Dr. G.S.S.J. Ratulangie

 

Dr. G.S.S.J. Ratulangie

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi yang lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi lahir pada tanggal 5 November 1890 di desa Tangkuramber, di tepi Danau Tondano, Minahasa. Beliau adalah anak ketiga dari suami isteri Yozias Ratulangi dan Agustius Gerungan. Sam Ratulangi mempunyai dua kakak wanita dan seorang adik laki-laki. Ayahnya Jozias, bekerja sebagai guru Hoffden School (setingkat SMP) yang sering juga disebut Sekolah Raja, beliau pernah belajar di Negeri Belanda dan memperoleh ijazah Rijks Kweekschol (Sekolah Guru Kerajaan). Kedudukan itu memungkinkan beliau menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang cukup baik.
Umur enam tahun Sam dimasukkan Europese Lagere School (ELS) di Tondano. la memiliki otak yang cerdas. Setelah tamat ELS, Sam meneruskan pelajarannya ke Hoofden School. Ketika bersekolah di sini beliau sering berhubungan surat-menyurat dengan saudara sepupunya yang ketika itu berseko­lah di STOVIA (Sekolah Dokter di Jakarta). Cerita saudara sepupunya tentang sekolah itu menarik perhatian Sam sehingga beliau pun berniat untuk berse­kolah di STOVIA. Kebetulan beliau lulus dari Hoffden School dengan nilai baik dan karena itu beliau berhak mendapat beasiswa dari pemerintah.
Dalam tahun 1904 Sam Ratulangie meninggalkan Minahasa, berangkat ke Jakarta. Ternyata apa yang diceritakan saudara sepupunya tentang STOVIA berbeda dengan apa yang disaksikannya. Karena itu niat untuk masuk STOVIA dibatalkannya, beliau masuk sekolah teknik, yakni Koningin Wilhelmina School (KWS), juga di Jakarta, beliau memilih jurusan mesin. Dalam tahun 1908 beliau tamat dengan nilai baik.
Sesudah itu beliau bekerja di bagian pembangunan kereta api di Priangan Selatan. Beliau senang bekerja di tempat ini karena lapangan kerja itu sesuai dengan pengetahuan yang didapatnya di KWS, tetapi segera pula Ia merasakan perlakuan tidak adil dari pihak perusahaan terhadap dirinya. Sebagai orang Indonesia beliau memperoleh gaji yang lebih rendah daripada pegawai Belanda walaupun pangkat dan dasar pendidikan mereka sama. Pegawai Belanda dibolehkan tinggal di hotel dan sewanya dibayar oleh perusahaan, sedangkan Ia harus menyewa rumah sendiri di daerah perkampungan. Rasa kebangsaannya tersinggung, lalu beliau bemiat untuk melanjutkan sekolahnya agar beliau bisa melebihi orang-orang Belanda di bidang ilmu pengetahuan.

Sam Ratulangi mulai belajar lagi untuk memperoleh Middelbare Acte (Tingkatan menengah) dalam ilmu pasti dan ilmu pendidikan. Dalam saat itu pula beliau menerima telegram dari kampung asalnya yang mengabarkan bahwa ibunya sakit keras. Beliau berhenti belajar dan segera pulang ke Tondano, beliau masih sempat bertemu dengan ibunya sebelum ibunya meninggal dunia.
Setelah urusan keluarga selesai, beliau memutuskan untuk segera meninggalkan Tondano, bagian warisannya dijual untuk biayanya melanjutkan sekolah ke Negeri Belanda. Pada awal tahun 1912 beliau berangkat bersama-sama dengan Samsi T.G. Mulia, Gunawan Mangunkusumo, W. Laoh dan Samud.
Awal tahun 1912 Sam Ratulangi tiba di Amsterdam, di sini beliau melan­jutkan sekolahnya yang terbengkalai di Jawa. Setahun kemudian beliau sudah berhasil memperoleh ijazah Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek (ijazah untuk mengejar ilmu pasti dan pendidikan di Sekolah Menengah). Belum puas dengan hasil yang sudah diperoleh itu. Beliau segera mendaftarkan diri sebagai mahasiswa ilmu pasti pada Vrije Universiteit, Amsterdam. Setelah dua tahun mengikuti kuliah di perguruan tinggi ini (1913 -1915), beliau ingin menempuh ujian. Pihak universitas tidak mengizinkannya, sebab Ia tidak memiliki ijazah HBS atau AMS, yakni ijazah Sekolah Menengah Umum tingkat Atas, Ijazah itu menjadi syarat mutlak untuk menempuh ujian di universitas.
