dan kemudian dimakamkan di Montasik. Dalam pemakaman

itu hadir antara lain Teuku Umar yang usianya empat tahun lebih muda dari Cut Nyak Din. Sejak perang meletus, Umar sudah bergabung dengan pejuang-pejuang Aceh.
Suatu kali Umar berkunjung ke tempat Nanta Setia. la bermaksud menjalin kerjasama dengan pamannya ini untuk memerangi Belanda. Umar merencanakan untuk merebut kembali daerah VI Mukim. Kerjasama antara Umar dengan Nanta Setia terwujud, dan lebih dari itu, Umar berhasil pula memperisteri Cut Nyak Din. Mereka menikah dalam tahun 1880. Empat tahun kemudian mereka berhasil merebut kembali daerah VI Mukim. Bersama-sama dengan Teuku Umar, Cut Nyak Din menyusun kembali tenaga perjuangan. la membangkitkan semangat penduduk VI Mukim agar mereka berjuang mempertahankan daerah mereka dari serangan Belanda. Bagi Cut Nya Din sendiri tiada damai dengan Belanda, sebab selain Belanda pulalah yang menyebabkan kematian suaminya, Ibrahim Lamnga. Di kalangan pejuang-pejuang Aceh, Cut Nyak Din dikenal sebagai seorang yang pantang tunduk.
Setelah kembali ke VI Mukim, Cut Nyak Din dan Umar menetap di Lampisang. Rumahnya ramai dikunjungi pejuang-pejuang, terutama golongan ulama. Tetapi di luar dugaan Cut Nyak Din, sikap Umar kemudian berubah. la mulai bekerjasama dengan Belanda, ternyata Umar mengubah taktik. la menyadari bahwa untuk memerangi Belanda secara tuntas, diperlukan senjata dan senjata itu ada di tangan Belanda. Dengan diam-diam meminta bantuan Belanda untuk memerangi daerah-daerah yang masih dikuasai pejuang-pejuang Aceh. Berkat bantuan itu berhasil menguasai beberapa daerah. Belanda percaya kepadanya. Bertempat di Banda Aceh, pada bulan Agustus 1893, Teuku Umar dilantik sebagai panglima perang dengan gelar Johan Pahlawan. la diizinkan membentuk pasukan sendiri dengan kekuatan 250 orang dan dengan persenjataan yang cukup.
Peristiwa itu sangat mengejutkan Cut Nyak Din. la tidak menduga bahwa Umar akan bekerjasama dengan musuh. Apapun alasannya, Cut Nyak Din tidak dapat membenarkan tindakan yang diambil oleh Umar. Setiap kali berjumpa dengan Umar, Cut Nyak Din menyatakan rasa tidak setujunya. Ia merasa malu menghadapi masyarakat sekitarnya. la yang selama ini dihormati masyarakat sebagai janda pahlawan dan sebagai pejuang yang pantang tunduk, kini bersuamikan seorang pengkhianat.
Teuku Umar hidup dengan segala kebesaran sebagai orang kepercayaan Belanda, di samping Cut Nyak Din yang makan hati. Hanya kesetiaan sebagai isterilah yang masih mengikatnya. Tetapi selalu menolak untuk bertemu dengan pembesar-pembesar Belanda yang sering berkunjung ke rumahnya. Baginya, Belanda tetap kaphe dan haram berhubungan dengan mereka.
Setelah hampir tiga tahun bekerjasama dengan Belanda, Umar merasa bahwa senjata yang diperolehnya sudah cukup banyak. la pun sudah banyak mengetahui cara-cara berperang Belanda. Dalam beberapa pertempuran terakhir yang dilakukannya atas nama Belanda, Umar memainkan semacam sandiwara. Sebelum serangan dimulai, menghubungi pejuang-pejuang Aceh dan mengatakan bahwa akan melakukan perang pura-pura. Pasukannya diperintahkannya melepaskan tembakan ke atas dan pejuang Aceh disuruhnya mengundurkan diri. Belanda tetap percaya bahwa Umar betul-betul ber­perang untuk kepentingan mereka dan permintaan Umar supaya senjata ditambah, selalu dipenuhi. Di luar dugaan Belanda, pada tanggal 29 Maret 1896 Teuku Umar menyatakan dirinya tidak terikat lagi dengan Belanda. la berbalik ke pihak Aceh dengan membawa lari 800 pucuk senapan beserta 25.000 butir peluru, peralatan perang lain, dan sejumlah uang.
Pemerintah Belanda gempar, tetapi Cut Nyak Din gembira. Gubernur Belanda untuk Aceh, Duykerhoff, yang selama ini sangat mempercayai Umar, dipecat dari jabatannya. Ia digantikan oleh Van Vetter, musuh lama Teuku Umar. Selain itu Pemerintah Belanda mengirim pula Kolonel Van Heutz ke Aceh dengan tugas menundukkan Umar dan menguasai seluruh Aceh. Belanda mengeluarkan ultimatum agar Umar mengembalikan semua peralatan perang yang dibawanya, karena ultimatum itu tidak diindahkan, maka Belanda melakukan tindakan keras.
Dalam bulan Mei 1896 Lampisang diserang Belanda dan rumah Cut Nyak Din dihancurkan. Kembali Cut Nyak Din mengulangi kisah lama, mengungsi ke tempat lain setelah seluruh daerah VI Mukim direbut Belanda. Ia mengikuti Umar menempuh hutan belantara menuju daerah Pidie. Di sini Umar mengadakan perundingan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh lainnya. Pasukan Belanda mengejarnya ke tempat itu. Umar menyuruh Cut Nyak Din mengungsi ke tempat yang aman, tetapi wanita ini menolak, karena ingin tetap berjuang di samping suaminya.
