Kyai Haji Agus Salim

 

K.H. Agus Salim

Sekitar tahun 1920 Sarekat Islam sudah berkembang menjadi partai massa, tetapi pada waktu itu pula mulai terasa adanya ancaman terhadap asas utama partai itu. Sebagian anggota, terutama yang tergabung dalam SI cabang Semarang, sudah diperingaruhi oleh faham komunis. Faham yang berdasarkan atas serba materialis itu sudah jelas bertentangan dengan Islam yang menjadi asas SI. Menyadari bahaya itu, dua orang anggota pengurus pusat SI dalam Kongres SI tahun 1921 mengajukan usul agar SI melaksanakan disiplin partai. Usul itu diterima oleh kongres, SI lalu mengeluarkan larangan bagi setiap anggota menjadi anggota organisasi atau partai lain. Anggota-anggota yang sudah dipengaruhi komunisme meninggalkan SI, dengan demikian SI dibersihkan dari faham komunis.
Salah seorang anggota pengurus pusat yang mengajukan usul tersebut ialah Haji Agus Salim. Beliau dilahirkan tanggal 3 Oktober 1884 di Kota Gedang, dekat Bukittinggi. Sumatera Barat. Ayahnya bernama Sutan Muhammad Salim. seorang jaksa kepala yang pernah bertugas di Riau dan Medan. Jabatan ayahnya itulah yang memungkinkannya menempuh pendidikan pada ELS (Europese Lagere School = Sekolah Dasar Belanda) dan kemudian dilanjutkan di HBS (Hogere Burgere School). Tamat dari HBS Agus Salim tidak bersedia lagi melanjutkan sekolahnya, la memilih untuk belajar sendiri. Cara itu kemudian dipraktekannya pula terhadap anak-anaknya. Anak-anak Agus Salim tidak dikirim ke sekolah, tetapi diajar sendiri di rumah.
Dari hasil belajar di HBS dan dari belajar sendiri, Agus Salim dapat menguasai beberapa bahasa asing, yakni bahasa-bahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Turki dan Jepang. Di samping itu beliau juga menguasai bahasa-bahasa daerah Minangkabau, Melayu, Sunda, dan Jawa.
Sebelum menceburkan diri dalam kegiatan politik melalui Sarekat Islam, kehidupan Agus Salim memperlihatkan kehidupan seorang yang gelisah. Ia berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, mula-mula Ia bekerja sebagai penterjemah dan kemudian sebagai pembantu notaris. Sesudah itu beliau merantau ke Indragiri dan Riau, dan akhirnya ke Jedah, Saudi Arabia. Di sini beliau mempelajari Islam secara lebih mendalam, sambil bekerja di kantor konsulat Belanda di kota itu. Mempelajari Islam menyebabkan beliau berkenalan dengan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh modernis Islam seperti Muhammad Abduh dan Jamaludin Al Afghani. Pekerjaannya sebagai pegawai konsulat Belanda, beliau bekerja di kantor konsulat Belanda hanya untuk memenuhi keinginan orang tuanya yang selalu mendesak agar beliau menjadi pe­gawai negeri, namun kesempatan itu dimanfaatkannva untuk mempelajari seluk-beluk diplomasi internasional yang kelak akan sangat berguna baginya.