Kegagalan itu tidak menyebabkan Sam Ratulangi patah hati, beliau menemui untuk minta nasehat Mr. Abendanon, seorang Belanda beraliran “etis” (hendak memajukan Indonesia). Atas bantuan Abendanon beliau pergi ke Zurich (Swiss) dan diterima sebagai mahasiswa di universitas di kota itu.
Waktu belajar di Negeri Belanda Sam Ratulangi masuk menjadi anggota Indise Vereniging, perhimpunan mahasiswa Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi “Perhimpunan Indonesia.” Pada tahun 1914 Sam Ratulangi dipilih menjadi pembantu tetap harian Rotterdamsche Handelsblad. Beliau bergaul akrab dengan tokoh-tokoh nasional yang waktu itu berada di negeri Belanda, antara lain Drs. Sosrokartono (kakak R.A. Kartini), Trio Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) dr. Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker (Dr. Danudirja Setiabudhi) yang waktu itu diasingkan ke negeri Belanda.
Selaku seorang anak Indonesia, Sam Ratulangi menginginkan terciptanya persatuan di antara para mahasiswa Indonesia. Dalam salah satu pidatonya menjadi ketua Indische Vereniging dibatalkannya antara lain, “Marilah kita di Holland ini bersatu untuk menghadapi kewajiban kita di Indonesia kelak, marilah kita bersatu, jika kita masing-masing nanti harus memenuhi kewajiban terhadap Tanah Air, marilah kita menganggap ini suatu tugas suci, bahwa kita mempunyai satu fikiran mengenai hari kemudian Indonesia di mana kita semua harus mengambil bagian. Perbedaan pendapat di antara kita tentunya tidak mungkin kita hindarkan, tetapi tujuan kita sama, yaitu mempertinggi derajat Indonesia, kita masing-masing menjadi pejuang untuk mencapai tujuan kita itu.
Indonesia dan rakyatnya berhak atas kemampuan kita, karena kita mendapatkan keuntungan dari saudara-saudara kita yang tinggal di Indonesia, maka rakyat Indonesia harus mendapat kenikmatan dari pengetahuan yang dapat kita kumpulkan di sini.
Ketika di Zurich (1915 – 1919) Sam Ratulangi bergerak dalam organisasi mahasiswa dan terpilih menjadi ketua Association d’ Etudiant Asiatiques, yaitu Gabungan Mahasiswa yang berasal dari negeri-negeri Asia. Mahasiswa-mahasiswa dari Asia di Zurich itu kemudian menjadi pemimpin-pemimpin di negerinya, antara lain Jawaharlal Nehru (India) dan Tojo (Jepang, Perdana Menteri waktu Perang Dunia II). Di universitas di Zurich itu Sam Ratulangi berhasil menyelesaikan studinya dengan mendapat gelar Doctor dalam ilmu pasti dan alam, dalam tahun 19?9 beliau pulang ke tanah air.

Setibanya di tanah air Sam Ratulangi bekerja sebagai guru ilmu pasti dan ilmu alam di sekolah teknik Prinses Juliana School (PJS) setingkat STM sekarang di Yogyakarta, murid-murid sekolah ini sebagian besar adalah anak-anak Belanda. Selain itu beliau juga mengajar di AMS, setingkat SMA seka­rang. Kedudukannya sebagai guru di AMS mengajar anak-anak Belanda menimbulkan pembicaraan. Wartawan Zantgraaf dari Java bode memusuhinya.
Hanya tiga tahun Dr. Sam Ratulangi bekerja sebagai guru di Yogya­karta. Masa itu merupakan masa terakhir dalam kehidupannya sebagai seorang pendidik. Sesudah itu sejarah hidupnya lebih banyak berkaitan dengan kegiatan-kegiatannya di bidang kemasyarakatan dan perjuangan nasional.
Dalam tahun 1922 Dr. Sam Ratulangi pindah ke Bandung, bersama de­ngan dr. Tumbelaka beliau mendirikan Maskapai Asuransi “Indonesia”. Pemakaian nama “Indonesia” amat menarik bagi masyarakat dan itulah untuk pertama kalinya nama “Indonesia” digunakan sebagai sebuah nama untuk menggantikan nama “Hindia Belanda”.
