MGR. A. Sugiyopranoto S.J.

 

MGR. A. Sugiyopranoto S.J

Dalam tahun 1909 gereja Katholik di Muntilan, Jawa Tengah, membuka Kolose sebagai persiapan murid-murid untuk memasuki sekolah guru. Seorang anak Indonesia berumur 13 tahun mengikuti Kolose itu. Baik kepada pimpinan Kolose maupun kepada pimpinan asrama dikatakannya bahwa Ia hanya ingin menjadi guru dan tidak ingin menjadi penganut agama Katholik. Tetapi 31 tahun kemudian, tahun 1940, beliau ditasbihkan sebagai Uskup Agung.
Anak itu berasal dari keluarga Islam. Nama kecilnya Sugiyo, lahir di Solo tanggal 25 November 1896, Ayahnya Karyosudarmo, bekerja sebagai pegawai (abdi dalem) keraton Surakarta, kemudian pindah ke Yogyakarta. Sebelum memasuki Kolose, Sugiyo yang kemudian lebih dikenal dengan nama Mgr. (Monseigneur, baca = Monsinyur) Albertus Sugiyopranoto S.J., sudah menyelesaikan pendidikannya di HIS (Hoolandsch Inlandsche School). Di Ko­lose beliau turut mendengarkan pelajaran agama (Katholik) yang diajarkan oleh Pastor Van Lith. Entah karena kepintaran pastor ini mengajar atau memang sudah merupakan panggilan jiwa Sugiyo sendiri atau disebabkan oleh hal-hal lain, nyatanya pelajaran agama itu menarik perhatiannya. Atas kemauan dan permintaan sendiri, pada malam Natal 24 Desember 1909 beliau dipermandikan sesuai dengan kebiasaan agama Katholik, pada waktu itu pula beliau memperoleh nama baptis, Albertus.
Setahun kemudian Sugiyo diterima di Sekolah Guru (Kweekschool voor Javaansche Onderwijzers). Dalam masa belajar di sekolah ini Ia memperoleh Sakramen Penguatan sebagai pemeluk agama Katholik. Tahap berikutnya ialah menempuh pendidikan calon imam. Dalam pendidikan ini beliau juga belajar bahasa-bahasa klasik, Latin dan Yunani. Untuk lebih memperdalam pengetahuan bahasa ini beliau dikirim ke Negeri Belanda pada tahun 1919 dan belajar di Gymnasium (sekolah persiapan masuk universitas). Setahun kemudian, Sep­tember 1920, Sugiyo memasuki novisiat (Panti percobaan) Sarekat Yesus di Mariendal, Grave, di bawah pimpinan Pastor P. Willkens, yang dalam tahun 1934 diangkat menjadi Vikaris Apostolik di Jakarta.
Untuk menjadi imam, orang harus menempuh pelajaran dalam waktu yang cukup lama, Ia harus tekun belajar dan setia kepada panggilan Tuhan menurut ajaran Katholik. Dalam rangka itu Sugiyo melanjutkan pelajarannya dalam ilmu filsafat selama tiga tahun. Setelah selesai, beliau disebut ”frater” (dalam bahasa Belanda disebut ”broeder”.)

