Si Singamangaradja XII

 

Si Singamangaraja XII

Sesudah Perang Padri di Sumatera Barat berakhir tahun 1837, kekuasaan Belanda mulai merayap ke bagian utara. Sekitar pertengahan abad ke-19 ke­kuasaan Belanda mulai tertanam di bagian selatan Tanah Batak. Sejalan dengan terjadinya Perang Aceh yang meletus tahun 1873 bagian utara Tanah Batak pun sedikit demi sedikit mulai pula diduduki Belanda. Pada tahun 1883 Belanda menempatkan seorang kontrolir di Balige, Sesudah itu menyusul di Tarutung, Sipoholan dan tempat-tempat lain. Di daerah Sumatera Timur, Be­landa membuka perkebunan.
Keadaan itu merupakan ancaman terhadap kedaulatan dan kekuasaan raja Tanah Batak yang berpusat di Bakkara, Tapanuli Utara. Yang menjadi raja pada waktu itu ialah Si Singamangaraja XII, beliau dilahirkan pada tahun 1849.
Seperti raja-raja sebelumnya, Si Singamangaraja XII adalah juga kepala adat dan sekaligus menjadi pemimpin agama yang disebut ”Parmalim”, beliau dianggap memiliki kekebalan dan kesaktian dan sangat dihormati oleh rakyatnya.
Semakin lama kekuasaan Belanda semakin menyusup ke bagian pedalaman Tanah Batak. Karena itu Si Singamangaraja XII mengadakan persiapan untuk mencegah tumbuhnya kekuasaan bangsa asing di wilayah kekuasaannya. Persiapan yang diadakannya antara lain ialah menjalin kerjasama dengan beberapa orang panglima perang dari Aceh dan dari Sumatera Barat. Mereka sepakat untuk bekerjasama melawan Belanda. Tercatat nama-nama panglima Aceh seperti Teuku Muhamad dan Teuku Sagala, sedangkan dari Sumatera Barat datang pasukan yang dipimpin oleh Panglima Nali.
Awal Februari 1878 Belanda mengirim pasukan ke pedalaman Silindung untuk memperkuat pasukan yang sudah dikirim sebulan sebelumnya. Pasukan ini membangun posnya di Pea Raja dan di Sipoholon. Dari tempat akhir ini mereka bergerak dan berhasil menduduki Bahal Batu. Ketika Si Singamangaraja XII menerima laporan bahwa Belanda menduduki Bahal Batu, kemarahan raja Tanah Batak ini sudah sampai di puncak, beliau segera berangkat ke Balige untuk menyusun kekuatan. Tanggal 17 Februari 1878 Si Singama­ngaraja XII memaklumkan perang terhadap Belanda dan dua hari kemudian beliau menggerakkan pasukannya menyerang Bahal Batu. Pertempuran berlangsung sengit, tetapi karena persenjataan yang tidak seimbang, Si Singamangaraja XII terpaksa rnenarik mundur pasukannya.