Di Bandung dalam tahun itu pula bersama-sama dengan Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, Ir. Cramer dan lain-lain beliau mengadakan rapat umum yang mempropagandakan tuntutan Zelf Gouvernement untuk Indo­nesia, yaitu pemerintah sendiri bagi Indonesia. Dengan demikian beliau telah terjun secara langsung ke dalam gelanggang politik.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya menarik perhatian masyarakat, terutama masyarakat daerah asalnya, yaitu Minahasa. Karena itulah dalam tahun 1923 Perserikatan Minahasa mencalonkannya untuk memangku jabatan Sekretaris Minahasa Raad (Dewan Minahasa). Sebenarnya Pemerintah Hindia Belanda keberatan mengangkat Ratulangi karena sepak terjangnya cenderung anti pemerintah, tetapi karena pencalonan itu mendapat dukungan yang luas dan masyarakat Minahasa, pemerintah terpaksa juga mengangkatnya. Dengan demikian beliau kembali ke tanah asalnya (1924) dan menetap di Manado. Tiga tahun lamanya beliau bekerja sebagai Sekretaris Minahasa Raad dan masa itu dimanfaatkannya untuk kepentingan daerah dan penduduknya.
Melalui Minahasa Raad beliau berhasil mendesak pemerintah sehingga menghapuskan kewajiban rodi (kerja paksa) di Minahasa dan membuka transmigrasi lokal di daerah Minahasa Selatan. Mendirikan Yayasan Beasiswa yang beliau ketuai dan mendapat dukungan di kalangan para dermawan, dengan itu pemuda-pemuda Minahasa yang berbakat dan kekurangan biaya sekolah akan dibantu. Selain itu didirikannya pula “Sarekat Penanam Kelapa” untuk menghapuskan sistem “ijon” dan mendirikan Rumah Gadai Pemerintah untuk menyediakan pinjaman kepada rakyat dengan bunga yang lebih rendah dari rumah gadai Cina yang sudah ada di sana.
Pada tahun 1916 dikalangan orang-orang Minahasa telah didirikan “Perserikatan Minahasa” yang beranggotakan orang-orang sipil dan militer. Dr. Sam Ratulangi terpilih duduk dalam pimpinan. Kehadirannya mendatangkan perubahan sehingga perserikatan itu cenderung kepada tindakan-tindakan politik yang radikal. Oleh karena itu anggota-anggota tentara dilarang mengikuti aliran radikal itu. Maka ”Perserikatan Minahasa” menjadi pecah Dr. Ratulangi dan dr. Tumbelaka dan kawan-kawan mendirikan “Persatuan Mi­nahasa” pada tanggal 16 Agustus 1927. ”Persatuan Minahasa” pada mulanya hanya berjuang untuk kepentingan penduduk Minahasa, tetapi kemudian bertujuan pula untuk mencapai Indone­sia Merdeka. Sesuai dengan kondisi waktu itu ”Persatuan Minahasa” berhaluan kopperasi, artinya bekerjasama dengan pemerintah. Berkat pimpinan Dr. Sam Ratulangi “Persatuan Minahasa” berkembang menjadi partai yang bersifat nasional dan kemudian menjadi anggota “Gabungan Politik Indone­sia” (GAPI) yang terkenal dengan tuntutannya “Indonesia Berparlemen”.Setelah berhenti sebagai Sekretaris Minahasa Raad Ratulangi diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili penduduk Minahasa. Dalam Dewan ini beliau sering mengucapkan pidato yang mengecam politik Pemerintah Hindia Belanda. Beliau bertemu dengan tokoh politik lainnya seperti M.H. Thamrin dan Muhammad Yamin. Beliau termasuk ke dalam kelompok “Fraksi Nasional” yang dipimpin oleh Thamrin. Sepuluh tahun lamanya beliau duduk sebagai anggota Volksraad. Sebagai pimpinan “Persatuan Minahasa” dan sebagai anggota Fraksi Nasional beliau mengajukan tuntutan agar pemerintah menghapuskan perbedaan dalam bidang politik, ekonomi dan pendidikan antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Belanda.Sementara itu perhatiannya terhadap dunia ilmu tidak berkurang. Dalam tahun 1932 beliau mensponsori pembentukan Vereniging van Indonesise Academici, VIA (Persatuan Kaum Sarjana Indonesia). Organisasi ini menghimpun para sarjana Indonesia dan menanamkan rasa kebangsaan dan kesadaran, bahwa pergerakan rakyat memerlukan pimpinan kaum terpelajarnya. VIA mengundang sarjana-sarjana Asia untuk berceramah. Dengan itu dapat dijalin hubungan akrab antara kaum sarjana Indonesia dan Asia sebagai persiapan perjuangan di kelak kemudian.Di dalam Volksraad Sam Ratulangi menonjol sekali kecakapannya dan keberaniannya, dalam mengecam pemerintah beliau selalu mengemukakan alasan-alasan yang tepat hingga sering menjadikan lawan-lawan politiknya yang mendukung politik pemerintah menjadi kelabakan. Ia mengemukakan angka-angka yang pasti dan faktor-faktor yang konkrit tentang drainerings politiek Belanda yang menghisap kekayaan rakyat Indonesia untuk meningkatkan kemakmuran bangsanya. Akibat penghisapan ini rakyat Indonesia jatuh ke jurang kemiskinan dengan hidup segobang sehari, sedangkan Belanda menjadi bangsa yang terkaya di dunia.Sam Ratulangi berseru di Volksraad, “Hapuskan perbedaan antara bang­sa Belanda dengan bangsa Indonesia. Sungguh amat banyak hal-hal yang tidak adil yang dirasakan oleh bangsa Indonesia, baik di bidang politik, eko­nomi, pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan-perbedaan itu harus segera ditiadakan.Sam Ratulangi merupakan duri dalam mata pemerintah Hindia-Belanda, untuk menyingkirkannya tidaklah mudah, maka terjadilah kelengahan Sam Ratu­langi tentang pengeluaran declaratie (ongkos jalan) sebagai anggota Volksraad yang tidak sesuai dengan peraturannya. Hal ini dijadikan soal besar dan dimajukan ke muka Pengadilan sebagai perkara kriminal (kejahatan). Pembelaan advokatnya tidak berguna, Sam dihukum penjara empat bulan di penjara Sukamiskin, Bandung. Dari segala pelosok dan berbagai pemuka-pemuka masyarakat datang permohonan grasi kepada Gubernur Jenderal Hindia-Be­landa, namun tidak mendapat perhatian. Demikianlah karena memang telah menjadi kehendak pemerintah untuk menjatuhkan Dr. Sam Ratulangi sebagai pemimpin rakyat, agar habis punah pengaruhnya, namun usaha itu tidak berhasil. Pergerakan nasional rakyat Indonsia tak dapat meninggalkan Dr. Sam Ratulangi untuk menunjukkan kecakapan dan kepemimpinannya.

Sam Ratulangi dikenal pula sebagai penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam majalah “Peninjauan” yang dipimpin oleh Dr. M. Amir. Tulisan Sam Ratulangi yang mengesankan ialah soal-soal Pasifik. Beliau adalah orang pertama yang mengemukakan soal-soal Pasifik dalam sidang Volksraad pada tanggal 14 Juni 1928. Dan beliau terkenal sebagai ahli (expert) dalam soal-soal Pasifik. Kemudian dalam tahun 1928 dan 1941 Sam Ratulangi menulis buku “Indonesia in den Pasifiek” (Indonesia dalam Pasifik) bersama MH. Thamrin dan Sutarjo Kartohadikusumo, rekan-rekannya dalam Volksraad, beliau menulis buku “De Pasifiek”. Buku tersebut berisi uraian tentang negara-negara yang terletak di sekitar Lautan Pasifik dan mengenai hari depan negara-negara tersebut.
Antara tahun 1938 sampai tahun 1942 Ratulangi menerbitkan dan memimpin majalah mingguan politik Nationale Commentaren. Dalam majalah ini beliau membahas masalah-masalah politik dalam dan luar negeri dengan berpedoman pada kepentingan rakyat Indonesia. Majalah ini pulalah yang mempopulerkan gagasan “Indonesia Berparlemen” yang diperjuangkan oleh GAPI. Majalah ini dicetak terbatas jumlahnya namun pembacanya adalah kaum terpelajar, kaum pemimpin dan mau tidak mau harus diperhatikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Di zaman Jepang majalah ini dilarang terbit seperti lain-lain surat kabar.