Setelah kembali ke tanah air Sugiyo ditempatkan di Muntilan sebagai guru ilmu pasti, bahasa Jawa dan agama di Kweekschool, sekolahnya dulu. Pada waktu itu di Muntilan diterbitkan sebuah majalah mingguan bahasa Jawa ”Swara Tama” dan di dalam majalah ini Frater Sugiyo sering menampilkan tulisannya yang segar dan enak dibaca. Ia memang ahli bahasa Jawa sekaligus ahli kebudayaan Jawa. Di dalam kedudukannya sebagai Vikaris Apostolik Semarang dikemudian hari beliau memasukkan gamelan Jawa ke dalam gereja dengan lagu-lagu gerejani.
Pada tahun 1928 beliau meneruskan persiapan amanatnya ke negeri Belan­da. Selama di san mengalami peristiwa penting sebagai calon imam Katholik, yaitu pada tahun 1929 bersama 4 orang rekannya dari Asia diperkenankan menghadap Paus Pius XI di Vatikan, Roma, untuk menyampaikan selamat kepada pemimpin tertinggi Katholik seluruh dunia itu yang belum selang lama terpilih. Kunjungan itu amat mengesankan bagi Sugiyo dan mengilhami tulisannya yang berjudul ”Hubungan Timur dan Barat”. Sejak itulah tampak pendiriannya tentang dua macam kasihnya, yaitu pertama kepada Yesus Kristus, dan kedua kepada tanah airnya Indonesia.
Frater Albertus Sugiyo ditasbihkan bersama rekannya frater M. Reksoatmojo pada tanggal 15 Agustus 1931. Pada tanggal 5 Agustus 1933 Ia pulang ke tanah air setelah melewati imamatnya yang pertama di Belgia. Sesudah itu mulailah pengabdiannya dari gereja ke gereja.
Mula-mula Ia ditempatkan di gereja Kampemenstraat (sekarang jalan Panembahan Senopati), Yogyakarta. Kemudian sebagai pembantu pastor di ge­reja Bintaran yang sedang dibangun. Gereja Bintaran diperuntukkan umat Ka­tholik bumiputera yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantarnya sedangkan gereja di Kampemenstraat untuk bangsa Eropa dengan pengantar bahasa Belanda. Pada tahun 1936 Pastor Sugiyopranoto diserahi pekerjaan untuk melayani gereja, di Ganjuran, kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di samping itu menjadi pembimbing berbagai kelompok Konferensi Maria yang beranggotakan orang-orang Jawa. Ia menjabat pula redaktur mingguan ”Swara Tama” yang sudah dipindahkan ke Yogyakarta. Pada tahun 1938 beliau diangkat menjadi penasehat Misi Sarekat Yesus di Jawa.
Dua tahun kemudian, pada tahun 1940, gereja katholik di Indonesia memasuki masa pembagian dalam menjalankan tugas misinya. Pembagian tugas itu dilakukan dalam hal mendatangkan tenaga bantuan dari luar negeri, yaitu para misionaris. Jawa Tengah adalah daerah subur bagi agama Katholik. Oleh karenanya pada tahun 1936 didirikan ”Seminar Tinggi” bertempat di Muntilan. Dengan itu lalu direncanakan Jawa Tengah terpisah dari Jawa Barat yang Vikaris Apostoliknya bertempat di Jakarta. Dan berdirilah Vikariat Apostolik Jawa Tengah bertempat di Semarang.
Pada tanggal 2 Agustus 1940 Pastor Albertus Sugiyopranoto diangkat menjadi Vikaris Apostolik Semarang dengan gelar Mgr (Monseigneur, baca= Monsinyur). la adalah putera Indonesia pertama yang menduduki jabatan tinggi dalam dunia Katholik itu. Kepercayaan yang diberikan kepadanya merupakan suatu kehormatan bagi pemeluk Katholik Indonesia. Secara tak langsung, Sugiyopranoto turut mengangkat derajat bangsa. Pentasbihannya sebagai Uskup Agung terjadi pada tanggal 6 November 1940 di gereja Randusari, Semarang, yang sejak itu lalu berfungsi sebagai Katedral.
Kedudukan tinggi dan terhormat itu menuntut tanggungjawab yang besar. Pada bulan Maret 1942 Belanda terusir dari Indonesia oleh bala tentara Jepang. Waktu Jepang datang,

Mrg. A. Sugiyopranoto tinggal di pastoran Gedangan. Semarang. Di sana didatangi Mr. Mogami, hakim Kempetai yang melakukan penyelidikan dengan amat teliti. Kemudian sejumlah pastor, bruder, suster ditangkap dan ditahan. Hampir semua bangunan milik misi diduduki dan dipakai menjadi rumah tahanan, kecuali pastoran Gedangan. Di sana Mgr. Sugiyopranoto melakukan tugasnya dengan satu dua orang pembantunya. Di kalangan awam banyak yang ragu-ragu terhadap kemampuannya sebagai imam. Akibatnya tidak sedikit orang meninggalkan gereja. Mgr. A. Sugi­yopranoto tidak saja harus menemukan jalan keluar dari kesulitan di wilayahnya, tetapi mau tidak mau pun berkewajiban memikirkan gereja di daerah-daerah lain. Untuk itu Ia banyak memberi nasehat kepada para imam di daerah lain.
Masa pendudukan Jepang merupakan masa yang sulit bagi rakyat Indo­nesia, termasuk umat Katholik. Namun dalam keadaan demikian Sugiyopra­noto masih mampu mempertahankan integritas gerejanya dari ancaman pihak Jepang. Ketika penguasa Jepang berusaha menjadikan Kathedral Randusari sebagai kantor pemerintah, dengan tegas Sugiyopranoto menolaknya. Kepada Syucokan (residen) Jepang dikatakannya, ”Kathedral itu barang dan tempat yang disucikan. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dulu kepala saya, baru tuan boleh memasukinya.”
Dalam masa ini pula berhasil menanamkan rasa keindonesiaan di kalangan penganut Katholik Indonesia. Kepada mereka dianjurkannya agar menghayati betul-betul nasionalisme mereka, jangan sampai dicap sebagai pengikut Belanda.
Pada waktu kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Sugiyopranoto dengan cepat menyatakan dukungannya. Sikap itulah yang menjadi pedoman bagi umat Katholik Indonesia dalam perjuangan mereka turut serta mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara. Sikap itu sekaligus menghapus dugaan bahwa umat Katholik Indonesia, karena persamaan agama, akan berdiri di belakang Belanda yang berusaha menjajah Indonesia kembali.
Dalam bulan-bulan pertama sesudah Proklamasi, pihak Indonesia lebih banyak berhadapan dengan pihak Jepang. Di pertengahan bulan Oktober 1945 di Semarang meletus pertempuran dahsyat antara pemuda dengan pasukan Jepang. Pertempuran itu dikenal dengan nama ”Pertempuran Lima Hari di Semarang.” Pada saat pertempuran sedang berlangsung dengan sengit, pasukan Sekutu mendarat di pelabuhan Semarang dengan tugas melucuti pasukan Jepang. Komandan Sekutu, seorang Inggris, minta akan mengadakan perundingan dengan Jepang di pendapa pastoran Gedangan. Permintaan itu disetujui oleh Uskup Agung. Waktu perundingan sedang berjalan, datanglah seorang opsir jepang pada Mgr. Sugiyopranoto memberitahukan rencananya akan menjebak pemuda-pemuda Indonesia di emplasemen Jumatan. Kalau ini terjadi, korban tentu banyak sekali.
Sugiyopranoto sedang memikir-mikir sambil berdoa apakah yang hendak dijalankan, tiba-tiba datanglah seorang pemuda dari kampung Gedangan masuk dengan melompati pagar pastoran. la memberitahukan, bahwa rakyat di kampung-kampung menderita kelaparan akibat pertempuran yang masih berjalan. Sugiyopranoto lalu menemui Komandan Sekutu yang sedang berunding dan mendesak agar mereka memerintahkan gencatan senjata karena keadaan rakyat sudah amat kritis sekali. Desakan itu berhasil dan gencatan senjata diadakan pada tanggal 20 Oktober 1945 pukul 17.00. Dengan demikian rencana Jepang hendak menjebak pemuda-pemuda di emplasemen Jumatan yang dikhawatirkan Mgr. A. Sugiyopranoto menjadi gagal, sekalipun gen­catan senjata itu tidak seluruhnya berhasil. Di sana-sini masih terjadi pertem­puran. Kemudian atas prakarsa sendiri sebagai pemimpin umat Katholik, Mgr. Sugiyopranoto mengirimkan dua orang utusan, yaitu R.S. Dwijosiswoyo (Katholik) dan Kadarisman yang beragama Islam, dengan naik kapal terbang ke Jakarta untuk menyampaikan permintaan agar Pemerintah RI segera mengirimkan utusan untuk selekasnya menangani masalah Semarang. Maka datanglah Mr. Ikhsan sebagai utusan RI sehingga Semarang dapat diselamatkan dari penderitaan dan kekacauan yang lebih parah.