Sesudah mengalami kegagalan di Banal Batu, Si Singamangaraja XII mengobarkan perlawanan di tempat-tempat lain seperti di Butar, Lobu Siregar, Balige dan Lagu Boti. Pada tanggal 1 April beliau memimpin serangan kembali ke Bahal Batu, tetapi sekali lagi beliau mengalami kegagalan. Sebaliknya Belanda bersiap-siap untuk menyerang Bakkara, dalam bulan April itu juga serangan dilancarkan. Pasukan Si Singamangaraja XII bertahan di tembok-tembok benteng yang sulit ditembus oleh pasukan Belanda. Pertempuran berlangsung sengit, beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka, tetapi Belanda berhasil mendatangkan bantuan yang besar. Akhirnya Bakkara tak dapat dipertahankan oleh Si Singamangaraja XII, pusat pemerintahan raja Tanah Batak itu dibakar oleh Belanda.
Sesudah Bakkara jatuh, Si Singamangaraja XII memindahkan markasnya ke Peranginan, beliau memerintahkan pasukannya menyerang pos-pos pasu­kan Belanda dan mencegat patroli-patroli yang bergerak dalam kesatuan-kesatuan kecil. Menghadapi serangan yang demikian Belanda cukup kewalahan, banyak korban jatuh di pihak mereka.
Si Singamangaraja XII mengirim utusan ke berbagai tempat untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada rakyat agar mereka mengangkat senjata melawan Belanda, beliau-pun mengeluarkan pengumuman, bahwa kepada siapa saja yang berhasil menyerahkan kepala kontrolir Belanda akan diberi hadiah uang 300 mat (ringgit).
Pada tanggal 18 Mei 1883 pasukan Si Singamangaraja XII menyerang Uluan yang sudah diduduki Belanda. Serangan itu gagal, sebab Belanda segera mendapat bantuan dari Sipoholon.
Si Singamangaraja XII mengubah siasat, beliau bergerak dari barat menuju Humbang dan Balige. Menurut rencana, pada waktu yang bersamaan akan tiba pula pasukan Aceh di bawah pimpinan Teuku Muhamad yang bergerak dari arah timur. Kedua pasukan itu akan bertemu dan bergabung di Porsea untuk kemudian menyerang Laguboti, penduduk setempat pun sudah bersiap-siap untuk memberikan bantuan, tetapi rencana itu dapat diketahui Belanda ka­rena pengkhianatan seorang kepala kampung. Letnan Spandouw dengan cepat menggerakkan pasukannya menyerang pertahanan Si Singamangaraja XII
di Lumban Gorat. Dalam keadaan yang demikian, pasukan Teuku Muhamad belum muncul, Si Singamangaraja XII terpaksa menghadapi serangan Belanda yang datang secara tiba-tiba itu, dalam pertempuran ini beliau mengalami cidera. Bahunya kena tembak pada waktu beliau sedang berada di atas punggung kuda mengobarkan semangat anak buahnya, pasukan terpaksa mengundurkan diri untuk menyelamatkan raja mereka.
Rencana Si Singamangaraja XII untuk merebut Laguboti merupakan sesuatu yang di luar dugaan Belanda, mereka mengira bahwa kekuatan Si Singa­mangaraja XII sudah lemah, apalagi Belanda sudah berhasil memperkuat pasukannya di Sipoholon dengan pasukan cadangan.
Beberapa bulan lamanya tidak terjadi pertempuran, tetapi tiba-tiba dalam tahun 1884 pasukan Si Singamangaraja XII dengan kekuatan yang besar berhasil menghajar pasukan Belanda di Tanggabatu, tempat itu dapat me­reka kuasai.
Belanda meningkatkan kesiap-siagaannya, bala bantuan didatangkan dari daerah-daerah lain terhadap penduduk mereka bertindak kejam. Orang-orang yang dicurigai membantu Si Singamangaraja XII ditangkap dan dibunuh, Laguboti dan Tarutung dijadikan basis pasukan Belanda untuk mengepung dan mempersempit ruang gerak Si Singamangaraja XII. Dalam suatu serangan, markas besar Si Singamangaraja XII di Bakkara dihancurkan Belan­da, tetapi hal itu tidak mempengaruhi raja Batak ini, dengan cara gerilya beliau menggerakkan pasukannya untuk menyerang pos-pos kedudukan Belanda.