Pada masa awal pendudukan Jepang, rasa kemanusiaan Dr. Sam Ratu­langi tergugah melihat penderitaan yang dialami oleh orang-orang Belanda dan anggota-anggota KNIL. Di antara anggota KNIL itu banyak yang berasal dari Minahasa. Bersama dengan Wolter Saerang, Sam mendirikan “Badan Penolong Korban Perang Sulawesi”. Bersama dengan isterinya beliau giat mengumpulkan pakaian dan makanan untuk membantu anggota-anggota KNIL ter­sebut. Usaha itu dilakukannya dengan izin Pemerintah Pendudukan Jepang. “Badan Penolong Korban Perang Sulawesi” itulah yang kemudian berkembang menjadi “Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi” (KRIS) yang terkenal gigih di masa revolusi fisik mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
Pada mulanya Ratulangi bersikap dingin terhadap Jepang, pada tahun 1943 beliau diminta untuk menjadi penasehat Pemerintah Pendudukan Jepang, tetapi beliau menolak. Pada tahun 1944 beliau tak dapat lagi menghindarkan diri. Pada waktu itu beliau diangkat menjadi penasehat Angkatan Laut Jepang dan berkedudukan di Ujungpandang, kekuasaan Angkatan Laut Jepang meliputi wilayah Indonesia bagian Timur.
Dalam kedudukan ini beliau berusaha mengembleng semangat rakyat untuk mencapai kemerdekaan. Untuk itu beliau mendirikan organisasi yang diberi nama ”Sumber Darah Rakyat” (Saudara) Pemerintah Jepang yang tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari organisasi itu membiarkannya berdri dan bahkan merestuinya. Melalui organisasi Saudara itu, Sam Ratulangi memberikan penerangan kepada rakyat tentang kedudukan Jepang yang sudah semakin terancam dan tentang kemungkinan adanya serangan balasan dari Sekutu. Beliau juga meyakinkan rakyat, bahwa kemerdekaan bangsa dan tanah air pasti akan tiba.
Sementara itu situasi berkembang dengan cepat, di Jakarta terbentuk ”Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia” sebagai langkah lanjut dari janji kemerdekaan yang diberikan Jepang. Badan ini kemudian dibubarkan dan diganti dengan badan baru yang bernama ”Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (PPKI).
Pada Awal Agustus 1945 Dr. Sam Ratulangi berangkat ke Jakarta memimpin delegasi Sulawesi yang akan mengikuti sidang PPKI. Selain Ratulangi dalam delegasi itu duduk pula Andi Sultan Daeng Raja dan Andi Pangeran Daeng Parani.

Tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu dan tiga hari kemudian bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Negara Republik Indonesia berdiri Dr. Sam Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi. Sebagai Gubernur beliau berkedudukan di Ujungpandang. Pada tanggal 19 Agustus 1945 beliau sudah tiba di kota itu. Di depan para pemuda dan tokoh-tokoh masyarakat beliau membacakan kembali naskah ”Proklamasi Ke­merdekaan”. Sesudah itu mulailah beliau bekerja keras untuk menjalankan roda pemerintahan di seluruh Sulawesi, dalam tugas ini beliau harus berhadapan de­ngan pasukan Belanda yang masuk membonceng pasukan Sekutu. Pasukan sekutu mendarat di Ujungpandang pada awal September 1945.
Ketegangan segera terjadi antara pihak pemuda Indonesia dengan pa­sukan Belanda. Pertempuran terjadi di beberapa tempat, Ratulangi berusaha menggalang kekuatan rakyat. Beliau membentuk sebuah badan yang bernama ”Pusat Keselamatan Rakyat” yang langsung berada di bawah pimpinannya.
Pada waktu Jepang menyerah mereka diperintahkan oleh Sekutu agar menyerahkan bekas jajahannya kepada Sekutu dan selanjutnya Sekutu akan menyerahkan kepada pemerintah yang berkuasa sebelum pecahnya Perang Dunia II yaitu Belanda. Ratulangi tidak dapat menerima keputusan itu. la mengajukan petisi kepada ”Perserikatan Bangsa-Bangsa” (PBB) agar Sula­wesi tidak dipisahkan dari Republik Indonesia.