Semasa Agresi Militer II Belanda (1948-1949) Mgr. Sugiyopranoto menetap di Yogyakarta untuk menunjukkan, bahwa umat Katholik Indonesia berdiri di belakang Pemerintah RI. Selama itu secara teratur dengan perantaraan kurir Ia mengadakan kontak antara gereja Bintaran dengan kraton (Sri Sultan HB IX). Umat Katholik mematuhi pimpinan Mgr. Sugiyopranoto dengan baik dan memberikan bantuan dan perlindungan kepada para pejuang antara lain seperti yang dilakukan oleh Rumah Sakit ”Panti Tanti Rapih” dengan para susternya melindungi para pejuang kita dengan dalih apapun juga.
Dalam tahun 1962 Mgr. Sugiyopranoto diiringi oleh sekretarisnya. Pas­tor (Rama) R. Hardowiryono S. J. terbang ke Vatikan untuk menghadiri Sidang Konsili Vatikan II memilih Paus baru. Waktu itu kesehatannya sudah mulai mundur, namun masih dapat menghadiri sidang itu hingga selesai dan pulang ke Indonesia. Ia bergegas pulang karena Indonesia masih dalam sengketa dengan Belanda dan Ia tidak mau melewatkan waktu untuk tidak mengikuti perkembangannya dan tidak mau berdiri sebagai outsider, orang luar.
Sejak permulaan tahun 1963 kesehatan Mgr. Sugiyopranoto mulai mundur lagi. Pada tanggal 30 Mei 1963 meninggalkan Indonesia untuk mengikuti lanjutan Sidang Konsili Vatikan II dan selanjutnya untuk berobat ke negeri Belanda. Ia masih sempat menghadiri Sidang Konsili yang kemudian bergelar Paus Paulus VI. Kemudian beliau meneruskan perjalanannya ke nege­ri Belanda dan berobat di Rumah Sakit Nijmegen.
Rupanya kesehatannya makin mundur. Pada tanggal 22 Juli 1963 beliau mendapat serangan jantung dan sesak nafas, kemudian pada pukul 22.00 beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mgr. Albertus Sugiyopranoto S.J. wafat setelah menjalankan pengabdian selama 23 tahun. Jenazahnya diterbangkan ke Indonesia dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal Se­marang dengan mendapat penghormatan militer.
Selama menjadi Uskup Agung, Sugiyopranoto tidak hanya melakukan adaptasi ke dalam masyarakat, tetapi juga memasukkan unsur-unsur budaya Indonesia ke dalam upacara gereja. Dalam tahun 1956 memberi izin kepada semua pastor untuk menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dalam upacara sakramen permandian. Beliau juga menganjurkan pemakaian iringan gamelan dalam pelaksanaan liturgi sebagai pengganti orgel.
Pemerintah RI dengan Surat Keputusan Presiden No.152 Tahun 1963 tanggal 26 Juli 1963 menganugerahi Uskup Agung Mgr. Sugiyopranoto S.J. gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.