Tahun 1911 Agus Salim kembali ke tanah air, untuk beberapa waktu lamanya Ia bekerja pada Burgerlijke Openbare Werken (Pekenaan Umum). Setahun kemudian beliau pulang ke kampung halamannya kota Gedang. dan mendirikan HIS (Holland Inlandse School) yang diasuhnya sampai tahun 1915. Waktu kembali ke Jakarta, beliau bekerja sebagai penterjemah pada ”Indonesische Drukkerij” dan kemudian sebagai redaksi bahasa pada Balai Pustaka. Dari tempat terakhir ini beliau pindah ke ”Bataviasche Nieuwsblad”. Sejak saat itu pula beliau mulai rajin menulis artikel.
Karir politik Agus Salim dimulai dalam Sarekat Islam. Perkenalannya dengan SI merupakan cerita tersendiri. Pihak-pihak yang tidak menyenangi SI menyiarkan desas-desus bahwa SI akan melancarkan pemberontakan secara besar-besaran. Pemerintah Hindia Belanda segera mengadakan penyelidikan. Agus Salim yang mempunyai hubungan baik dengan pihak PID (Polisi Politik) mendapat tugas untuk turut serta dalam penyelidikan itu walaupun sejak semula beliau sudah yakin bahwa desas-desus itu tidak didukung oleh kenyataan. Dalam rangka penyelidikan itu beliau berkenalan dengan Haji Umar Said Cokroaminoto ketua SI. Perkenalan ini membawa perubahan dalam sikap Agus Salim. Beliau tertarik dengan perjuangan SI dan langsung menjadi anggotanya. Hubungannya dengan PID diputuskannya sama sekali.
Begitu masuk SI Agus Salim langsung duduk sebagai anggota pengurus pusat, namanya cepat dikenal berkat pemikiran-pemikirannya yang didukung oleh pengetahuannya yang luas mengenai berbagai hal. Dalam tahun 1919, bersama Semaun, beliau mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh. Organisasi ini menuntut kepada Pemerintah Belanda supaya di Indonesia segera didirikan Dewan Perwakilan Rakyat yang sesungguhnya. Agus Salim turut mengorganisir pemogokan buruh di beberapa tempat seperti Semarang, Surabaya dan Cirebon sebagai senjata buruh untuk menuntut kenaikan gaji.
Menyadari perlunya digalang persatuan di kalangan umat Islam. Agus Salim melontaskan gagasan tentang pembentukan Pan Islamisme. Dalam Kongres Al Islam di Garut tahun 1924 yang diadakan berkat kerjasama antara SI dan Muhammadiyah. Agus Salim menguraikan fungsi agama dan ilmu pengetahuan serta hubungan antara Islam dan sosialisme. Dikatakannya bahwa dalam Islam sebenarnya sudah terkandung unsur-unsur sosialisme, bahkan Islam sudah lebih dahulu mengajarkan sosialisme daripada Marx dan Engels, beliau menganjurkan pula agar para cendekiawan Islam mempelajari ilmu-ilmu sosial, supaya mereka mampu menunjukkan unsur-unsur sosialisme dalam Islam.
Dalam perjuangan politik, pada mulanya Agus Salim menganut aliran kooperasi, yakni mencapai kemerdekaan bangsa melalui kerjasama dengan pemerintah jajahan. Karena itulah antara tahun 1921 – 1924 beliau bersedia duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat) menggantikan Cokroaminoto. Kesempatan ini dipakainya untuk mengecam tindakan-tindakan pemerintah yang banyak menyengsarakan rakyat. Beliau berpidato dalam Volksraad menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) dan menuntut agar bahasa ini digunakan sebagai bahasa resmi dalam Volksraad. Lama-kelamaan Agus Salim menyadari bahwa perjuangan dalam Volksraad tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Beliau berpendapat bahwa Volksraad tidak lebih dari sebuah komidi among dan nasib rakyat tidak dapat diperbaiki dengan cara seperti itu. Kare­na itulah dalam tahun 1924 beliau keluar dari Volksraad dan mulai menganut aliran non-kooperasi, yakni menolak bekerjasama dengan pemerintah jajahan.