Si Singamangaraja XII memindahkan markas besarnya ke Lintong, beliau sendiri berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengobarkan semangat tempur pasukannya, namun gerak-geriknya selalu diawasi Belanda, mereka memaksa rakyat untuk menunjukkan tempat persembunyian Si Singamangaraja XII, tetapi tidak membawa hasil. Usaha Belanda untuk menangkap raja Batak itu menemui jalan buntu, akhirnya Belanda mengumumkan akan memberi hadiah uang sebesar 2.000 gulden kepada siapa saja yang berhasil menangkap Si Singamangaraja XII hidup atau mati, ternyata rakyat tidak mau mengkhianati rajanya.
Dari Lintong Si Singamangaraja XII memindahkan markasnya ke Pearaja, pasukan yang sudah tersebar di berbagai tempat dikumpulkannya kembali, sementara itu Belanda mulai pula meningkatkan kegiatannya. Di tempat-tempat yang sudah diduduki, Belanda menjalankan pemerintahan sipil, ta­hun 1890 di Tarutung ditempatkan seorang asisten residen. Di Toba dan Silindung dibentuk sebuah onder afdeling (distrik kecil), dengan jalan itu Belanda berusaha semakin mempersempit ruang gerak Si Singamangaraja XII, Raja Batak ini tidak tinggal diam. Pada tahun 1894 beliau dan pasukannya berhasil menyeberang ke Pulau Samosir. Serangan terhadap kedudukan Belanda pun dilancarkan, antara lain di Si Torang. Dalam pertempuran ini, Somalang, pembantu terdekat Si Singamangaraja XII, tertawan. Beliau dibuang ke Banyuwangi. Somalang adalah salah seorang pimpinan tokoh agama Parmalim, sehingga kehilangannya dari tengah-tengah rakyat merupakan kehilangan yang besar.
Belanda selalu mengikuti gerak-gerik Si Singamangaraja XII dan berusaha menekan raja Batak ini, tekanan itu terasa semakin berat setelah Perang Aceh dianggap selesai dengan menyerahnya Sultan Aceh pada tahun 1903. Sebagian besar pasukan Belanda ditarik ke Tapanuli untuk mengakhiri perlawanan Si Singamangaraja XII.
Letnan Kolonel van Daalen yang terkenal kejam dalam Perang Aceh diperintahkan memberikan pukulan terakhir kepada Si Singamangaraja XII, beliau tiba di tanah Batak pada tanggal 10 Juli 1904 setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, melewati tanah Gayo dan menerobos ke Alas, terus masuk daerah Pakpak.
Kepungan terhadap kedudukan Si Singamangaraja XII semakin diperketat, namun selama tiga tahun berikutnya beliau masih mampu bertahan meskipun hanya bergerak di daerah yang cukup terbatas yakni Sidikalang, Perbuluan, Pearaja dan Dairi. Pada bulan Oktober 1904 pasukan van Daalen diperkuat dengan pasukan Collijn yang didatangkan dari Medan. Dalam salah satu pertempuran, pasukan Collijn berhasil menangkap Pangkilan, salah seorang putera Si Singamangaraja XII.
Walaupun pasukan Belanda sudah diperkuat, namun mereka belum juga berhasil mematahkan perlawanan Si Singamangaraja XII. Raja Batak ini masih dapat bergerak dan mengancam kedudukan pasukan Belanda di tempat-tempat yang agak terpencil. Karena itu Belanda menambah lagi pasukannya dengan mendatangkan pasukan marsose yang terkenal kejam dalam Perang Aceh. Tindakan lainnya ialah menutup pelabuhan Barus untuk mencegah datangnya bala bantuan dari Aceh. Jalan darat Gayo-Alas-Tanah Batak ditutup pula, dengan demikian Belanda menutup kemungkinan datangnya bantuan untuk Si Singamangaraja XII dari Aceh. Selain itu Belanda juga membakari kampung-kampung dan memaksa penduduk yang dicurigai membayar denda yang tinggi.
Kedudukan Si Singamangaraja XII semakin sulit, beliau hanya dapat berge­rak di daerah yang sempit dan medan yang sulit. Kekuatan pasukan semakin lama semakin berkurang, beliau tidak dapat dengan segera mengganti anak buahnya yang gugur atau luka-luka, sedangkan Belanda berhasil mendatangkan pasukan yang masih segar. Namun dalam keadaan yang demikian sulitnya, beliau tetap tidak bersedia menyerah.