Dari Pidie pasukan Umar pindah ke pantai barat. Mereka bergerak menempuh daerah pegunungan yang sulit ditempuh. Umar dan pasukannya bertahan di Meulaboh sampai saatnya gugur dalam pertempuran tanggal 11 Februari 1899.
Cut Nyak Din yang sudah berumur 50 tahun itu kembali ditimpa musibah, kematian suami untuk kedua kalinya menjadi janda, tetapi hatinya puas, sebab pada akhirnya Umar berjuang di pihak Aceh dan gugur sebagai patriot.
Mayat Umar dibawa ke pedalaman Meulaboh dan dimakamkan di kampung Mugo. Di tempat ini Cut Nyak Din menghimpun kembali sisa-sisa pasukan Umar dan melanjutkan perjuangan secara gerilya. Pasukannya dalam jumlah kecil diperintahkan menyerang pos-pos Belanda yang terpencil atau menghadang pasukan Belanda yang sedang berpatroli.
Kurang lebih enam tahun Cut Nyak Din bertahan di pedalaman Meula­boh. Keadaan yang dihadapinya semakin lama semakin berat. Belanda melancarkan operasi besar-besaran. Mereka mengerahkan pasukan “marsose” yang dilatih khusus untuk perang rimba, pasukan ini terkenal kejam. Kedudukan Cut Nyak Din semakin terjepit. Bahaya lain mulai pula mengancam, bahan makanan sulit diperoleh. Kesehatan Cut Nyak Din pun mulai menurun, matanya rabun dan penyakit encok menyerang pula, Namun ia tetap tidak bersedia menyerah kepada Belanda.
Selama bertahan di pedalaman Meulaboh itu Cut Nyak Din didampingi oleh Pang Leot, orang kepercayaan dan tangan kanan Teuku Umar. Ia pun termasuk seorang pejuang yang pantang tunduk. Tetapi Ia tidak sampai hati melihat keadaan Cut Nyak Din yang semakin sengsara. Karena itulah berniat untuk mengkahiri kesengsaraan wanita itu, walaupun apa yang akan dilakukannya bertentangan dengan pendirian Cut Nyak Din, bahkan bertentangan dengan suara hatinya sendiri.
Dalam bulan Oktober 1905 Pang Leot menemui Letnan Van Vuuren dan merundingkan syarat-syarat bagi penyerahan Cut Nyak Din. Tindakan itu dilakukannya tanpa sepengetahuan Cut Nyak Din. Dalam perundingan itu dicapai kata sepakat bahwa Belanda akan menghormati Cut Nyak Din dan akan memberikan kebebasan kepada wanita ini untuk hidup sebagai orang merdeka di Banda Aceh. Van Vuuren pun berjanji bahwa penyakit Cut Nyak Din akan diobati.
Dalam minggu pertama bulan November 1905 dengan ditunjuki jalan oleh Pang Leot, Letnan Van Vuuren membawa pasukannya ke tempat kediaman Cut Nyak Din. Kedatangan pasukan musuh yang tidak diduga-duga itu sangat mengejutkan Cut Nyak Din. Sewaktu akan disergap, ia mencabut rencong dan berusaha melawan. Menyadari bahwa lawan yang dihadapinya jauh lebih kuat, maka Cut Nyak Din berusaha membunuh diri supaya tidak sampai ditawan oleh musuh. Tetapi tangannya berhasil dipegang oleh seorang serdadu Belanda. Rencongnya dirampas. Cut Nyak Din ditangkap dan kemudian dibawa ke Banda Aceh. la mendapat perawatan yang baik sesuai dengan janji Van Vuuren. Matanya diobati sehingga penglihatannya kembali normal. Penyakit encoknya berangsur-angsur membaik.
Tertangkapnya Cut Nyak Din merupakan berita besar. Masyarakat sudah lama tidak mendengar namanya. Mereka mengira bahwa ia sudah meninggal dunia di pedalaman Meulaboh. Kehadirannya di Banda Aceh menarik perhatian masyarakat. Tamu-tamu berdatangan ke rumahnya untuk melihat dan mengelu-elukan wanita pejuang ini. Keadaan itu mencemaskan Pemerintah Belanda. Bukan tidak mungkin kehadiran Cut Nyak Din akan membangkitkan kembali perlawanan terhadap Belanda. Karena itu Belanda mencari alasan untuk menjauhkan Cut Nyak Din dari masyarakat Aceh. Ia dituduh membuat permufakatan untuk melawan pemerintah. Dengan tuduhan itu Cut Nyak Din dibuang ke Sumedang, Jawa Barat.
Di Sumedang diberi sebuah rumah untuk tempat tinggal. Ia pun diberi beberapa orang pelayan. Keperluan hidupnya dicukupi. Tetapi hatinya tidak senang. Permintaannya supaya diizinkan kembali ke Aceh, tidak dikabulkan pemerintah Belanda. Ia hidup sebagai tawanan dan dalam status itulah beliau meninggal dunia.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa dan perjuangan Cut Nyak Din dalam mempertahankan kemerdekaan bangsanya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No.106, tahun 1964, tertanggal 2 Mei 1964, Cut Nyak Din dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.