Pandangan Agus Salim mengenai nasionalisme dibentangkannya dalam Kongres Luar Biasa Al Islam di Surabaya. Dikatakannya bahwa nasionalisme berdasarkan Islam adalah sama dengan memajukan bangsa berdasarkan Islam. Pernyataan itu disambut Cokroaminoto dengan gerakan tandzim, yaitu gerakan untuk menyusun kehidupan rakyat, baik dalam ekonomi, maupun budaya dengan asas Islam.
Sebagai seorang yang berpengalaman di bidang pers, Agus Salim mengusahakan terbitnya surat kabar yang dapat dijadikan sarana untuk mencurahkan pemikiran politiknya. Bersama dengan Cokroaminoto pada tahun 1925 beliau menerbitkan harian Fajar Asia di Yogyakarta. Di samping itu beliau juga memimpin harian Hindis Baru yang terbit di Jakarta. Berkat tulisan-tulisannya, namanya semakin dikenal sehingga beliau diangkat menjadi Sekretaris Umum Muktamar Alam Islami Sedunia cabang Hindia Timur (Indonesia) yang diketuai oleh Cokroaminoto dan wakil ketua Wondoamiseno. Namanya di­kenal pula di luar negeri Dalam tahun 1929 beliau diangkat menjadi penasehat teknis delegasi Serikat Buruh Negeri Belanda ke konferensi kaum buruh internasional di Jenewa (Swiss). Dalam konferensi ini beliau berpidato dalam bahasa Perancis yang membuat orang kagum atas kemahirannya menggunakan bahasa tersebut, dan sekaligus menaikkan nama Indonesia di luar negeri.
Di kalangan pemuda-pemuda Islam, nama Agus Salim pun cukup dikenal dan disegani, beliau pernah diangkat menjadi penasehat Jong Islamieten Bond (JIB), sebuah organisasi pemuda yang bertujuan memajukan pengetahuan, hidup dan persatuan Islam.
Kedudukan wanita dalam masyarakat tidak pula luput dari perhatian Agus Salim. Beliau menyerukan agar dalam lingkungan wanita Islam diberlakukan emansipasi. Ditegaskannya bahwa wanita dan laki-laki mempunyai hak yang sama. Dalam salah satu kongres JIB beliau membahas masalah kudung dan pemisahan wanita. Dianjurkannya agar dalam rapat-rapat yang dihadiri oleh laki-laki dan wanita, tidak perlu diadakan lagi tabir yang memisahkan kedua golongan tersebut.
Dalam tahun 1930 pergerakan nasional mengalami masa suram. Pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik tangan besi. Partai-partai politik ditindas dan pemimpin-pemimpinnya ditangkap atau dibuang. Dalam situasi demikian beberapa partai menempuh taktik kooperasi agar masih bisa bergerak. Agus Salim pun menempuh taktik ini. Setelah Cokroaminoto meninggal tahun 1934. Agus Salim diangkat sebagai ketua Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), nama yang dipakai SI sejak tahun 1929. Masalah kooperasi dan non-kooperasi menimbulkan pertentangan dalam PSII. Agus Salim yang berhaluan koperasi meninggalkan partai. Dengan beberapa temannya beliau mendirikan Barisan Penyedar, tetapi organisasi ini tidak berkembang dengan baik.
Pada awal zaman Jepang, Agus Salim menolak untuk bekerjasama dengan pemerintah Jepang. Ia hidup sebagai penjual arang. Barulah atas desakan Ir. Sukarno beliau memasuki Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Empat Serangkai (Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur). Demikian dan untuk selanjutnya Agus Salim kembali aktif di dunia politik. Menjelang masa akhir zaman Jepang, beliau diang­kat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indo­nesia (PPKI).

