Kyai Haji Ahmad Dahlan

 

K.H. Ahmad Dahlan

Buat pertama kalinya nama Kyai Haji Ahmad Dahlan menjadi bahan pembicaraan masyarakat, khususnya masyarakat Yogyakarta, ialah ketika beliau dalam tahun 1896 membetulkan arah kiblat di langgar-langgar dan mesjid-mesjid di Yogyakarta. Biasanya tempat-tempat ibadat itu menghadap ke timur dan orang bersembahyang menghadap lurus-lurus ke barat. Berdasarkan ilmu falak, cabang ilmu yang sangat dikuasai Dahlan, arah kiblat dari pulau Jawa condong kira-kira 24,5 derajat ke utara. Dengan dasar itulah beliau membetulkan garis-garis saf di mesjid besar Yogyakarta. Masyarakat menjadi goncang dan reaksi pun datang. Garis-garis saf yang dibuat Ahmad Dahlan dihapus, beliau dicacimaki, bahkan suraunya sendiri dibakar orang. Barulah kemudian masyarakat menyadari bahwa apa yang dilakukan Dahlan adalah benar.
Peristiwa lain yang membuat nama Ahmad Dahlan semakin dikenal ialah tentang penentuan hari raya Ied. Menurut perhitungan Ahmad Dahlan, hari raya jatuh besok, bukan lusa seperti yang dianggap oleh orang banyak. Malam hari sebelum hari raya beliau menghadap Sri Sultan dan memperlihatkan hisab dan ru’yat. Setelah bertukar pikiran, Sultan menerima perhitungan Ahmad Dahlan.
Kedua peristiwa itu menggambarkan betapa luas pengetahuan Ahmad Dahlan dalam masalah-masalah keagamaan dan sekaligus memperlihatkan keberaniannya untuk membetulkan apa yang salah, tetapi namanya akan lebih dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Muhammadiyah, organisasi sosial yang menitikberatkan usahanya di bidang pendidikan agama, studi-studi tentang Islam dan memajukan kehidupan beragama di kalangan umat Islam.
Ahmad Dahlan yang semasa kecil bernama Muhammad Darwis dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1868. Beliau adalah putera keempat dari Kyai Haji Abubakar, khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Dahlan memperoleh pendidikan agama di pesantren dan kemudian memperdalam pe­ngetahuan tentang qirat, tauhid, tasawuf, dan ilmu falak di Mekah ketika beliau memperoleh kesempatan menunaikan ibadah haji. Beliau gemar pula membaca buku-buku pengetahuan, terutama yang berisi semangat pembaharuan Islam. Dalam kehidupan pribadi sebagai pedagang, beliau sering berkunjung ke berbagai kota. Kesempatan itu digunakannya untuk mengetahui secara mendalam keadaan kaum muslimin di tempat-tempat yang dikunjunginya. beliau-pun mengunjungi ulama-ulama terkemuka dan bertukar pikiran dengan mereka mengenai berbagai hal yang menyangkut masalah-masalah keagamaan.