Sementara itu bentrokan dengan Belanda semakin meluas, di Sulawesi Utara terjadi perebutan kekuasaan terhadap aparat NICA yang dikenal de­ngan nama ”Peristiwa 14 Pebruari 1946 di Menado”, sedangkan di Sulawesi Selatan perlawanan dilakukan oleh para pemuda pejuang antara lain oleh Robert Wolter Monginsidi bersama tokoh-tokoh pejuang lainnya.
Bagi Belanda tak ada jalan lain kecuali menangkap Dr. Sam Ratulangi, dengan demikian diharapkan perlawanan rakyat akan terhenti. Malam hari tanggal 5 April 1946 Ratulangi dan beberapa orang anggota stafnya ditangkap di rumah mereka masing-masing. Tiga bulan lamanya beliau dipenjarakan di Ujungpandang dan kemudian dibuang ke Serui, Irian Jaya.
Di tempat pembuangan ini semangat Ratulangi tidak patah, beliau berusaha menanamkan benih kemerdekaan di kalangan penduduk setempat. Dalam tahun 1947 beliau mendirikan ”Partai Kemerdekaan Irian”, Silas Papare diangkat menjadi ketua partai ini. Selain itu didirikan pula sebuah organisasi, yakni ”Ibunda Irian”. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup wanita-wanita Irian. Ratulangi dibebaskan dari tahanan setelah tercapai ”Perjanjian Renville” (Januari 1948) antara Indonesia dan Belanda, beliau datang ke Yogyakarta dan sesudah itu diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, selain itu juga ditunjuk sebagai anggota delegasi Indonesia dalam perundingan-perundingan dengan pihak Belanda.
Dengan keras beliau menentang politik Belanda yang ingin memisahkan Indonesia bagian Timur dari Republik Indonesia. Bersama-sama dengan Mr. I Gusti Ktut Puja, Ir. Pangeran Mohammad Noor, dr. T.S.T. Diapari, W.S.T. Pondang dan Sukarjo Wiryopranoto beliau mengeluarkan sebuah pernyataan yang disiarkan oleh RRI Yogyakarta tanggal 10 November 1948. Pernyataan itu terkenal dengan nama ”Manifes Ratulangi”. Isi pokok manifes itu ialah seruan kepada pemimpin-pemimpin Indonesia bagian timur agar menen­tang setiap usaha yang bertujuan untuk memisahkan Indonesia bagian Timur dari Republik Indonesia.

Pada bulan Desember 1948 Ratulangi ditunjuk oleh Pemerintah untuk memimpin Misi Persahabatan ke Filipina, pesawat terbang yang akan membawa rombongan itu sudah disewa, tetapi keberangkatannya tidak dapat dilakukan, sebab keburu Belanda melancarkan Agresi Militer II. Ratulangi masih berada di Yogyakarta dan pada tanggal 12 Januari 1949 beliau dibawa ke Jakarta dan selanjutnya akan dibawa ke Bangka, tempat Wakil Presiden dan beberapa pejabat negara RI lainnya ditahan Belanda. Sementara itu kesehatan Ratulangi sudah memburuk oleh karenanya beliau tidak jadi diberangkatkan ke Bangka.
Dalam status sebagai seorang tahanan musuh (Belanda) itulah Dr. Sam Ratulangi meninggal dunia pada pagj hari tanggal 30 Januari 1949. Malam hari sebelumnya beliau masih berunding dengan Wolter Saerang membahas rencana untuk menerbitkan majalah ”Komentar Nasional” sebagai lanjutan dari majalah Nationale Commentaren yang pernah diterbitkannya dulu.
Jenazah almarhum dimakamkan di Pemakaman Tanah Abang, kernudian dipindahkan ke Tondano ke tengah-tengah makam keluarganya. Nama Dr. Sam Ratulangi diabadikan sebagai nama universitas di Manado. Pemerintah RI menghargai jasa-jasa dan pengabdian Sam Ratulangi terhadap bangsa dan tanah aimya. Untuk jasa-jasa itu ia mendapat penghargaan berupa Bintang Gerilya, Bintang Mahaputra dan Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan. Berdasarkan SK Presiden RI No.590 tahun 1961 tanggal 5 November 1961 Pemerintah RI menganugerahkan Dr. G.S.S. Ratulangi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.