Badan Penyelidik membentuk panitia yang disebut Panitia Sembilan dan menghasilkan ”Piagam Jakarta”. Agus Salim duduk sebagai anggota Panitia Sembilan. Beliau juga duduk dalam Panitia Perancang Undang-undang Dasar, dan sekaligus anggota penghalus bahasa bersama Prof. Supomo dan Prof. Husein Jayadiningrat.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus Agus Salim aktif mengambil bagian dalam bidang diplomasi. Beliau duduk di dalam Kabinet Parlementer sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (tanggal 2 Oktober 1946 – 2 Juli 1947), lalu Menteri Luar Negeri, dari 3 Juli 1947 hingga Agresi Militer II Belanda.
Kecakapannya di dalam diplomasi menonjol pada waktu beliau menjadi Penasehat Perdana Menteri Sutan Syahrir dalam perundingan dengan wakil Belanda: Van Mook. Dalam bulan Maret 1947 beliau diutus ke New Delhi, India, untuk menghadiri Inter Asian Relation Conference kemudian mengunjungi negara-negara Arab dengan tugas mengusahakan pengertian sedalam-dalamnya dan negara-negara Arab tentang kemerdekaan Indonesia. Misi itu berhasil hingga negara-negara Arab menyokong RI di dalam persidangan PBB.
Waktu Belanda menduduki Yogyakarta. H. Agus Salim bersama-sama Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri-menteri Rl ditangkap dan diasingkan ke Sumatera. Para pemimpin itu mula-mula diasingkan ke Brastagi, lalu dipindahkan ke Prapat dan akhirnya ke Bangka. Setelah pengalihan kedaulatan, H. Agus Salim beralih ke bidang pendidikan. Pada tahun 1953 beliau memberikan kuliah agama Islam di Cornell dan Priceton University di Amerika Serikat.
Haji Agus Salim lebih meletakkan arti Islam sebagai pandangan hidup setiap pribadi Muslim yang sadar akan tugas dan kewajibannya di tengah-tengah masyarakat bangsanya. Sebagai hasil penyelidikannya atau ijtihod, yang dipeloporinya, maka pandangannya terhadap berbagai masalah agama bercorak tersendiri. Beliau selalu berfikir tentang apa yang dilihatnya serta yang dialaminya Beliau menyelidiki Al-Quran dan mengadakan perbandingan ajaran-ajaran Islam dengan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai di dunia Barat. Akhirnya Haji Agus Salim membuat kesimpulan, bahwa umat Islam mundur lantaran salah dalam menafsirkan ajaran Islam.
Salah satu ciri khas H. Agus Salim ialah berbicara lucu, tetapi pedas dan mengenai sasaran. Hal itu tampak dalam tulisan-tulisan dan dalam pidato-pidatonya, Ia mampu memberikan reaksi yang cepat terhadap lawan bicaranya atau orang-orang yang sengaja mengejeknya. Dalam salah satu pidato yang diucapkannya dalam bahasa Melayu di Volksraad, Ia menggunakan istilah ”ekonomi”. Bergmeyer, seorang anggota Volksraad berkebangsaan Belanda, dengan nada meremehkan menanyakan kepada Agus Salim apakah istilah ekonomi itu ada dalam bahasa Melayu. Dengan cepat Agus Salim menantang Bergmeyer untuk menterjemahkan istilah ekonomi ke dalam bahasa Belanda dan kemudian Ia akan menterjemahkannya ke dalam bahasa Melayu. Bergmeyer terdiam, karena kata ekonomi dalam bahasa Belanda pun tidak ada yang sungguh-sungguh tepat.
Tahun 1953 Agus Salim menghadiri upacara pelantikan Ratu Elizabeth II. Beliau hadir sebagai wakil pemerintah Rl. Dalam upacara resmi itu beliau mengisap rokok kretek yang baunya tidak enak bagi hidung orang lnggris. Duke of Edinburgh, suami Ratu Elizabeth, bertanya kepada hadirin, dari mana datangnya bau busuk itu. Dengan tenang Agus Salim menjawab, ”Yang Mulia, bau yang tidak enak itu ialah bau rokok kretek yang sedang saya hisap, yang terbuat dari tembakau dan cengkeh. Anda boleh saja tidak menyukainya, tetapi bau inilah yang telah menarik minat orang-orang Eropa datang ke negeri kami.
Menjelang akhir hayatnya, Agus Salim diangkat menjadi guru besar pada Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Belum sempat tugas itu dijalankannya, beliau sudah meninggal dunia pada tanggal 4 November 1954. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.
Buah pikiran Agus Salim dapat diikuti antara lain dalam buku Jejak Langkah Haji Agus Salim. Dikalangan diplomat luar negeri, beliau dikenal dengan sebutan The Grand Old Man of Indonesia. Pemerintah Rl menghargai jasa-jasa yang telah disumbangkannya kepada bangsa dan tanah air. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.657 tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961, Haji Agus Salim dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.

Posted in Pahlawan Nasional.