Dari pengamatan yang dilakukan Ahmad Dahlan, beliau sampai kepada kesimpulan bahwa umat Islam Indonesia sedang mengalami kemunduran. Sebab-sebabnya ialah tidak adanya persatuan di kalangan umat Islam sendiri, sehingga pemerintah Belanda dengan mudah mematahkan kekuatan-kekuatan Islam. Sebab-sebab lain ialah masih kuatnya mistik, animisme dan sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha yang mempengaruhi tingkah laku umat Islam.
Untuk menghilangkan keadaan yang tidak menguntungkan itu harus diadakan pembaharuan cara berpikir. Menurut Ahmad Dahlan, pembaharuan itu harus dimulai melalui kegiatan-kegiatan sosial. Sesuai dengan pendapat itu, maka Ahmad Dahlan pun giat mengadakan dakwah dan memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah, termasuk sekolah-sekolah pemerintah. Di Kweekschool di Jetis dan OSVIA (Opleiding School voor Inlandse Ambtenaren) di Magelang, beliau memberikan pelajaran agama. Atas desakan beberapa orang ulama dan guru-guru serta murid-muridnya di Kweekschool. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah organisasi yang diberinya nama Muhammadiyah. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta tanggal 18 November 1912. Hampir dua tahun kemudian yakni tanggal 22 Agustus 1914, Muhammadiyah diakui pemerintah Belanda sebagai badan hukum, namun pemerintah mengadakan pembatasan: Muham­madiyah hanya boleh didirikan di daerah Yogyakarta. Karena adanya pem­batasan itu, Ahmad Dahlan meminta kepada pengikut-pengikutnya di luar Yogya supaya mendirikan organisasi dengan nama lain. Dari luar organisasi-orsanisasi itu tampak berdiri sendiri dan tidak ada hubungan satu dengan yang lain. tetapi sebenarnya adalah Muhammadiyah. Dengan cara demikian berdirilah Nurul Islam di Pekalongan, Al Munir di Ujung Pandang, Al Hidayai di Garut, Sidik Amanat Fathonah di Solo, dan sebagainya. Barulah pada tahun 1921 pemerintah mengizinkan Muhammadiyah mendirikan cabang-cabangnya di daerah-daerah.
Pada masa-masa awal itu Ahmad Dahlan bukan saja mendapat pujian, tetapi juga celaan dari orang-orang yang tidak menyukainya. Beliau dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi Islam, beliau dituduh pula sebagai kyai palsu, karena meniru-niru cara Kristen. Pada waktu berdakwah di Banyuwangi beliau diancam akan dibunuh karena beliau tidak bersedia menjawab pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah. Para penantangnya berteriak, ”Dahlan kalah, Dahlan kyai palsu.” Ia pun diancam akan dipancung dan isterinya akan dijadikan pelayan, kalau berani datang lagi ke Banyuwangi. Tetapi Ahmad Dahlan tidak gentar menghadapi tantangan itu. Pada waktu yang sudah ditentukan beliau kembali ke Banyuwangi, walaupun teman-temannya meminta supaya niat itu dibatalkan. Polisi Banyuwangi pun menganjurkan agar kembali ke Yogya. Ahmad Dahlan hanya menjawab, ”Kalau orang-orang yang durhaka sampai berani berbuat demikian, mengapa kita yang berkewajiban menyiarkan ajaran yang benar harus takut dan kurang berani? Saya akan berbuat kebaikan dengan menerangkan agama yang benar, tetapi mereka akan berbuat jahat dengan membunuh saya. Mengapa orang yang berbuat kebaikan yang saudara larang, bukan mereka yang bermaksud jahat?”
Sebelum mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan sudah memasuki organisasi lain, baik yang berdasarkan nasionalisme maupun yang berdasarkan agama. Beliau pernah duduk dalam kepengurusan Budi Utomo Cabang Yogyakarta, la pun pernah menjadi anggota pengurus Sarekat Islam. Persahabatannya dengan tokoh-tokoh nasionalis cukup akrab, antara lain dengan Ki Hajar Dewantara dan dengan Raden Ngabei Dwijosewoyo, guru bahasa Melayu di Kweekschool Jetis yang pernah menjadi Sekretaris Pengurus Besar Budi Utomo dan kemudian menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat).