Untuk lebih memperkuat pasukannya, belanda mendatangkan Kapten Christoffel, seorang perwira yang sudah berpengalaman dalam Perang Aceh. Christoffel membawa pasukan marsose yang cukup tangguh dan sudah terlatih dalam perang rimba.
Belanda mulai melancarkan operasi besar-besaran, mereka terus berusaha mencari tempat kediaman Si Singamangaraja XII. Raja Batak ini terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam daerah segitiga Pak-pak-Dairi-Sidikalang, daerah itu sesungguhnya sudah terkurung rapat, Si Singamangaraja XII bergerak dari kampung ke kampung diikuti oleh keluarganya, sehingga tidak sulit lagi bagi Belanda untuk mengikuti jejaknya.
Pada suatu hari Christoffel mendapat petunjuk bahwa Si Singamangara­ja XII dan keluarganya bergerak ke kampung Sionom. Pengejaran segera dilakukan, namun Si Singamangaraja XII berhasil menghilangkan jejak dengan cara menyeberangi sungai Aek Simongo. Christoffel kehilangan jejak, beliau memaksa penduduk untuk menunjukkan tempat lari Si Singamangaraja XII, namun tidak berhasil.
Sementara itu Si Singamangaraja XII masih berusaha mengadakan perlawanan, pasukan Sunggu Asi diperintahkannya menyerang pasukan Belanda di Lae Renungan, namun suatu kekeliruan telah diperbuat oleh pasukan ini. Seorang anak buah Sunggu Asi menyalakan api di malam hari, sehingga terlihat oleh Belanda, pasukan Sunggu Asi dikepung dan diberondong dengan senapan, Sunggu Asi bersama seluruh anak buahnya tewas dalam serangan ini.
Setelah menyeberangi sungai Aek Simongo. Si Singamangaraja XII pindah ke Pencinoran. Tetapi tempat itu sudah diketahui oleh Christoffel. Pada tanggal 12 Juni 1907 anak buah Christoffel berhasil menyergap ibu. isteri pertama dan seorang anak Si Singamangaraja XII.
Si Singamangaraja XII berhasil meloloskan diri, beliau meneruskan perjalanan ke hutan di daerah Simsim. Christoffel memaksa penduduk agar menun­jukkan tempat persembunyian Si Singamangaraja XII. Karena diancam akan ditembak, penduduk tersebut terpaksa menunjukkannya, tempat tinggal Si Singamangaraja XII diserbu. Pertempuran terjadi antara dua kekuatan yang tidak seimbang. Pasukan Si Singamangaraja XII yang hanya tinggal beberapa orang terpaksa menghadapi pasukan Belanda yang berjumlah banyak dengan persenjataan yang lengkap, namun pertempuran terjadi dengan sengit, pa­sukan Si Singamangaraja XII bertahan sekuat tenaga.
Pada waktu pertempuran sedang berlangsung, Lopian, seorang puteri Si Singamangaraja XII terkena tembakan dan gugur seketika. Mayat yang berlumuran darah itu diambil oleh Si Singamangaraja XII untuk dipindahkan ke tempat lain. Darah yang mengucur dari badan Lopian mengenai tubuh Si Singamangaraja XII. Menurut kepercayaan suku Batak, dengan terkena darah itu maka kekebalan dan kesaktian Si Singamangaraja XII menjadi hilang. Beliau memindahkan puterinya di bawah hujan peluru dengan didampingi oleh dua orang puteranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi.
Pasukan Christoffel terus melakukan pengejaran, Si Singamangaraja XII tidak sempat beristirahat dan menyusun kekuatan untuk menghadapi musuh yang mengejarnya. Dalam perjalanan terakhir beliau hanya ditemani oleh beberapa orang pengikut dan putera-puteranya, senjata yang masih dimiliki hanya sebilah rencong.

Pukul 14.00 tanggal 17 Januari 1907 Si Singamangaraja XII tiba di sebuah tempat yang agak terlindung oleh pohon-pohon, beliau ingin melepaskan lelah setelah hampir satu hari dikejar musuh, tetapi tempat itu sudah dikepung secara ketat dari tiga jurusan. Sementara itu suara tembakan terdengar semakin dekat, dua orang putera Si Singamangaraja XII tewas akibat tem­bakan tersebut.
Anak buah Christoffel semakin mendekat dan mulai menyerbu ke tem­pat Si Singamangaraja XII bertahan, Si Singamangaraja XII bangkit dan menghunus rencongnya. Seorang serdadu Belanda memerintahkan agar rencong itu dilemparkan ke tanah. Christoffel melarang anak buahnya menembak Si Singamangaraja XII, ia ingin menangkap Si Singamangaraja XII hidup-hidup. Christoffel berteriak agar Si Singamangaraja XII menyerah, tetapi raja Tanah Batak ini tidak lagi memperdulikan teriakan-teriakan dan tembakan-tembakan yang diarahkan kepadanya. Secepat kilat beliau menusukkan rencongnya kepada seorang serdadu Belanda yang mencoba mendekatinya sambil berkata. ”Ahu Si Singamangaraja” (Aku Si Singamangaraja). Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan raja Tanah Batak ini, sebelum rencong itu menemui sasarannya, beberapa butir peluru telah mengenai badannya, Si Singamangara­ja XII gugur. Dengan gugurnya Si Singamangaraja XII berakhir pulalah perang yang sudah berlangsung selama hampir tiga puluh tahun di Tanah Batak. Perjuangan Si Singamangaraja XII mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya tercatat dalam sejarah Indonesia. Pemerintah RI menghargai jasa-jasa yang telah diberikannya untuk kemerdekaan tanah air. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. S90 Tahun 1961 tanggal 9 November 1961, Si Singamangaraja XII dinugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.