Pengalaman dalam perkumpulan-perkumpulan tersebut, termasuk keanggotaannya dalam Jamiatul Khair, merupakan latihan yang sangat berharga bagi Ahmad Dahlan yang kelak akan diterapkannya dalam membina Muhammadiyah. Bahkan setahun sebelum Muhammadiyah didirikan, Ia terlebih dahulu sudah mendirikan sebuah sekolah yang disebutnya ”Sekolah Muhammadiyah”. Sekolah ini tidak bertempat di surau dengan murid-murid duduk di lantai seperti lazimnya waktu itu, tetapi bertempat di sebuah gedung milik ayahnya. Murid-muridnya duduk dibangku seperti di sekolah pemerintah. Di sekolah ini bukan hanya pelajaran agama yang diberikan, tetapi juga berhitung, ilmu bumi, ilmu hayat, dan sebagainya.
K.H. Ahmad Dahlan bukanlah seorang politikus. Ia memilih lapangan sosial dan pendidikan sebagai medan baktinya untuk kepentingan agama dan masyarakat. Sebagai pendidik, beliau berpendapat, bahwa ilmu tanpa agama adalah berbahaya bagi anak-anak muda. la juga memberikan perhatian yang khusus bagi pendidikan anak-anak perempuan, sebab kalau hanya anak laki-laki saja yang maju, sedangkan anak-anak perempuan tetap terbelakang, maka dalam masyarakat akan timbul kepincangan. Untuk itulah beliau mendiri­kan Aisyiah, tahun 1918. Untuk perkembangan generasi muda, Dahlan men­dirikan organisasi pramuka, yakni Hizbul Wathan. Dalam Hizbul Wathan ini anak-anak muda digembleng agar berjiwa kesatria dan memiliki sifat tolong-menolong antara sesama manusia.
Dalam melaksanakan cita-citanya, Ahmad Dahlan tidak hanya memberi komando dari belakang, tetapi beliau ikut aktif memelopori di depan. la pun berpendapat bahwa ilmu harus diamalkan, diwujudkan dalam perbuatan nyata. Suatu kali beliau memberikan pelajaran tentang tafsir kepada anak-anak didiknya. Ketika sampai pada pembahasan tafsir Surat Al ma’un, pelajaran seolah-olah terhenti. Ahmad Dahlan mengulang tafsir itu berkali-kali, padahal murid-muridnya sudah fasih menghafalkannya. Para murid menjadi bosan, salah seorang di antara mereka, yakni Sujak, memberanikan diri bertanya mengapa Ahmad Dahlan mengulang-ulangi tafsir tersebut tanpa henti-hentinya. Ahmad Dahlan menerangkan, bahwa Surat Al ma’un itu harus diamalkan, bukan hanya untuk dihafal. Jawaban itu cukup mengherankan murid-murid, sebab selama ini mereka hanya mengetahui bahwa ayat-ayat Quran hanya untuk dihafalkan. Dalam Surat Al ma ’un itu disebutkan bahwa orang-orang yang mengusir anak yatim dan orang-orang yang tiada menyuruh memberi makan orang-orang miskin, termasuk orang-orang yang mendustakan agama.
Sesudah itu Ahmad Dahlan mengajak para murid pergi ke pasar. Di sana anak-anak miskin, anak-anak yatim dan anak-anak gelandangan diberi santunan. Demikian pula para pengemis di jalan-jalan dikumpulkan. Mereka semuanya dibawa ke Mesjid Agung. Ahmad Dahlan sudah menyediakan sabun, pakaian bekas dan makanan. Semua fakir miskin itu dimandikan hingga bersih dan diberi pakaian serta makanan.
Sesudah Muhammadiyah berdiri agak kukuh, maka mulailah Ahmad Dahlan melakukan usaha-usaha yang lebih besar dan terarah, kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial semakin ditingkatkan Muhammadiyah mendirikan rumah-rumah pengobatan, rumah-rumah sakit, panti asuhan, pemeliharaan orang miskin, sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah. Semua itu dibangun dengan tenaga sendiri. Zakat, derma, dan sedekah digiatkan. Bantuan datang dari berbagai lapisan masyarakat dan dari berbagai pelosok.

Di sekolah-sekolah Muhammadiyah diberikan pelajaran bahasa Belanda dan pelajaran umum, tidak semata-mata bersifat agama. Melalui sekolah-sekolah ini ia mengadakan pembaharuan di bidang keagamaan. Karena itulah pada mulanya beliau dianggap sebagai kyai palsu. Namun pada akhirnya masyara­kat menerima perubahan-perubahan yang dilakukan Dahlan. sebab ternyata besar manfaatnya bagi perkembangan masyarakat, khususnya kaum Muslimin.
K.H. Ahmad Dahlan bekerja hampir-hampir tidak mengenal istirahat. Ketika beliau mulai sakit-sakitan, dokter menasehatkan supaya beliau beristirahat. Nasehat itu tidak diindahkannya. Kepada isterinya dikatakannya, ”Saya mesti kerja keras untuk meletakkan batu pertama dari amal yang besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan atau saya hentikan lantaran sakitku ini, maka tidak ada orang yang sanggup meletakkan dasar itu. Saya sudah merasa bahwa umur saya tidak akan lama lagi, maka jika saya kerjakan selekas mungkin, yang tinggal sedikit itu mudahlah yang di belakang nanti untuk menyempurnakannya.”
Sesudah mengalami sakit beberapa waktu lamanya, akhirnya Kyai Haji Ahmad Dahlan meninggal dunia pada tanggal 23 Februan 1923. Jenazahnya dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta. Kepergiannya sangat mengejutkan Muhammadiyah dan masyarakat umum.
Ahmad Dahlan telah memberikan sesuatu yang berarti bagi perkembangan masyarakat bangsanya, khususnya perkembangan umat Islam. Organisasi sosial yang didirikannya sampai saat ini masih tetap berdiri. Pemerintah RI menghargai perjuangan dan jasa-jasa yang telah diberikan oleh K.H. Ah­mad Dahlan. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.657 tahun 1961 tertanggal 27 Desember 1961, K.H. Ahmad Dahlan dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.